Terhempas dari Ibukota, Norman Kamaru Pulang Kampung dan Kini Jadi Da’i

(gomuslim). Norman Kamaru, sosok yang pernah mengisi hari-hari masyarakat Indonesia dengan tarikan kareografi ala India dalam lypsing ‘Chaiyya Chaiyya’ yang fenomenal. Namanya  hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Bagaimana kabar dia sekarang?

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Norman kini rajin iktikaf dari masjid ke masjid. Mengenakan jubah, berpeci dan sedikit mulai merawat jenggot. Dalam sebuah grup WA Jemaah yang sedang menemani Norman di masjid, terkirim foto ia sedang berada di depan Jemaah membacakan kitab ‘Fadhailul Amal’, yang berisi tentang keutamaan amalan-amalan sehari-hari berdasarkan contoh 1 x 24 kehidupan Nabi.

Rupanya ia mengikuti jejak mantan bassis Godbless Yuke Sumeru, Bassis Sheila on Seven Sakti Salman Jugjawi, juga Lukman dan Reza ‘Paterpan’ Noah. Jauh sebelum itu, ada almarhum Gito Rollis yang mengambil jalur kanan sebelum ajal datang.

Setelah fenomena Norman melanda Indonesia pada tahun 2010, kabar yang beredar luas di masyarakat Briptu di Brimob Polda Gorontalo ini kemudian menyatakan mundur sebagai polisi pada tahun 2011. Setelah keluar dari Kesatuan Polisian RI, ia mencoba peruntungan sebagai seorang selebriti. Banyak yang sudah dilakoni dari menyanyi, terlibat dalam pembuatan film layar lebar, menjadi DJ, menjadi bintang tamu di berbagai acara, semua sudah dicoba dan kenyataan tidak seindah harapan, ia layu sebelum berkembang di dunia hiburan.

Tidak lama kemudian ia muncul lagi bersama istrinya di kawasan Kalibata City, Jakarta Selatan. Kali ini ia tidak tampil sebagai seorang selebriti, tetapi sebagai seorang pedagang Bubur Manado, makanan khas daerahnya yang dijajakan di Jakarta. Saat itu tidak hanya Koran dan berita online yang ramai memberitakan kegiatan baru ini, bahkan hampir semua televisi memburu aktivitas Norman Kamaru.

Hidup terus berjalan, tiba-tiba terdengar kabar ia mengalami kebangkrutan bahkan sempat santer pemberitaan rumah tangganya mulai bermasalah. Tidak sekedar goyah, bahkan sudah berada di ambang pintu pengadilan. Daisy Pandong sebagai istri Norman tampil menggelar konferensi pers bersama pengacara dan seseorang yang disebut-sebut sebagai ‘pria idaman lain’.

Masyarakat pun terhenyak. Sedemikian kerasnya Jakarta hingga membanting seorang selebriti yang sudah melambung tinggi popularitasnya. Tersisi dari dunia selebriti, berniaga pun sudah dilakukan, kerja serabutan hingga jadi pengamen jalanan di Ibukota. Ada apa dengan Norman?

"Saya pernah ngamen di lampu merah Kalibata dari sekitar setengah tujuh pagi sampai jam 12 siang. Penghasilan memang nggak banyak. Beberapa jam waktu itu cuma dapat Rp 12 ribu. Selain ngamen saya juga pernah kerja serabutan." Ungkapnya merendah

Kariernya sebagai seorang penyanyi memang kandas di tengah jalan. Rasa trauma itu pun masih membekas di hati Norman. Mencoba berjualan bubur pun kandas. Juga rumah tangganya nyaris terhempas.

Nyaris koyak di Jakarta, Norman dan istri memutuskan pulang kampung setelah berjibaku di Ibukota dan telah mengambil komitmen untuk memperbaiki diri, memperbaiki rumah tangga. Ia mengabaikan pandangan miring siapapun dan berterima kasih kepada yang mendoakan kebaikannya. Pengalaman hidup yang pahit, dari seorang selebriti yang dielu-elukan di setiap kesempatan hingga mengamen di jalanan telah dilewati. Hidup terus berjalan dan harus melewati berbagai situasi.

Seperti dikutip dari akun gosip Instagram @jenk_keliin yang menyebut bahwa Norman memutuskan pulang ke kampung halamanya dan mulai meniti kehidupan yang baru.

 

 

Akun Instagram @jenk_keliin juga mengunggah foto yang memperlihatkan Norman berpenampilan seperti seorang ustaz dan diapit tiga orang wanita berjilbab.

"Norman Camaru pulang kampung jenk... skerang dapat hidayah lebih mendekatkan diri pada Yang Ilahi..semoga berkah"tulis kalimat yang tertera di foto yang diunggah itu.

Kabar pulang kampungnya Norma Kamaru tersebut ditanggapi beragam oleh follower akun @jenk_keliin.

"Kasian sich udah jadi polisi malah ngundurin diri jd pekerja yg blm pasti.. disangka jd artis tu gampang keles... Mledak cuma seumur jagung doang.."tulis akun krisna_dewi99.

Norman berhijrah, demikian tanggapan dari sebagian kalangan. Apa yang membuat Norman banting setir ke kanan dan bagaimana tanggapannya atas berbagai cibiran yang bersliweran di media sosial?

 

 

Kenyataan hidup yang pahit harus dihadapi untuk mendapatkan nikmat di baliknya. Ia tidak lupa pernah pulang kampung dan dielu-elukan masyarakat sepanjang jalan, bahkan Polda setempat menyediakan kendaraan terbuka keliling kota. Ia juga tidak lupa banyak yang ingin bersalaman dan berfoto  bersamanya. Tetapi itu dulu dan tidak pernah terulang lagi. 

Hingga suatu ketika di awal tahun 2016 ini, ia berjumpa dengan serombongan Jemaah yang sedang iktikaf di masjid di kampung halamannya. Ia pun mengikuti program iktikaf, mulai dari shalat berjamaah lima kali sehari tanpa putus, ‘qiyamullail’ atau bangun sebelum subuh untuk tahajud, shalat dluha, tilawah dan kajian tentang sunah-sunah Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika itulah ia mendapatkan tambahan kekuatan dan mulai dapat memandang semua hal dalam hidup ini dari perspektif ‘ilahiah’.  “Semua hal tidak ada yang lepas dari kehendak Allah. Yang paling penting sekarang adalah kami memperbaiki diri, memperbaiki cara hidup yang sesuai dengan ajaran Nabi agar mendapatkan keberkahan hidup,”ujarnya.

Ooo. Chaiyya! Demikianlah, perjalanan hidup siapa pun pasti bermuara ke arah tertentu dan setelah menjalani hempasan bertubi-tubi, Norman Kamaru dan keluarga kini hidup bersahaja tidak sebagai selebriti tetapi belajar menjadi seorang da’i. (mm/bs)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top