Hj. Irena Handono

Mualaf Yang Menjadi Andalan Para Mualaf

Jakarta, (gomuslim). Hj. Irena Handono, dilahirkan di Surabaya, pada tanggal 30 Juli 1954, dengan nama kecil Han Hoo Lie kemudian berubah menjadi Irena Handono. Ayahnya adalah salah satu pengusaha ternama di Surabaya. Hidup di lingkungan keluarga mampu di Jawa Timur, tidak lantas membuatnya bebas berfoya-foya dan menjalani hidup yang hedon. Ia aktif dalam kegiatan kagamaan, kajian dan organisasi kampus.

Irene muda aktif di Seminari Agung dan di banyak kegiatan Unversitas Atmajaya Jakarta. Ketertarikan dan keterlibatannya secara sungguh-sungguh dalam dunia pemikiran khususnya perbandingan agama membuatnya cepat menerima cahaya kebenaran Islam.

Tahun 1983 Masjid Al-Falah, Surabaya menjadi saksi sejarah. Di hadapan KHM Misbach, seorang pahlawan dan Ketua MUI Jawa Timur saat itu dan juga disaksikan oleh seluruh Jemaah, Irena Handono berikrar masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat setelah lebih dari sembilan tahun pencarian agamanya dimulai. Sejak saat itu semua atribut dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama sebelumnya ditanggalkan dan dihilangkan.

Perjalanannya mendapatkan hidayah tidaklah mudah. Ia beberapa kali sempat berdebat dengan dosennya ketika ia kuliah di jurusan Islamologi, hingga akhirnya jawaban dosen dalam perdebatan itu justru mengantarkannya kepada jalan hidayah.

Perjalanan pencarian hidayah diawali ketika ia mendapatkan doktrin-doktrin yang tidak baik tentang Islam. Dosen mengatakan bahwa agamanya adalah agama yang paling baik. Selanjutnya, dosen memberikan contoh-contoh yang tidak baik dari Islam.

“Di Indonesia yang melarat itu siapa? Yang bodoh itu siapa? Yang kumuh itu siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal tiap Jum’at Siapa? Yang tidak bersatu itu siapa? Yang menjadi teroris itu siapa?”, begitu dosen menjelaskan sesuatu tentang Islam di awal perkuliahan.

Akan tetapi, doktrin-doktrin seperti itu membuatnya berpikir kritis dan membandingkannya dengan negara-negara lain yang mayoritas menganut agama lain seperti Filipina, Meksiko, Italia, Irlandia. Menurutnya, mereka semua tak kalah jeleknya dengan Islam. Jadi, kesimpulan seperti itu harus diuji terlebih dahulu. Terlebih ketika melihat Amerika, Australia, dan Israel. Mereka semua adalah provokator yang menciptakan “peperangan” di kalangan umat Islam.

Kemudian ia memutuskan untuk mempelajari lebih dalam tentang Islam. Tentu saja ia terlebih dahulu meminta izin kepada dosennya. Dosennya pun mengizinkan dengan syarat bahwa ia harus mencari kelemahan Islam. Bukan kelemahan pada Islam yang ia dapatkan. Bukan kebencian. Justru sebaliknya. Ia mulai berdebar-debar ketika mempelajari Alquran. Surat yang pertama kali ia pelajari, sekaligus surat yang mengantarkannya kepada jalan menuju cahaya dan perdebatan yang rasional dengan dosennya adalah surat Al-Ikhlas.

Singkatnya, Irena Handono tidak menemukan satupun kelemahan dalam Islam dan Alquran, akhirnya Ia memutuskan untuk memeluk Islam dengan segala konsekuensi yang ia hadapi. Meninggalkan keluarga dan sahabat ia jalani dengan penuh suka dan suka.

Kini ia taat di atas nilai-nilai Islam. Hidupnya dipersembahkan untuk jalan dakwah, mengajak umat agar bangga menjadi Muslim dengan menjalankan semua perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. Sempurnanya rukun Islam ketika ia pergi haji pada tahun 1992 dan kemudian menjadi pembimbing haji enam tahun berikutnya.

Kesungguhannya dalam dakwah diwujudkan melalui beberapa lembaga yang pernah ia geluti, antara lain: ICMI, PITI, Al-Ma’wa (Pembina Mualaf) Surabaya, Pengasuh Majlis Ta’lim Al-Muhtadin Jakarta, Forum Komunikasi Lembaga Pembina Mualaf (FKLPM), Forum Grakan Anti Pornografi dan Pornoaksi (FORGAPP), Lembaga Advokasi Muslim (LAM), Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) dan (MAII) Majlis Ilmuan Muslimah se-dunia  cabang Indonesia dan berdirinya Irena Center melengkapi semua lembaga yang pernah digelutinya.

Pada 12 September 2004 di Perumahan Taman Villa Baru Pekayon Jaya, Bekasi, ia mendirikan Yayasan Irena Center yang memfokuskan pada kajian perbandingan agama dan pembinaan mualaf. Setidaknya, ada empat alasan yang menjadi agenda penting lembaga yang ia dirikan. Yaitu, sterilisasi akidah dari pemahaman yang menodai fitrah, sinkronisasi penyampaian pesan wahyu, stabilisasi menyampaikan ajaran Islam dengan metode dan cara penyampaian yang dapat dinalar dan diterima hati nurani, dan standarisasi pengalaman wahyu.

Dengan berdirinya lembaga tersebut, ia berharap masalah mendasar yang dihadapi para mualaf dapat terselesaikan dengan baik. Tak cukup sampai di situ, ia pun mendirikan pondok pesantren muallafah yang nantinya akan menjadi tempat bernaungnya para mualaf untuk memperkuat iman mereka selama tiga hingga sembilan bulan, sehingga keislamannya semakin kuat. Pada akhirnya, atas kerja keras dan kesungguhannya dalam berdakwa ini mengantarkan Hj Irine Handono sebagai seorang yang sangat dirindu, dicinta dan diteladi oleh banyak muallaf-muallafah lainnya. Semoga istiqamah beramal shaleh dalam berislam dan beriman. (alp)

               


Back to Top