Irvan Sembiring: Dapat Hidayah Usai Dengar Nama Nabi Muhammad SAW

“Barangkali maksiatlah yang mengantarkanmu kepada ketaatan” demikianlah kutipan kalimat dari kitab Alhikam yang ditulis oleh Ibnu Athaillah As Sakandari. Kalimat yang ditulisnya tidak dapat dipahami secara tekstual, karena maksudnya adalah setiap orang pasti telah berbuat durhaka pada Allah maka dari situlah ia akan bertobat. Karena boleh jadi manusia akan menjadi sombong jika tidak pernah bersalah. Ungkapan yang ditulisnya itu tampaknya selaras dengan perubahan yang dialami oleh rocker yang telah bertobat ini.

Bagi peminat musik cadas pasti mengenal group band trash metal, Rotor. Band ini merupakan perintis musik cadas, seperti namanya, Rotor yang merupakan baling-baling dari mesin bersuara bising maka demikianlah dentuman dari  aliran musik yang dibawakan Rotor. Namun siapa sangka sosok gondrong dan urakan di balik berdirinya Rotor, kini telah berbalik 180 derajat dari kehidupan yang terlihat saat itu.

oiyo

Sosok tersebut bernama Irvan Sembiring, ia merupakan pendiri Rotor band metal legendaris di kancah musik keras Tanah Air. Selepas keluar dari Sucker Head pada 1988, Irvan mendirikan Rotor pada 1992. Untuk musik bergenre seperti ini, Rotor termasuk band papan atas di Indonesia, "Kami dulu raja dirajanya metal, orang pasti mengenal Rotor, paling enggak tahu namalah," ungkapnya.

Namun kejayaan bermusik yang pernah diraihnya hanya sekadar numpang singgah saja, tidak terus melekat selama-lamanya. Meskipun pernah berambisi untuk dapat bersaing di kancah internasional namun  ternyata hal itu menggiringnya ke pintu kesadaran akan makna hidup di dunia.

Berawal dari band pembuka konser Metalica pada 1993, Irvan bersama dua orang temannya, Judapran dan Jodie, berangkat ke Amerika. Mereka mengadu nasib di negeri Paman Sam agar dapat menjadi seperti Sepultura Band asal Brazil yang telah sukses di kancah Internasional. Lagu-lagu Sepultara pun sering dibawakan Rotor saat manggung, namun ternyata impian Irvan dan kedua temannya harus kandas begitu saja, karena ketatnya persaingan yang ada di sana dan mereka tidak dapat menembusnya.

Segala upaya dicoba terus oleh tiga orang anak metal Indonesia ini, namun tetap saja mereka tidak dapat berhasil menaklukkan belantika musik Amerika. Akhirnya kegiatan mereka di sana hanya keluyuran dari club malam satu ke club malam yang lain termasuk hang out di club Rainbow Amerika tempat berkumpulnya bintang film porno.

Karena tidak mendapat ruang manggung di Amerika akhirnya kondisi keuangan mereka pun makin menipis. Maka untuk bertahan hidup di negeri Paman Sam, mereka mencari kehidupan dengan caranya masing-masing. Jodie ke San Fransisco dan Judha ke Alabama bekerja di pengolahan ayam, sedangkan irfan hanya menetap di Los Angles dan tak lama setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke Tanah Air.

Sepulangnya dari Amerika, mereka bertiga pecah dan mendirikan band masing-masing, Jodie membentuk band Getah, sedangkan Judhapran meninggal dunia akibat over dosis narkoba adapun Irfan mendirikan label Rotorcorp bersma Krisna Sadrach dari band Sucker Head. Namun tak lama setelah kematian Judhapran pada 1998 Jodie yang pernah menikahi Ayu Azhari pun meninggal dunia akibat over dosis.

oytgo

Kegagalan serta kehidupan urakan yang dialami oleh Irvan rupanya Allah kehendaki cahaya hidayah masuk ke hatinya pria berdarah Batak ini, tanpa disengaja ia memperhatikan gaya hidup dan kehidupan artis ternama, "Gue perhatiin waktu di Amerika, kehidupan musisi sukses nggak enak, terutama matinya nggak ada yang enak. Gue terus mencari-cari, jalan hidup yang paling sukses jadi apa," ujarnya. 

Memasuki tahap pencarian tujuan hidup pada 1997, tibalah ia di toko buku di wilayah Jakarta. Saat itu ia langsung tertuju pada buku berjudul "The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History" yang ditulis oleh Michael H. Hart. Membuka isi buku itu ia pun heran karena tertulis nama Nabi Muhammad SAW sebagai orang nomor 1 yang memiliki pengaruh di dunia. Dari sinilah ia terus mencari apa dan bagaimana hal itu dapat terjadi.

Penasaran dengan sosok Nabi Muhammad SAW, akhirnya mengantarkan Irvan untuk mencari bagaiamana kiprah dan kepribadian manusia kekasih Allah tersebut. Pada tahun 1998 ia memutuskan untuk mencari ustadz yang dapat menjelaskan tentang perkara tersebut, sampai akhirnya setelah malang melintang dari masjid ke masjid  dan mengikuti beberapa pengajian, pria kelahiran Surabaya, 2 Maret 1970 ini akhirnya bertekad meninggalkan hingar bingar dan kehidupan urakan yang pernah ia jalani.

Semenjak memantapkan hati untuk berhijrah, Irvan lebih sering mengunjungi masjid dan beriktikaf. Padahal sebelumnya ia jarang sekali ke masjid, namun kini baginya masjid adalah tempat yang menyejukkan dan menentramkan jiwa, menurutnya masuk ke dalam masjid itu ibarat ikan di dalam air tidak  merasa sesak bernafas.

Kendati telah berhijrah, namun Irvan tidak membenci musik, bahkan di tahun 2013 ia sempat bergabung bersama teman-temannya pernah manggung membawakan ragu dengan genre rock. Namun lirik lagu yang dibawakannya merupakan lirik yang sarat akan nilai keislaman. Pada dasarnya lirik yang ditulis oleh Irvan merupakan terjemahan berbahasa Inggris dari Alquran, seperti lagu berjudul  Infidel  yang merupakan terjemahan berbahasa Inggris dari Surat Al Kafirun.

“Selain mendengar masukan dari berbaagai pihak, dari dulu tidak ada musik ke arah agama musik ya musik, dulu cuma ada satu lagu yang liriknya tentang Islam, dan lagu ini Infidel ini hanya untuk dipasarkan di luar negeri,” jelas Irfan.

Ketika ditanya tentang terjunnya kembali Irvan ke panggung musik, ia pun memberikan suatu perumpamaan, “Gue kasih tamsil  (perumpamaan) biar cepet ngerti, sebab gue juga gak ngerti, tamsilnya gini, ibaratnya tukang bakso kelihatannya dia mendistribusikan bakso di mata masyarakat, padahal niat aslinya dia cari nafkah buat anak istrinya. Nggak ada tukang bakso idealis mau membaksokan masyarakat. kalau gue maen musik ini seperti tukang bakso tadi, niat gw sendiri gue pengen ketemu sama fans mau silaturrahmi dengan mereka,” ujarnya.

Baginya tetap terlibat dalam dunia musik merupakan cara dia berdakwah terhadap teman-temannya sesama personel band. "Gue kasihan sama teman musisi yang tiap hari latihan, akhir pekan ngeband, terus manggung, kasihan besok mati, gimana mau bikin report ke Allah. Nggak bisa elu laporan, 'ya Allah, saya sudah bikin sekian album' enggak bakal diterima," pungkasnya.

Pria yang gaya bicaranya terkesan gaul ini, telah menyadari bahwa rencana jangka panjang itu hanyalah kehidupan akhirat saja sedangkan dunia ini hanya sementara. Maka hidup di dunia ini adalah sebagai ladang amal yang digarap dan dipanen untuk kehidupan abadi di akhirat. “Jangka panjang dalam Islam itu ya akhirat, paling lama umur lu 60-70 tahun, dunia ini jangka pendek, jangka panjang itu start mulai sakaratul maut karena akhirat ini selama-lamanya.”

Kini kegiatan Irfan banyak diisi dengan berdakwah dari kampung ke kampung bersama Jamaah Tablig. Ia berdakwah tanpa sumbangan, ia menyadari bahwa berdakwah merupakan keindahan hidup di dunia, bahkan Derry Sulaiman bertobat ketika diceramahi oleh Irvan saat Derry menceritakan tentang album barunya. Untuk menafkahi anak istrinya, ia menggeluti dunia MLM. Baginya bersyukur adalah hal utama dalam mencari rezeki tanpa harus memaksa apa yang telah ditentukan Allah. (fh) 


Komentar

  • Arief Pambudi

    10 April 2017

    Salut dan Mantap

    Salam sejahtera buat Bung Irvan Sembiring, ketika saya menulis komen ini telinga saya sedang disumbat oleh head set putih yg mengeluarkan nada-nada dan terikan anda dari album "behind the 8th ball" saya tau anda sejak pertama ROTOR berdiri dari GMR FM di Bandung, Alhamdulillah anda sekarang telah mendapat hidayah dari Allah SWT dan menjadi mualaf...selamat buat anda....


    Reply






















Tulis Komentar


Back to Top