Wujud Syukur Sang Komedian, Azis Gagap Bangun Pesantren untuk Anak Yatim dan Dhuafa

gomuslim.co.id- Siapa yang tak kenal dengan Azis Gagap. Seorang komedian asli betawi yang namanya melambung saat mengisi dunia hiburan lewat program komedi Opera van Java di stasiun televisi swasta beberapa tahun silam. Bernama lengkap Muhammad Azis ini lebih dikenal dengan panggilan Azis Gagap lantaran dirinya selalu berbicara gagap saat beraksi dalam lawakannya.

Pria kelahiran Jakarta, 22 Desember 1973 ini mengawali karier melawaknya melalui panggung lenong dari satu kelurahan ke kelurahan lain. Selanjutnya, pada tahun 1999 ia mulai bekerja dengan Bagito dalam acara Paviliun 21 di TVRI. Azis melawak bersama Bagito. Sebelum terkenl, Azis pernah menjadi penjaja sayur keliling, penggali sumur, kuli bangunan, pemain lenong, hingga akhirnya jadi komedian terkenal.

Pada tahun 2008, karier Azis mulai menanjak dengan melawak dalam Opera Van Java bersama Parto, Sule, Andre Taulany, dan Nunung. Azis bahkan sudah merambah dunia menyanyi dengan mengeluarkan single bersama rekan-rekannya tersebut. Sampai saat ini, Azis pun masi aktif menjadi pelawak di acara komedi tersebut.

Tak ada yang mengira, selain dikenal sebagai aktor dan komedian di dunia hiburan, Azis Gagap ternyata seorang yang dermawan dan sangat peka terhadap masalah sosial. Hal demikian dibuktikan dengan keterlibatan dan aktivitas sosialnya dengan mendirikan sebuah pesantren bernama Pesantren Aziziyah di Bogor, Jawa Barat. Sebuah tempat belajar yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi. Semua siswa atau siswinya di bebaskan dari biaya alias gratis.

Azis mendirikan pondok pesantren bagi anak-anak yatim ini sebagai bentuk rasa syukurnya atas keberkahan nikmat dan rizki yang ia dapatkan. Empat tahun berkiprah di dunia lawak membuat nama besarnya yang terus menanjak. Ia mengaku bersyukur dengan kondisinya sekarang. “Ya, saya bersyukur, Allah telah menaikkan derajat saya,” tuturnya.

Azis menegaskan, dirinya berniat menginvestasikan harta yang dimilikinya hanya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Terlebih saat ini banyak orang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan. “Setelah ada rezeki, yang terpikirkan oleh saya ketika itu adalah mendirikan sekolah. Pokoknya semacam lembaga kegiatan belajar khususnya untuk anak-anak,” ujarnya.

Tak lama setelah karirnya menanjak, Pada 2009, Azis mulai merealisasikan mimpinya itu dengan membeli tanah seluas 2 hektar di Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Bogor. Namun, setelah dimusyawarahkan dengan para sahabatnya dan sesepuh masyarakat setempat, niat mendirikan sekolah berubah menjadi pondok pesantren.

“Pertimbangannya waktu itu, kalau mendirikan sekolah yang daftar terbatas. Mungkin siswanya dari masyarakat sekitar saja. Tapi, kalau pondok pesantren, siswa dan santrinya kan bisa dari mana saja, cakupannya lebih luas,” ungkapnya.

Saat pembangunan pesantren baru dimulai, Azis sudah memikirkan bagaimana konsep pembelajaran yang akan diterapkan di pondok pesantrennya itu. Ia kemudian memilih konsep kembali ke alam. Selain belajar ilmu agama, santri-santri juga diajarkan ilmu berwirausaha dengan memanfaatkan hasil-hasil bumi yang ada di alam.

“Akhirnya saya buatkan tambak ikan hias dan ikan konsumsi di area pondok pesantren. Saya juga menanam kebun buah jambu kristal di belakangnya. Tujuannya, supaya para santri bisa budidaya ternak ikan dan bercocok tanam. Kita ajarkan agar mereka mau belajar mandiri sejak dini,” paparnya.

Azis juga menyiapkan beberapa ekor ayam untuk diternakkan oleh para santri. Beberapa bibit pohon jambon juga ditanam di belakang pondok pesantren. “Mudah-mudahan semua itu bisa jadi bekal buat mereka, kalau nanti sudah lulus empat tahun lagi, mereka sudah punya ilmu berwirausaha,” harap Azis.

Selain beternak dan bercocok tanam, para santri juga dibangunkan pabrik yang memproduksi bermacam-macam keripik dari singkong, kentang, bakso, hingga jengkol. Tujuannya, memang untuk menopang pembiayaan pondok pesantren. “Jadi pendanaannya selain rezeki dari saya, pondok pesantren punya sumber pendapatan sendiri,” ungkapnya.

Ash-habul Aziziyah

Pada awalnya, Azis memberi nama pondok pesantrennya itu sesuai namanya, Pondok Pesantren Aziziyah. Namun ketika didaftarkan, ternyata sudah ada yang menggunakan nama tersebut, akhirnya namanya pun diganti menjadi Ash-habul Aziziyah. Artinya, jadi sahabat yang dimuliakan oleh Allah. “Rasulullah kan selalu dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Saya juga mendapat dukungan dari para sahabat,” tegas Azis.

Selain mendirikan pondok pesantren, rencananya Azis juga akan membuka sekolah formal gratis untuk anak-anak kurang mampu. Ia berharap anak-anak tersebut tetap bisa melanjutkan pendidikannya meski kekurangan biaya. “Saya ingin mereka gggak seperti saya dulu, sejak kecil sudah kerja cari uang sendiri,” kenang anak kedelapan dari sembilan bersaudara itu.

Membangun pondok pesantren, bagi Azis merupakan wujud baktinya kepada kedua orangtuanya. Terlebih secara khusus, untuk almarhumah ibunya, Surniah. “Ini adalah hadiah untuk ibu yang telah mengasuh dan membesarkan saya. Saya harap dengan membangun pesantren ini, bisa membalas kebaikan beliau,” ungkapnya.

Pada awal penerimaan santri baru, kira-kira seratus pendaftar mengikuti seleksi. Banyaknya pendaftar dan calon santri ini karena ketenaran Azis Gagap. Selain itu, tentu karena biaya pendidikan yang gratis. Pesantren ini berdiri tidak lepas dari peran besar Azis Gagap dan Donny Irwansyah serta dibantu oleh beberapa komponen pengurus yayasan.

Aktivitas sehari-hari di pondok pesantren Ash-habul Aziziyah, umumnya sama dengan pondok pesantren lainnya. Hanya bedanya ada budidaya perikanan, perkebunan dan peternakan yang telah menjadi rutinitas kepesantrenan yang sangat penting. Hal ini karena darisanalah salah satu sokongan dana untuk pesantren tersebut.

Setiap santri di pesantren ini, diwajibkan mengikuti arahan para pengurus Pondok. Selain belajar dan mengaji, santri juga memiliki kewajiban memberikan pakan ikan, membungkus mengurus memanen jambu kristal, bahkan mengurus peternakan kambing pedaging dan domba hias garut.

Dengan adanya tugas-tugas untuk santri ini, setidaknya mereka terdidik dan lebih produktif. Para santri juga dibekali dengan pelatihan seni marawis, menyanyikan lagu berbahasa jepang (salah satu kurikulum lokal pesantren), dan terkadang dilibatkan juga dalam kebutuhan pengambilan gambar atau syuting.

Itulah sisi lain dari Azis Gagap. Ia berharap sukses dan rezeki yang dimilikinya sekarang ini bisa bermanfaat bagi orang banyak. Baginya, hal-hal seperti inilah yang justru membuatnya bahagia. Adapun alamat Pesantren Ash-habul Aziziyah ini berlokasi di Jalan Raya Sadeng Paku, RT/RW 007/04 Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (njs/dbs)

 

 


Back to Top