Ustadz Syamsul Arifin Nababan

Usai Hijrah, Mualaf Ini Dirikan Pesantren Khusus untuk Para Mualaf

gomuslim.co.id- Namanya Syamsul Arifin Nababan. Ia dilahirkan di Tebing Tinggi, Sumatera Utara pada 10 November 1966. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini lahir dari keluarga yang taat beragama. Nama asli dari orangtuanya adalah Bernard Nababan. Sejak kecil Nababan sudah mendapatkan bimbingan agama yang baik dari kedua orang tuanya. Bahkan, dirinya sudah masuk sekolah yang khusus untuk menjadi penyebar ajaran agama dan penerus kedua orangtuanya.

Nababan muda adalah seorang yang aktif. Selama menjadi pelajar, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Melalui kegiatan itulah dirinya sering berkunjung ke beberapa wilayah perkampungan muslim dan berdialog dengan para tokoh agama di daerah tersebut. Siapa sangka, dari hasil diskusi itulah dirinya mulai memikirkan ajaran Islam.

Perbincangan dengan tokoh masyarakat muslim di perkampungan itu begitu membekas di hatinya. Nababan bahkan sering merenungkan pembicaraan mengenai ideologi ketuhanan. Akhirnya ia pun membaca buku-buku yang berjudul Dialog sampai berulang-ulang. Lama kelamaan, buku tersebut mempengaruhi pikirannya. Karena goncangan keraguan itu, ia lantas kabur dari asrama dan pergi ke pulau jawa.

Selama di tanah jawa, ia bertemu dan berkenalan dengan seorang muslim. Melalui perkenalan itu, Nababan kemudian tinggal bersama bersamanya di Kota Jember, Jawa Timur. Disana, ia tinggal selama satu tahun dan bekerja membantu apa saja yang disuruh oleh temannya. Selama tinggal bersama temannya yang Muslim tersebut, Nababan merasa terkesan karena ia merasa sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri.

Meski berbeda keyakinan, temannya tidak pernah sekalipun pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. Temannya sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah Nababan mulai tertarik pada ajaran Islam. Ia kemudian mulai bertanya tentang Islam kepada temannya. Lalu, oleh temannya tersebut ia diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Nababan diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul Ulum, yaitu KH Khotib Umar.

Pertemuan dengan KH Khotib Umar menjadi awal yang mengesankan bagi Nababan. Penjelasan yang disampaikan KH Khoti Umar begitu menyentuh hatinya. Dengan pendekatan yang perlahan dan sangat hati-hati, terus menjadi bahan renungan bagi Nababan. Batinnya mengatakan penjelasaan kiyai itu sangat cocok dengan hati nuraninya. Bahkan, ia menganggap agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama yang dianut sebelumnya.

Setelah perenungan yang dalam, Nababan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam pada tahun 1991. Ia kemudian kembali menemui rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam.  Tentu saja, hal ini membuat kiyai terkejut. Lantas bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak ?” tanya kiyai. “Sudah,” jawab Nababan lantang dan meyakinkan bahwa hatinya sudah mantap.

Karena mendapat jawaban siap, KH Khotib Umar kemudian membimbing Nababan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum berikrar, kiyai memberikan penjelasan dan nasehat. “Pada hakikatnya, saat ini anda bukan masuk agama Islam, tapi kembali kepada Islam. Karena, dahulu pun anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganlah yang menyesatkan kamu. Jadi, sesungguhnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar KH. Khotib

Nababan pun amat terharu mendengar pernyataan tersbeut. Ia tak kuasa menahan air mata yang sudah menetes. Setelah berikrar dan dikhitan, namanya kemudian diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Ia mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dengan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, Nababan amat rindu pada keluarga di kampung halaman. Setelah diizinkan pulang, ia dibekali uang Rp 10.000 untuk ongkos pulang ke Sumatra Utara.

Sesampainya di rumah, Nababan tidak dikenali oleh ibu, kakak, dan semua adiknya karena ia mengenakan baju gamis dan bersorban. Setelah ia jelaskan, kakak-kakaknya amat marah dan mengusirnya dari rumah. Namun, usiran itulah yang membuatnya semakin tegar. Ia pun kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Saat tedampar di kota Jakarta, aktivitas dakwahnya makin berkembang. Nababan pun aktif belajar di Ma'had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta dan mendapatkan beasiswa.

Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Hal itu disadari betul oleh Syamsul Arifin Nababan.  Berkat kesabaran dan ketekunannya dalam belajar, pada 1997 ia diundang oleh kerajaan Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji. Ketika kembali pulang ke kampung halaman, usai menunaikan rukun islam yang kelima, ia memutuskan untuk menyiarkan agama yang ia yakini kebenarannya itu. “Dua adik saya berhasil saya Islamkan,” ungkapnya.

Berbekal ilmu yang ia pelajari, dan pengalaman mengislamkan adiknya, la memutuskan untuk terus melakukan dakwah. “Di Jakarta saya mulai berceramah dari masjid ke masjid hinga kantor ke kantor,” tuturnya.

Niat tulus tanpa tendensi, kata dia, maka Allah akan memberikan kemudahan dan jalan pada orang yang melakukannya. “Jika kamu menolong agamamu, maka Allah akan menolong kamu,” jelasnya, meminjam sebuah ayat dalam Alquran.

Sampai akhirnya pada tahun 2008, ia mendirikan Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan Annaba Center di daerah Sawah Baru, Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan, Banten. Pesantren yang mendidik para mualaf ini telah memiliki puluhan santri dan alumni yang tersebar di Nusantara.

Di sisi lain, Ustadz Syamsul Arifin Nababan juga pernah berkesempatan untuk melakukan syiar agama Islam ke Negeri Paman Sam hingga Negeri Kanguru. Kesempatan berdakwah ini menurutnya adalah sebuah hasil dari kesungguhan dalam menolong agama Allah SWT. (njs/dbs) 


Back to Top