Eva 'Syarifah' Arnaz

Air Mata Tumpah di Mekkah Lalu Tobat Nasuha

Jakarta, (gomuslim). Pada era 80-an perfilman Indonesia berada di puncak kejayaan, bertabur artis-artis cantik. Salah satu ikon wanita bening itu adalah Eva Arnaz. Saat itu ia dikenal sebagai artis 'panas' papan atas, namun hari ini Eva telah menemukan titik kulminasi kehidupannya. Ia berbalik arah dan menjalani kehidupan sebagai seorang muslimah yang taat.

Wanita bernama lengkap Eva Yanthi Arnaz atau lebih dikenal dengan sebutan Eva Arnaz adalah wanita kelahiran Bukittinggi, 14 Juli 1958. Ia memulai karir dalam dunia modelling sejak usia belia dan pada tahun 1976 Eva mengikuti kontes None Jakarta dan berhasil meraih peringkat 2. Keberhasilan ini membawanya terlibat dalam dunia perfilman tanah air.

Eva memulai karir dalam perfilman sejak tahun 1970-an, namanya semakin melejit dan dikenal sebagai “Boom Sex” karena tak jarang ia berani memerankan adegan vulgar atau memperlihatkan tubuhnya di setiap film yang diperankan. Jika beberapa penggemar film Indonesia pada era 1980-1990-an ditanya mengenai siapa Eva Arnaz, maka boleh jadi yang terbersit adalah bintang film yang tak segan melakukan adegan vulgar.

Dalam industri perfilman Indonesia, telah tercatat bahwa jumlah film yang diperankan Eva mencapai 57 judul dari 1972-1996. Meskipun dikenal oleh masyarakat  sebagai “Boom Sex” perfilman, namun ternyata Eva tidak nyaman dengan julukan seperti itu yang kerap dilekatkan padanya. Saat melihat ulang film-film yang pernah diperankannya, ia menangis dengan cucuran air mata, sembari mengatakan, “Kok anak perempuan belia itu berani tampil kayak gitu,” ujarnya saat melihat adegan film yang pernah diperankannya.

Keberaniannya beradegan vulgar dalam film telah membuahkan kekayaan materi, namun pada sisi lain, hal itu justru merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya perceraian Eva dengan Kiki Saelan. Kabarnya Kiki menceraikan Eva karena dianggap telah melampaui batas dalam memerankan adegan film.

Runtuhnya biduk rumah tangga yang pertama adalah suatu pukulan keras bagi Eva, dari sinilah ia mulai berpikir mengenai kesalahan yang telah dilakukannya. Sehingga wanita yang telah berganti nama Siti Syarifah ini, berani mengambil suatu keputusan besar yakni menanggalkan karirnya di dunia perfilman Indonesia, "Saya dapat cobaan waktu itu, saya cerai dari suami pertama. Waktu itu sekitar tahun 89-90-an, dari situ saya merasa dapat hidayah dan mutusin stop acting," ujar wanita yang kini telah mengenakan hijab.

kjglk

Usai bercerai dengan Kiki, Eva memutuskan untuk hijrah dari kehidupan kelamnya, ia bertekad untuk melakukan ibadah haji pada tahun 1991. Setibanya di Tanah Suci Mekkah, Eva tak kuasa menahan tangis karena penyesalan dari dosa-dosa di masa silam yang telah dilakukannya.  ”Saya berangkat ke tanah suci membersihkan dosa. Di sana saya memohon ampun dan menangis sejadi-jadinya,” kenang Eva.

Sejak tahun 1991 tepatnya usai menunaikan ibadah haji, Eva membulatkan tekad untuk tidak lagi terlibat dalam perfilman. "Saya sudah mantab untuk tidak lagi menerima tawaran main film. Bagi saya itu kesalahan terbesar saya bisa terjerumus ke dalamnya," pungkasnya.

Namun karena ia masih terikat kontrak dengan production house (PH) untuk memerankan sebuah film, maka setelah pulang dari Tanah Suci, ia harus memerankan adegan film termasuk sinetron di layar kaca. Kemudian setelah kontraknya selesai, Eva benar-benar meninggalkan dunia hiburan ini. ”Pulang dari Mekah, saya masih shooting. Masih ada kontrak yang saya jalani, tetapi saya sudah nggak enak, saya nggak menemukan kenyamanan,” jelasnya.

Bagi Eva, kesalahan yang dilakukannya di masa muda adalah karena ketidaktahuannya akan ilmu agama, ia pun menyadari bahwa ilmu agama merupakan hal penting yang dapat menjadi benteng dalam kehidupan manusia dari hal-hal yang berbau maksiat. Oleh sebab itu, setelah melepaskan profesi sebagai aktris, Eva giat mempelajari Alquran, tajwid, fikih serta pemahaman lainnya tentang agama. ”Saya nekad belajar baca Alquran. Bukan sekedar baca, tetapi belajar artinya, belajar tajwidnya,” jelasnya

Semasa aktif sebagai aktris, tentunya banyak harta yang dimiliki wanita yang telah memerankan lebih dari 50 judul film ini. Namun kehidupan glamor yang pernah dirasakannya, justru membuatnya resah sebab ia merasa bahwa semua harta yang diraihnya dulu merupakan hasil yang tidak dibenarkan dari sudut pandang norma agama Islam. Ia mendapat harta kekayaan saat itu setelah berani beradegan panas dengan lawan jenis yang menurutnya adalah suatu kesalahan besar dalam hidup, meskipun kini ia lebih memilih berjualan lontong sayur dan busana muslimah, ”Saya jualin semua rumah dan mobil saya yang dapat dari shooting. Saya membersihkan harta haram, kalau sekarang saya dagang lontong sayur, dagang baju. Saya pingin ngerasain yang halal dan itu memang terasa nikmat dan kenikmatan yang tida bisa dibeli,” pungkasnya.

Kawan-kawan sejawatnya pernah mengomentari tindakannya yang beralih profesi sebagai penjual lontong sayur, padahal untuk seorang Eva Arnaz pintu industri perfilman Indonesia masih terbuka. "Mereka bertanya kok mau jualan sayur, padahal sebelumnya dunia saya penuh glamor, mereka kan nggak tahu kalau saya merasakan kenikmatan dunia akhirat ketika mendapatkan rezeki dari jualan lontong sayur," cerita Eva.

Sejak bercerai dengan Kiki, dikabarkan bahwa Eva sempat menikah dengan aktor laga  Barry Prima kemudian bercerai. Bahkan dikabarkan pula bahwa ia pernah menikah dengan Adi Bing Slamet namun akhirnya pernikahan ini harus berakhir pula dengan perceraian. Dari pernikahannya dengan ketiga pria tersebut Eva belum dikaruniakan momonongan, kemudian ia menikah lagi dengan seorang aktivis bernama Dedy Hamdun, namun pada peristiwa penculikan aktivis pada 1998, suami Eva dikabarkan menghilang dan sampai sekarang tidak diketahui di mana rimbanya.

Setelah kehilangan Dedy, Eva mengubah namanya menjadi Siti Syarifah lantas ia pun menikah lagi dengan pria keturunan Arab, dari pernikahannya ini, pada 2007 ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Samir Amin.

lgl

Meskipun kehidupan Eva tidak semewah dahulu, namun ia merasa nyaman dengan hidup sederhana yang ia jalani saat ini. Sungguh luar biasa, Eva yang dahulu berani tampil vulgar kini justru sebaliknya, ia merasa miris melihat remaja putri yang berani berpakaian terbuka memperlihatkan auratnya. Pernah suatu ketika ia menegur keponakannya yang memakai rok mini, ketika ditegur, justru keponakannya menjawab, “Biarin, lah tante dulu juga gini, ” ujar keponakannya seperti yang diceritakan oleh Eva.

Meskipun jawaban dari keponakannya menyayat hati, namun Eva tidak menyerah untuk terus menasihatinya. Saat ini ia berpendapat bahwa tubuh wanita itu   ibarat berlian tidak mudah begitu saja diraih orang, ia memiliki nilai dan harus dijaga. Bahkan sampai sekarang, Eva terus berusaha meminta pihak-pihak terkait agar tidak memutar film-film yang pernah ia perankan, pasalnya hal itu sangat menyakitkan baginya.

Apa yang dialami Eva merupakan suatu transformasi kehidupan seorang hamba Allah yang jika dikehendaki baginya suatu hidayah, maka hal itu dapat terjadi oleh siapa pun. Hal penting yang perlu diingat bagi seorang hamba adalah mengenal dirinya dan Tuhannya yang Maha Pengampun, maka tak ada istilah terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. (fh)


Back to Top