Cerita di Balik Penjara, Anton Medan Dapat Hidayah

(gomuslim). Semuanya bermula saat Anton Medan keluar dari Sekolah Dasar. Pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 1 oktober 1957 ini akhirnya menjalani kehidupan di jalur hitam. Saat itu, orang tuanya menyuruh berhenti sekolah untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Praktis membuatnya  menjadi tulang punggung keluarga.

Anton pernah menjadi calo bus di terminal Tebing Tinggi. “Sehari-hari saya menjadi calo, mencari penumpang bus. Suatu ketika, saya berhasil mencarikan banyak penumpang dari salah satu bus. Tapi entah mengapa, saya tidak diberi upah.” Tutur Anton. Lalu Anton terlibat adu mulut dengan supir bus tersebut, tanpa sadar ia mengambil balok kayu dan dipukulkan ke kepala supir bus. Akhirnya ia berurusan dengan pihak berwajib.

Lalu kejadian terulang saat Anton menjadi tukang cuci bus di terminal Medan. “Kejadiannya bermula saat tempat yang biasa saya jadikan menyimpan uang, ternyata robek. Uang saya pun ikut lenyap. Saya tahu pelakunya, saya peringatkan saja dia tapi malah memukuli saya. Akhirnya perkelahian melawan orang yang lebih dewasa pun tak terelakkan. Tidak ada satu teman pun yang membantu saya. Tanpa pikir panjang, saya ambil parang bergerigi pembelah es yang tergeletak. Saya ambil, lalu saya bacok dia. Dia pun tewas.” Dan akhirnya Anton mendekam di penjara Jalan Tiang Listrik Binjai.

Setelah bebas dari penjara Binjai. Ia pulang ke kampung halaman. Namun tak disangka orang tuanya tak menerimanya kembali. Sebab orang tuanya malu mempunyai anak yang pernah masuk penjara. Maka dari itu, Anton langsung pergi merantau ke Jakarta untuk menemui pamannya. Paman yang dulu pernah menyayanginya. Berbulan-bulan ia hidup menggelandang mencari alamat. Setelah menemukan alamat pamannya dengan susah payah, tak disangka paman yang dulu menyayanginya telah mengusirnya.  Saat itu, pupus lah harapan Anton untuk memperbaiki masa depan. “saat itu, saya akhirnya berpikir tak ada yang mau membantu saya untuk hidup secara wajar.” Ucap-nya.

Setelah membulatkan tekad, mulailah Anton melakukan kejahatan kecil-kecilan. Dimulai dengan menjambret nenek-nenek yang akan sembahyang di klenteng. Lalu beralih menjadi perampok, pedagang obat-obatan terlarang, terakhir menjadi Bandar judi. Saat itulah masa kejayaannya, masyarakat menjulukinya Si Anton Medan, penjahat kelas kakap, penjahat yang hobi keluar masuk penjara dll.

Sudah banyak penjara atau lembaga permasyarakatan yang disinggahi Anton. Cerita di balik penjara, Anton kahirnya mendapatkan hidayah Tuhan.

Ia terlahir sebagai Buddha, kemudian sempat berganti Kristen. “Namun entah mengapa tatkala bertemu dengan agama Islam, hati saya menjadi tenteram.” Kata Anton. Ia menyebutkan telah belajar agama Islam selama tujuh tahun. Ia mengungkapkan bahwa pengembaraannya dalam mencari Tuhan, tak lepas dari peran teman-teman semasa di tahanan.

Akhirnya masa tahanan di penjara dapat dilalui, ia dapat menghirup udara kebebasan lagi dan bertekad untuk berbuat baik bagi sesama. Namun kenyataan berkata lain, ia diminta untuk membantu pihak berwajib menangkap Bandar-bandar judi kelas kakap. Setelah berhasil menyerahkannya kepada pihak berwajib, ia malah menggantikan posisi sebagai mafia judi. Ia banyak mendirikan rumah-rumah judi di Jakarta. Ia mencoba merambah dunia judi internasional. Tapi nasibnya  tak beruntung. Ia mengalami kekalalahan bermiliar-miliar rupiah. Maka keadaan tidak berdaya tersebut membuatnya sadar dan ingin memulai hidup apa adanya.

Anton membuktikan ingin benar-benar bertobat masuk Islam, ia awalnya mendatangi Yayasan Haji Karim Oei, tapi tiga kali dirinya ditolak. Karena dianggap hanya mencari kedok. Lalu ia mendatangi KH. Zainuddin M.Z untuk dituntun masuk Islam. Setelah itu, ia berganti nama menjadi Muhammad Ramdhan Effendi. Ia tidak hanya membuktikan masuk Islam saja, tapi ia bersama-sama dengan KH. Zainuddin M.Z, KH. Nur Muhammad Iskandar S. Q, dan Pangdam Jaya Mayjen A. M Hendro Prijono mendirikan Majlis Ta’lim Atta’ibin pada 10 Juni 1994.

Tekad Anton kini hanya satu, yakni ingin mengabdi pada masyarakat lebih jauh lagi. Ia mendirikan rumah ibadah beraksitektur China diberi nama Masjid Jami’ Tan Kok Liong , yakni nama aslinya, dan pesantren. Masjid itu terletak di area Pondok Pesantren At Ta’ibin, Pondok Rajeg, Cibinong. Pesantren ini didirikan tujuannya untuk membina para mantan napi dan tuna karya agar terbina dengan baik. Selain menjadi dai di lembaga permasyarakatan, ia juga buka usaha sablon, futsal dll untuk mencukupi kebutuhannya dan pesantren.

Anton berharap untuk para narapidana agar tidak putus harapan untuk bertobat. Karena Allah maha luas pengampunannya dan maha menerima tobat. (mrz/dbs)


Back to Top