Ray “Nineball” Turut Berhijrah, Mengapa?

Jakarta, (gomuslim). Cahaya hidayah yang masuk ke hati manusia merupakan hak prerogatif Allah. Cahaya ini ibarat matahari yang membagi rata sinarnya, hanya saja manusialah yang menutup pintu hati dari cahaya itu. Namun jika Allah sudah berkehendak melembutkan hati hamba-Nya maka tidak satupun makhluk yang mampu menahan kehendak tersebut.

Terkait dengan hidayah, tidak ada satu pun makhluk Allah yang mengetahui kapan dan terhadap siapa hidayah itu diberikan. Maka dari itu, boleh jadi orang yang saat ini terlihat brutal dan bergelimang dosa suatu saat mendapat petunjuk dari Allah sehingga ia bertaubat dan Allah membukakan pintu taubat baginya.

Hati manusia mungkin saja berubah-ubah, sampai ketika Allah telah menghendaki hamba-Nya untuk kembali ke jalan agama yang diridai. Demikian pula halnya para musisi Tanah Air yang telah menyesali kesalahan di masa silam, mereka kini menyadari betapa besar dosa yang telah dilakukan ketika mata hati tertutup oleh nikmat dunia yang semu.

Kali ini, Ray Shareza seorang vokalis dari Group Band Nineball, terlihat berubah dari aspek penampilan luar. Namun perubahan yang dilakukannya tidak terlepas dari pengalaman spiritual yang erat hubungannya dengan hidayah Allah yang masuk ke dalam hatinya pada bulan suci Ramadhan.

Pelantun lagu Hingga Akhir Waktu ini, mengawali karir musik di group band Nineball yang resmi berdiri pada tanggal 9 September 2000. Nineball memulai kariernya dari menyanyi di kafe dan event-event, lagu Nineball yang menjadi hits adalah lagu yang berjudul Hingga Akhir Waktu yang di putar pertama kali di stasiun televisi Indonesia pada 2008.

jkgfkih

Ray mengaku bahwa ketika kuliah di Jakarta, kehidupannya seperti kembali lagi ke zaman jahiliyah. Padahal menurutnya, ketika masih duduk di bangku SMA ia sering menghadiri Tablig Akbar. Namun karena hidayah belum lekat di hatinya, godaan untuk terjun ke kehidupan yang gemerlap pun mudah ia lakukan. “Pas kelas 1 SMA tahun 1996 saya sering duduk dalam satu majelis Tablig Akbar, ini tausiahnya enak, kok nyaman, tapi itu hanya berlangsung 3 tahun kemudian lulus SMA saya kuliah di Jakarta tertarik lagi pada kehidupan jahiliyah kurang lebih 6 tahun,” ujarnya.

Ray mengaku bahwa ia tidak menduga dapat berubah seperti sekarang ini, hatinya mulai terketuk dan terbuka ketika melakukan iktikaf pada bulan suci Ramadhan di masjid yang berada di dalam pesantren Darut Tauhid, Bandung. “Kok Allah kasih saya hidayah padahal saya bukan orang baik, oh mungkin ini doa ibu saya. Saya yakin diantara doanya ia mendoakan saya,” cerita Ray.

Menurutnya, doa ibunya dikabulkan Allah sehingga hatinya terbuka menerima hidayah. Ia pun menyadari bahwa kalau hanya untuk mengerti ilmu agama tanpa dibukakan pintu hidayah maka itu tidak akan membekas pada perilaku kita. Bagi Ray, peran seorang ibu dalam pertumbuhan fisik anaknya sangatlah penting, namun pada sisi lain seorang ibu berharap agar anaknya menjadi baik di hadapan Allah, di sinilah ia menyadari bahwa perubahan besar yang dialaminya saat ini tidak terlepas dari seorang wanita yang telah melahirkannya.

Keseharian Ray saat ini, lebih banyak diisi dengan berdakwah, namun sejak mengikuti Jemaah Tablig, vokalis ini berpendapat bahwa dakwah yang baik itu adalah dakwah untuk memperbaiki diri. “Saya lebih senang dakwah islahiyah, maksudnya dakwah untuk memperbaiki diri sendiri, bukan ceramah sembarangan menggurui orang tetapi saya ceramah tentang kebesaran Allah dan perjuangan Rasulullah dan para sahabat, itu otomatis membuat saya ingin melakukan hal itu (meniru Rasulullah SAW dan para sahabatnya),” ungkap Ray.

Pada awal hijrahnya, Ray yang hendak khuruj (keluar rumah untuk berdakwah), harus dihadapkan dengan persoalan dilematis. Saat itu sang isteri sedang hamil tua dan mendekati persalinan. Ray sempat bimbang untuk mengambil keputusan apakah ia harus ikut berdakwah bersama jemaah atau menemani persalinan istrinya di rumah sakit? Dihadapkan dengan persoalan yang dilematis ini, maka ia pun akhirnya mantab mengambil keputusan untuk tetap berdakwah.

Saat hendak menyampaikan keinginannya untuk khuruj, tanpa ia duga sang istri pun merestui namun ia menginginkan agar Ray menemaninya ketika berlangsungnya proses persalinan. “Saya ingat kata ustadz saya bahwa amal baik kamu buat, maka keputusan baik turun dari langit, amal buruk kamu buat maka keputusan buruk turun dari langit. Ketika Rasulullah isra’ beliau melihat cahaya dari bumi naik ke langit kemudian dijelaskan oleh malaikat bahwa itu adalah amal baik seseorang,” ungkap Ray.

Dengan kalimat-kalimat tersebutlah, akhirnya Ray yakin bahwa akan ada pertolongan dari Allah jika kita berbuat baik (amal saleh) karena Allah. Tatkala istrinya hendak melahirkan, tiba-tiba Ray diberi kemudahan untuk dapat menemani istrinya selama proses persalinan berlangsung. “Saat itu saya lagi khuruj, kemudian dapat telepon, istri saya mau melahirkan. Nah saya bilang sama amir (pemimpin)  jamaah, akhirnya dia ngizinkan dan saya bisa nemenin istri, inilah pertolongan Allah menurut saya,” cerita Ray.

Meskipun Ray telah melakukan hijrah, namun ia tidak meninggalkan profesi lamanya. Sampai sekarang masih tetap menjalani pekerjaan sebagai musisi dan itu pun dijadikannya sebagai ladang dakwah, "Pernah dong kepikiran. Waktu itu, aku lagi senang-senangnya belajar agama, terus terpikir untuk kayaknya saya berhenti deh dari dunia entertain. Cuma waktu itu banyak masukan, terutama dari guru-guru, dari ustadz-ustadz juga. Mereka bilang seandainya saya berhenti dari dunia entertain, terus siapa yang akan berusaha mengingatkan teman-teman lain yang ada di dunia entertain?," pungkasnya.

JHFTGKI

Dalam dunia bermusik, Ray terlibat dalam group vokal Madina yang sering membawakan lagu-lagu religi. Para personel group ini terdiri dari 3 orang yakni, Derry Sulaiman, Sunu mantan vokalis Matta Band dan Ray Nineball. Hal unik yang perlu diketahui adalah, ketiga personel ini dulunya hampir memiliki latar belakang pengalaman spiritual yang sama. Ketiganya pun merupakan musisi, yang pernah eksis di Tanah Air. (fh)


Back to Top