Penasaran pada Islam, Begini Perjalanan Hijrah Ustadz Insan Mokoginta

gomuslim.co.id- Pengalaman beragama setiap muslim selalu berbeda-beda, seperti yang dialami oleh mualaf yang satu ini. Namanya Insan Mokoginta. Meski sejak kecil terlahir dari keluarga muslim, tak lantas membuat Insan langsung memeluk Islam. Hal demikian lantaran kedua orangtua yang memberikan kebebasan beragama kepada anak-anaknya.

Dalam keterangan yang diterima gomuslim, Insan bercerita bahwa ibunya seorang muslim dan ayahnya non muslim. Setelah menikah, barulah ayahnya masuk Islam. “Aku lahir sebagai seorang Muslim. Karena pada waktu itu  orangtuaku beranggapan semua agama benar, semua agama sama. Kami delapan orang bersaudara. Semuanya disekolahkan di sekolah Katolik,” ujar dai Dewan Dakwah Islam Indonesia ini.

Pria kelahiran Kotamobagu Manado 8 September 1949 ini lantas memilih agama Katolik karena pengaruh lingkungan dan pendidikan di Sekolah. Menurut orangtuanya saat itu, bilamana anak-anaknya telah dewasa, mereka dipersilakan untuk memilih agama apa. “Nah pengaruh sekolah itulah membuat kami semua beragama Katolik,” katanya.

Kesulitan ekonomi pada tahun 1967, menjadi awal mula bagi Insan kembali mengenal indahnya Islam. Saat itu, dia pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di sanalah kemudian Insan bertemu dengan seorang muslim bernama Waruba Yarub. “Aku mengenalnya dalam rangka hubungan bisnis. Aku menempati salah satu kamar rumahnya. Namun Waruba dan keluarganya berbeda dengan kebanyakan Muslim yang aku kenal,” ucapnya.

Selama tinggal di rumah Waruba, Insan sering memperhatikan keluarga tersebut dari kamarnya.  Waruba dan keluarganya selalu berusaha hidup dengan cara Islam.  “Kerap kali aku memergoki mereka shalat berjamaah. Waruba sering sekali mengajari anak-anaknya tentang Islam. Karena setiap hari aku berada di lingkungan keluarga yang islami tersebut, dari situlah aku rasakan adanya sentuhan-sentuhan hati,” paparnya.

Empat tahun berjalan, hubungan bisnis Insan dan Waruba berjalan lancar. Selama itu pula Insan bergaul dan berada dalam lingkungan keluarga sakinah. “Mereka tidak pernah sekalipun memaksa aku untuk masuk Islam. Namun mereka selalu menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Bersama mereka, aku merasakan bahwa kehidupan beragama dalam Islam ternyata jauh lebih harmonis,” ungkapnya.

Pada saat bersamaan, Insan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam hal keimanannya. Dia pun kebingungan ketika ditanya oleh Namila, adik perempuan Waruba yang kuliah di IAIN Jakarta. “Aku hampir kelabakan saat Namila bertanya tentang mengapa Tuhan ada tiga?,” ucap Insan.

Lantas, Insan menjawab bahwa hal tersebut sebagai rahasia Tuhan, otak manusia terlalu kecil untuk memikirkan hal itu. “Jawaban aku tentu saja tidak membuat mereka puas. Bahkan, Waruba dan Namila menjelaskan Tuhan itu Esa. Itu sangat memuaskanku. Aku pun buka kartu kepadanya karena di agam sebelumnya tidak terbiasa menanyakan masalah itu lebih detail kepada pemuka agama. Kami hanya disuruh mengimaninya begitu saja tanpa harus tahu mengapa begitu, itulah yang disebut dengan dogma,” papar Insan.

Seringnya dialog dan diskusi keagamaan dengan keluarga Waruba, Insan semakin penasaran dan merasakan kebenaran Islam. Dia mengaku dalam agama sebelumnya, masalah akidah dan akhlak tidak secara khusus diajarkan, apalagi soal halal dan haram. “Justru dalam Islam soal akidah dan akhlak sangat diutamakan,” kata Insan.

Tidak hanya itu, keluarga Waruba menganggap Insan seperti keluarganya sendiri. “Mereka memperlakukan aku seperti saudara mereka. Sangat perhatian kepadaku. Aku selalu diajarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah, Allah lah tempat bergantung segala sesuatu, Allah tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan. Aku pun dilarang curang dalam menimbang karena itu perbuatan dosa. Aku selalu dibimbing untuk selalu berbuat jujur oleh Waruba,” ujarnya.

Selain itu, Waruba juga mempersilahkan Insan untuk mendalami ajaran Islam dan membandingkannya sendiri dengan apa yang aku baca dalam Alkitab (Bible). “Akhirnya aku temukan, sesungguhnya Yesus bukan tuhan tetapi hanyalah hamba dan utusan Allah SWT. Ternyata bila umat Islam benar-benar mengamalkan Alquran berarti umat Islamlah yang mengamalkan ajaran kasih sayang dan umat Islamlah pengikut Yesus dalam arti yang sesungguhnya,” ucapnya.

Akhirnya, pada 1980, saat Insan berusia 31 tahun, dia memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dengan dibimbing oleh Imam Masjid Al Muqarabin Muhammad Hafidz di Kelapa Dua Cimanggis Depok. “Syahadat itu aku ucapkan karena aku yakin memang harus masuk Islam bila ingin menjadi seorang pengikut Yesus sejati,” imbuhnya.

Setelah kembali memeluk Islam, Insan mulai terjun di dunia dakwah. Karir dakwahnya dimulai dari aktivitasnya menulis buku kristologi. Buku itu lalu diperbanyak dan disebarluaskan agar dibaca oleh umat. Dari menulis buku, Insan kemudian memberanikan diri untuk tampil di depan umum

Kesibukannya dalam menyebarkan ajaran Islam membuat bisnis yang telah ia rintis, kini diurus oleh isteri dan anaknya. “Konsekuensinya bisnis saya tidak terurus lagi dan saya serahkan kepada isteri dan anak-anak, karena waktu saya sudah tersita untuk dakwah,” ujar pemilik toko material bangunan ini.

Dakwah Insan pun merambah sampai ke luar negeri. Langkah nyata yang dilakukannya adalah dengan mendirikan perpustakaan Birrul Walidain di Hong Kong. Insan juga menyuplai buku-buku dan VCD Kristologi yang menjadi andalannya dalam dakwah Islam. (njs/dbs)

 


Back to Top