Edi “Grass Rock”, Berhijrah Setelah Masuk ke Suatu Masjid

(gomuslim). Penggemar music rock tanah air di era 1990-an, tentu mengenal Edi Kemput gitaris Grass Rock. Pria asal Surabaya yang pernah dekat dengan kehidupan negatif dunia malam, alkohol dan kerap meninggalkan shalat fardhu, kini berbalik menjadi pria yang taat dan rajin shalat berjamaah di masjid serta sering menjalankan aktivitas dakwah.

Hal yang paling mengagumkan dari Edi adalah keteguhannya dalam menjalankan perintah Allah khususnya shalat farshu 5 kali dalam sehari. Teman-temannya yang sesama musisi dapat memahami jika Edi tidak segan meletakkan gitarnya ketika telah masuk waktu shalat meski saat itu latihan tengah berlangsung. Jika merujuk pada awal dibentuknya Grass Rock, hal semacam ini tidak terlihat pada sosok gitaris Edi.

Tahun 1985 Grass Rock mengikuti Djarum Super Rock Festival yang berhasil meraih juara III, kemudian Pada 1991 band aliran musik rock ini mengalami ketenaran pasca merilis album berjudul “Peterson, Anak Rembulan.” Dalam keteranan yang pernah dialami Edi, sempat menggiringnya masuk dalam kehidupan kelam yang negatif.  Meski dari kecil pria ini mengaku sudah dididik ajaran Islam, namun ia kerap meninggalkan shalat wajib. Bahkan pasca menikah pada 1994, istrinya sering marah karena Edi sering jarang mengerjakan shalat.

klhl

Perseteruan dalam rumah tangga Edi kerap terjadi setelah anak pertama lahir pada 1995, sang istri mengharapkan gitaris profesional ini ingat kewajibannya sebagai hamba Allah, yaitu tidak meninggalkan shalat. Namun permintaan sang istri tidak serta merta dituruti oleh Edi, hingga pada tahun 2000 hatinya dibuka oleh Allah, pada tahun inilah ia menemukan titik balik.

"Ini sebenarnya udah lama, lama banget, 2000-an, setelah nikah tahun 1994, kemudian lahir anak tahun 1995. Namanya pernikahan pasti ada berantem, intinya istri pingin aku jaga shalat. Setiap kali shalat diingetin lama-lama malas juga. Tapi kalau enggak ikuti jadi ribut. Terus suatu saat jadi nyangkut kepingin baik, tapi ada juga rasa biarin aja. Nah dua perasaan itu terus ganggu," ujar Edi.

Menurut Edi, meski kerap bersiteru dengan istrinya, namun ia hanya mengabaikan perseteruan itu walaupun terkadang ia mengerjakan shalat namun adakalanya kemarahan sang istri dianggap bagai angin lalu dan diabaikan begitu saja tanpa mengindahkan kewajiban yang harus dijalankan oleh umat Islam.

Perjalanan hidup menuju titik balik yang dialami Edi sungguh di luar jangkauan akal manusia. Sikap apatisnya ketika tidak mengindahkan imbauan sang istri untuk menjaga shalat, ternyata membuatnya resah, tanpa disadari keresahan itu justru menggerakkan langkahnya untuk mencari ketenangan batin. Tepat di bulan suci Ramadhan pada tahun 2000, ia menyambangi sebuah masjid di dekat rumahnya di daerah Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Di sanalah Edi melihat sekumpulan orang yang melakukan tadarrus Alquran.

Edi yang sedari kecil telah belajar mengaji, tiba-tiba ingin mengikuti aktivitas tadarrus tersebut, namun di balik itu ia resah melihat orang-orang yang melakukan aktivitas tadarrus hanya untuk berkumpul dan makan-makan setelah itu baru membaca Alquran. Menurut Edi hal semacam itu merupakan sikap dan tindakan yang tidak mengedepankan adab bertadarrus, baginya lebih baik baik menyelesaikan bacaan Alquran kemudian boleh dilanjutkan dengan makan bersama.

Situasi di dalam masjid yang dilihat Edi pada tahun 2000, justru tidak membuatnya jauh dari masjid dan menjauhkan diri dari Alquran. Situasi yang dilihat Edi ketika itu, membuat gitaris ini penasaran dan akhirnya mempelajari Islam lebih dalam. Setelah Idul Fitri pada tahun 2000, tiba-tiba sikap Edi berubah drastis. Jika sebelumnya ia harus bertengkar dengan istri hanya karena jarang shalat, justru ketika itu, sebelum azan Shubuh dikumandangkan Edi telah mempersiapkan diri untuk shalat.

“Seminggu sebelum Lebaran saya pulang kampung ke Surabaya. Tiba-tiba kepingin mandi jam 3 pagi, istri sempat tanya 'ngapain lu, kok tumben mandi pagi' aku jawab aja enggak apa-apa. Sampai istri bilang 'kok tumben shalat Shubuh'. Pokoknya mengejutkan saat itu. Setelah itu setiap kali ada azan pingin ke masjid, tapi waktu itu masjid yang saya datangi tidak dibuka, sampai Ashar juga enggak dibuka. Saya shalat saja terus. Setelah berbagai proses itu, di situlah muncul ingin selalu shalat berjemaah di masjid," Kenang Edi.

Walaupun terjadi perubahan dalam diri Edi setelah Idul Fitri tahun 2000, namun ia tetap penasaran ingin mempelajari Islam. Tanpa disadari dan direncanakan, perantara yang mengarahkannya untuk dapat memahami Islam, ternyata berasal dari teman sesama musisi. Awalnya Edi bertemu Yangson seorang rocker yang telah menjadi sosok yang taat beragama.

“Dia bicara agama buat saya terkagum-kagum, ini orang luar biasa, rocker, serem banget, tapi bicara agama luar biasa. Saya sempat tanya, kamu belajar agama di mana, kok pintar banget, dari situ kita nyambung, dia lihat gue tertarik sama dia, dia deketin ke rumah,” kenang Edi.

Gitaris Grass Rock ini seperti mendapatkan durian runtuh, pasalnya saat ia ingin mempelajari Islam justru dipertemukan dengan sosok yang berprofesi sama sebagai musisi namun telah berubah menjadi da’i. Yangson pun datang ke rumah Edi dan mengajak ke sebuah masjid di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta.  

“Beliau juga yang ajak saya ke masjid Kebun Jeruk di daerah Kota. Di sana kayak di Arab, orang laki-laki semua berjubah, bersorban dan jenggotan. Saya di sana diajak iktikaf, sempat bingung, tapi ya ikut aja, sampai Isya ada pengajian, taklim. Awalnya enggak ngeh apa yang diomongin, cuma lihatin suasana, kok bisa gini orang-orang,” ujar Edi.

Pasca melakukan iktikaf, banyak hal yang terlihat berubah dari perilaku Edi, tidak hanya sikapnya yang selalu siap di masjid sebelum azan dikumandangkan, namun secara penampilan, perubahan dalam diri Edi sangat terlihat. Kini ia memanjangkan jenggotnya karena hal itu merupakan  sunnah Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Edi pun mempelajari agama ke sejumlah negara, salah satu di antaranya adalah Pakistan.

Edi  yang kerap disapa Adam pasca hijrah, kini berdakwah ke sesama musisi. Meski ia tidak meninggalkan profesinya, namun  manakala tiba waktu shalat, seketika itu pula ia meletakkan gitar walaupun tengah berlangsung gladi bersih. Ia melakukan aktivitasnya dakwah ke teman-temannya dengan caranya sendiri. Tidak jarang Edi menyisipkan ajaran agama Islam di sela-sela candaan saat berkumpul dengan rekan-rekan sesama musisi. Baginya hal itu merupakan bagian dari dakwah yang ia lakukan.

Kini Edi tetap aktif di belantika musik Indonesia, ia kerap manggung di berbagai pertunjukkan baik skala lokal maupun nasional. Bahkan Edi kerap diminta untuk membantu mengiringi petikan gitar musisi papan atas seperti Iwan Fals dan lain sebagainya. Namun di tengah dentuman keras musik rock, penampilan Edi terlihat kontras dengan teman-temannya di atas panggung. Meski demikian ia tetap berpegang teguh dengan pendiriannya. Walaupun berjenggot dan terlihat kerap bergamis, namun dalam salah satu pagelaran musik, kepiawaiannya memainkan melodi Smoke on The Water terkesan mulus dan apik.

Hakikatnya setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan Allah, bahkan tidak ada waktu terlambat untuk bertobat sebelum nyawa sampai di kerongkongan. Demikian pula dengan hidayah Allah yang dikehendaki bagi hamba-Nya, sejatinya Dia memberikan petunjuk kepada siapa pun tanpa memilih latar belakang manusia. Maka sungguh merupakan karunia yang tidak terhingga manakala seorang hamba Allah disadarkan untuk kembali ke jalan yang benar. (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top