Mualaf Abu Bakar Ludewig: Makin Digali, Islam Kian Bercahaya

(gomuslim). Maxi Christian Ludewig Deeng akhirnya mendapat hidayah setelah mempelajari Islam lebih mendalam justru saat masih berstatus sebagai seorang Kristolog dan pengkhutbah di rumah ibadah dengan jam terbang tinggi. Tidak hanya di Ibukota Jakarta, ia juga sering bertugas di sejumlah kota di tanah air seperti Manado, Ambon, dan pernah menjadi co-pilot penerbangan misi di Papua. Kepakaran di bidang Kristologi membuatnya sering diundang seminar di berbagai Negara seperti Singapura, Filipina, Thailand, bahkan di Colorado Amerika.

Sebagai seorang Kristolog bergelar master dari sebuah perguruan tinggi di luar negeri, Maxi memang dekat dengan teks-teks ketuhanan. Ia seperti masuk dalam pusaran air, makin keras ia belajar tentang ketuhanan, makin tinggi pula rasa penasaran.

 

 

Puncaknya, bukan lagi penasaran tetapi berubah menjadi kegelisahan. Ia makin gelisah saat mengenal inti ajaran tauhid ketuhanan yang ia gali dalam teks-teks kitab suci agama-agama samawi. Semua konsep ketuhanan agama yang pernah berkembang di muka bumi ia teliti dan anehnya hati dan pikirannya semakin gelisah ingin mendapatkan jawaban tentang konsep ketuhanan yang hakiki.

Lebih dari empat tahun Maxi bergulat dengan derasnya arus pemikiran dan pergulatan batin  tentang Tuhan, hingga pencarian intelektual dan rohani itu menemukan secercah cahaya saat mulai membuka bab demi bab tentang Islam dan kenabian Muhammad SAW. Ayat demi ayat terjemahan Alquran ia baca.

"Ternyata, Islam itu makin digali akan makin ilmiah, makin sesuai dengan nurani dan pikiran, makin menarik perhatian karena semakin bercahaya. Ini agama dari Tuhan untuk umat manusia yang Tuhani dan manusiawi,” ujarnya saat mengisi pengajian di Masjid Al-Hidayah, di Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Pengajian yang menghadirkan pakar di bidang Kristologi ini motori Hj Dr dr Saharawati, Sp dan HjAtiet Retno Sabrila dari Yayasan Dakwah Al-lkhlas yang sebagian besar adalah para pegiat di Masjid Agung Al-Azhar. Dr Saharawati dan Hj Atiet tertarik dengan perjuangan Maxi yang setelah menjadi mualaf diganti nama menjadi Abu Bakar Ludewig ini.

“Ujian dan perjuangan Bapak Abu Bakar luar biasa. Kalau tidak kuat iman mungkin sudah berbalik, tetapi demikianlah kemuliaan itu dicapai ketika kita mampu menjalani ujian demi ujian dalam hidup beragama. Allah sendiri sudah sampaikan dalam Alquran, bahwa setelah beriman jangan dikira kemudian tidak ada ujian, ada pasti ada dan macam-macam rupanya, Allah akan melihat daya tahan kita, semoga ujian makin membuat kita beriman,”ujar dr Sahar tentang Maxi yang sudah seperti ustadz ini.

Bagaimana akhirnya Ludewig bersyahadat? Rupanya tidak mudah mengambil keputusan menjadi mualaf. Semua keluarganya di Manado adalah Nasrani, keluarga istrinya juga demikian, bahkan banyak kerabatnya tinggal di Amerika juga Nasrani tulen, terlebih ia telah lebih dari 20 tahun menjadi pengkhutbah di rumah ibadah umat Kristiani.

Setelah berdiskusi dengan seorang teman sekolahnya semasa SMA di Ngawi dulu, ia disarankan berangkat ke tempat yang ia belum dikenal siapa pun.

"Maka saya akhirnya disarankan ke Balikpapan menemui seorang guru kenalannya dan di sebuah masjid di Kalimantan Timur itu saya mengucapkan dua kalimat syahadat, di hadapan sejumlah ulama dan aparat dari Kementerian Agama RI setempat."ujarnya.

Kejadian itu berlangsung khidmat pada bulan September 2014, kemudian ia dicacat serta diberi ‘syahadah’ dan ditetapkan dengan nama Abu Bakar.

Abu Bakar Ludewig lahir di Ngawi pada tanggal 19 Juni 1969, dari keluarga berlatar belakang Nasrani. Berdarah Minahasa Manado, dari bapak seorang TNI yang sering berpindah-pindah tugas. Ia menempuh pendidikan sarjana Teologia di Universitas Klabat Manado kemudian mendapat kesempatan belajar untuk jenjang master di Filipina.

Kini, Abu Bakar menjalani hidup sebagai seorang muslim dari nol. Ia baru belajar huruf Arab untuk mendalami Alquran dan Hadis dari sumber aslinya. “Anak saya yang kelas I SD sudah Iqa’ V, saya baru di level III. Saya akan terus belajar selama masih ada nyawa. Mohon doa dan dukungan semoga saya istiqamah dalam iman dan Islam,”ujarnya.

Ia juga meneruskan kajiannya tentang Kristologi dan Islamologi, bahkan beberapa buku karangannya siap terbit. “Sudah kami siapkan buku-buku tentang Kristologi dan Islamologi. Semacam diskursus komparatif, tanpa bermaksud membanding tetapi kami menemukan titik-titik temu yang saya harapkan pembaca dapat menyimpulkan sendiri setelah mengkajinya secara seksama,”tegasnya.

Sebagai seorang muslim yang bersemangat, ia juga ingin keluarganya memahami bahwa dalam hidup ini ada yang harus dijalani sebagai seorang hamba Allah. Bertuhid dengan benar dan taat beragama. “Ayah saya akhirnya bersyahadat, istri dan anak saya semua muslim. Mereka adalah harta berharga saya, hidup dalam iman dan Islam, Kami sekeluarga terus belajar menjadi muslim yang islami,”tambahnya.

Selain sering diundang sebagai penceramah bertema Kristologi yang ia kuasai secara mahir, Abu Bakar bekerja sebagai seorang karyawan di BPJS Kesehatan dan mendukung kegiatan bisnis istri. Bisnis rumahan untuk pengepulan dapur karena kini tidak lagi menjadi pengkhutbah antar kota dan Negara yang berargo mahal. Kebutuhan keluarga sekedar cukup tidak bermemawahan tetapi tercukupi secara wajar. “Semoga terus membaik dan membawa keberkahan dalam keluarga,”doanya.

Jalan menjadi orang beriman memang tidak mulus. Ia kehilangan banyak hal, kehilangan banyak harta benda, kehilangan kesempatan indah-indah, tetapi ia yakin telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dunia dan akhirat, yaitu iman dan Islam.

“Semua rintangan adalah ujian dari Allah untuk kemulian hambaNya, semoga kami dapat menjalani dengan ikhlas dan penuh ketakwaan. Saya ditawari menjadi ustadz oleh ibu dokter, saya berterima kasih diberi kesempatan belajar. Saya bukan ustadz tetapi kesempatan tersebut akan saya manfaatkan untuk belajar kepada ustadz-ustadz lain di majelis,”ujar Abu Bakar saat diminta mengisi pengajian rutin di salah satu lembaga pendidikan Islam besar dan terkenal di Ibukota. Sebagai mantan pengkhutbah di rumah ibadah dan Kristolog berpendidikan dari luar negeri, urusan menuntut ilmu adalah bagian dari tugas hidup. Ia berniat terus mendalami yang menjadi keyakinannya kini.  Ahlan Ustadz Abu Bakar Ludewig, semoga senantiasa dalam hidayah dan pertolongan Allah. (mm/rz)


Back to Top