Hari Santri Nasional

Ini Sisi Lain Tontowi Ahmad, Santri yang Dapat Medali Emas Olimpiade

gomuslim.co.id- Siapa yang tak kenal dengan sosok Tontowi Ahmad? satu-satunya peraih medali emas pada gelaran Olimpiade 2016 di Brazil. Bersama Liliana Natsir, Owi menjadi juara di cabang bulu tangkis ganda campuran. Sebelumnya tak ada yang menyangka, ternyata Owi (sapaan akrab Tantowi Ahmad) memiliki darah santri pada dirinya dan ayahnya.

Nama Owi tengah dielukan masyarakat Indonesia karena prestasinya yang mendunia dalam olahraga bulutangkis. Raihan medali emas di olimpiade tersebut bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-71. Kala itu Owi-Butet mengibarkan bendera merah putih sekaligus menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pada saat yang sama, jutaan santri juga tengah merayakan di masing-masing pondok pesantren. Heroisme santri meluap saat menyaksikan kemenangan Tontowi-Lilyana dalam turnamen bergengsi tersebut. Bangga sekaligus haru begitu mengetahui seorang santri dan putera bangsa mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi olahraga dunia.

Sebelum malang melintang di dunia tepok bulu, Owi ternyata pernah mondok di sebuah pesantren di Jawa Timur. Tontowi pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Pemuda kelahiran Banyumas, 18 Juli 1987 (29 tahun) itu juga merupakan lulusan SMK Ma'arif NU Selandaka, Sumpiuh, Banyumas.

Sebelum Owi  berlaga, broadcast kiriman doa untuk Tontowi sempat menjadi viral di grup-grup santri, baik Facebook maupun WhatsApp. Semua mendoakan kemenangannya. Owi pernah nyantri sekitar tahun 2000. Karena itulah Owi pantas didoakan oleh komunitas muslimin pesantren.

Ayah Owi, Muhammad Husni Muzaitun mengatakan, Owi memang menggemari olahraga bulutangkis sejak kecil. Dorongan menjadi atlet dalam diri Tontowi, tumbuh dan berkembang seiring dukungan darinya yang juga hobi bermain bulutangkis.

Darah bulutangkis ini kemudian mengalir dari ayahnya yang juga nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Husni sendiri memang seorang pebulu tangkis yang hebat. Setiap kali memegang raket, tak ada yang berani melawannya. “Dulu sewaktu di Gontor, enggak ada yang berani melawan nomor satu ini. Maaf, ini bukan takabur,” ujarnya mengenang peristiwa di Gontor sambil tertawa beberapa waktu lalu.

Bukan hanya gemblengan untuk menjadi juara dalam olahraga bulutangkis, Husni juga selalu menanamkan kepada Owi agar tak lupa untuk bersedekah. Hal ini termasuk semua yang selama ini Owi terima dari hasil keringatnya bertanding di lapangan bulutangkis. “Sejak Owi kecil, saya sudah mengharapkan Owi bisa jadi juara. Saya selalu berdoa dan minta munajat sama Allah,” tuturnya.

Contohnya saat Kementerian Pemuda dan Olahraga menjanjikan bonus Rp 5 miliar dan tunjangan hari tua kepada Owi/Butet setelah mendapat emas. Husni memastikan Owi untuk menzakatkan 2,5 persen dari bonus yang ia terima.

“Setiap bonus mesti dia sisihkan untuk zakat 2,5 persen. Setiap punya hasil dari pertandingan, bonus harus dikeluarkan untuk sedekah, kasih ke anak yatim piatu. Alhamdulillah saya sudah ajarkan ini sejak Owi muda,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Owi juga sempat berqurban sebagai bentuk rasa syukurnya. Ada yang khusus dilakukan Tontowi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain karena hewan kurbannya sapi, niatnya berqurban memang sudah ia lakukan sebelum perhelatan olimpiade di Brasil. “Alhamdulillah, kemarin juara, ini spesial, saya sudah niat jika saya meraih gelar juara saya akan berkurban di rumah saya, di kampung saya (Sumpiuh) dan di Pusdiklat PBSI,” katanya

Owi menambahkan, ibadah kurban adalah salah satu ajaran yang sangat penting, meskipun hukum berkurban tidaklah wajib bagi umat Islam yang tidak mampu. Ia pribadi  merasa bersyukur karena mendapat rezeki lebih dari PBSI, sehingga setiap tahun bisa melakukan kurban. “Qurban itu penting ditunaikan, karena manusia tidak sekedar mementingkan keduniawian tapi juga akhirat. Berkurban adalah salah satu perintah dari Allah kepada umat Islam,” ujarnya.

Selain sedekah, Owi punya kebiasaan menghubungi orangtuanya saat akan melakoni pertandingan apa pun. Hal demikian termasuk saat kemarin sebelum melakoni laga final. Bisa menelepon langsung atau cukup mengirimkan pesan. “Alhamdulillah syukur kepada Allah bisa menang,” ucap Owi saat menelpon ayahnya sebelum naik ke podium kehormatan untuk menerima medali emas.

Tentang keberhasilannya, Owi menilai semuanya berkat doa dan rangkaian usaha serta kerja keras dalam berlatih. “Berdoa, kerja keras, disiplin, mengatur waktu, itu penting, tapi yang paling penting adalah berdoa, karena menjadi juara tidak lepas dari  doa,” ucapnya. 

Di sisi lain, putra dari pasangan Muhammad Khusni dan Masruroh ini dulunya tidak suka olahraga bulu tangkis. Saat masih kecil, Owi lebih suka main kelereng ketimbang bulutangkis. Baru ketika lulus sekolah menengah pertama, ia benar-benar serius menyukai bulutangkis. “Namanya juga anak kecil. Dulu saya lebih suka main layangan dan gundu dengan teman-teman jadi maunya yang seneng-seneng aja,” paparnya.

Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir menjadi pahlawan Indonesia setelah berhasil meraih medali emas pada gelaran Olimpiade 2016 di Brazil. Owi dan Butet berhasil mengandaskan perlawanan pasangan asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dua set langsung 21-14, 21-12. (njs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top