Dapat Hidayah dari Sang Anak, Mantan Presenter Olahraga Ini Mantapkan Hati Berhijrah dengan Berhijab

gomuslim.co.id- Cerita hijrah yang biasa kita dengar adalah cerita epic yang mengantarkan si pencerita sampai ke titik terendah dalam hidupnya, sehingga ia tidak bisa ke titik yang lebih rendah dari itu. Dengan Hidayah, si pencerita kembali merangkak ke atas sampai ke titik hijrah, di mana ia berhasil membaca pertanda yang diberikan oleh Allah SWT, dan ia pun ikhlas membawa dirinya ke tempat yang lebih baik. Tapi itu tidak terjadi pada saya!

Begitulah sekelumit penggalan kisah hijrah yang dialami Ratu Anandita yang kini mantap berhijab.

Menjadi Muslimah Sejati

Wanita kelahiran 31 Januari 1984 ini mengawali karirnya sebagai presenter di salah satu stasiun tv swasta dan saat itu pula dirinya belum berhijab, kemudian setelah menikah dan dianugerahi satu orang putri barulah hatinya tergerak untuk menjemput jalan hijrah sang Illahi robi.

Kepada gomuslim, wanita yang akrab disapa Dita mengaku dirinya baik-baik saja, dalam kasus “Pola Seimbang Versi Aku” dirinya merasa nyaman dengan apa yang ia jalankan. Dididik oleh keluarga Islami, semua kewajiban umat Muslim seperti menunaikan zakat, sedekah, umroh, dan shaum ia jalankan. Sekolah pun mulus-mulus saja, tidak pernah tinggal kelas, bahkan ia pun pernah bersekolah di sekolah Islam. Terdengarnya seperti tidak ada masalah, namun justru di situlah masalahnya.

“Saya merasakan diri saya berada pada ‘golongan tengah’, dalam QS Fathir 35: 32 yang  mengartikan ‘golongan tengah’ adalah mereka yang menjalankan ibadah namun masih menjalankan perbuatan maksiat, itu yang membuat saya merasa ada di golongan tengah,” pungkas Dita.

Dirinya merasa tidak mudah untuk membaca sinyal-sinyal atau tanda-tanda hidayah dari Allah SWT, sebab diri ini merasa ‘hidup kita baik-baik saja’. “Dan sedihnya, ternyata banyak orang yang berada di posisi seperti saya orang yang merasa hidupnya aman, cukup dengan berakhlak baik, merasa ilmu agama-nya sempurna karena sudah didapatkan dari kecil, padahal masih banyak ilmu yang belum kita tau,” ujarnya.

Putriku Berhijab, Aku?

Ketika memutuskan untuk berhijab, wanita yang menyukai berbagi inspirasi positif ini mengaku tidak ada paksaan dari mana pun. Semua ia lakukan karena Allah semata, karena sinyal-sinyal yang Allah berikan kemudian ia tangkap melalui putri pertamanya yang menjadi inspirasi dirinya untuk berhijab.

Dalam usia yang masih 8 tahun, putri pertamanya sudah mengenakan hijab. Dia minta untuk kenakan hijab ke sekolah karena menurutnya tampil berhijab lebih rapih dan sopan, padahal, sekolahnya tidak mewajibkan untuk berhijab.

“Tentunya saya senang sekali, siapa yang tidak senang memiliki anak masih 8 tahun, tapi sudah bisa membuat keputusan hebat. Namun selang beberapa bulan ia melepas hijabnya, lalu saya tanya sebabnya, ia bilang aku ngak mau ibu diketawain temen-temen aku, soalnya temen-temen ku bilang kamu kok aneh sih, biasanya kan ibunya pake hijab, anaknya ngak, tapi kalo kamu anaknya pake hijab, ibunya ngak,” papar Dita.

Dari situlah akhirnya ia memantapkan hati untuk berhijab karena yakin kalau semua orang pasti akan diberikan sinyal hidayah oleh Allah dengan cara yang berbeda-beda.  “Namun kembali lagi kepada diri sendiri apakah kita mau merespon sinyal itu dengan cepat? atau kita akan terus menunda sampai waktu kita habis,” katanya.

Inilah Hijrahku “Berhijab”

Selain sosok putri pertamanya yang memantapkan dirinya berhijab, ia mendapat banyak inspirasi dan pembelajaran dari Komunitas Terang Jakarta yang menjadi wadah generasi muda dalam meningkatkan ibadah kepada Allah SWT secara syar'i.

“Melalui komunitas ini, saya merasakan setiap hari nya berkumpul dengan teman-teman soleh/solehah yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan keimanan,” tukasnya.

Kehadiran guru panutan sekaligus ustadz yang berpengaruh dalam mengajarkan ilmu dengan berpegang teguh pada Alquran dan sunnah Rasullullah SAW di antaranya; Ust. Khalid Basalamah, Ust. Abi makki, Ust. Adi Hidayat, Ust. Syafiq Riza Basalamah, dan Ust. Nuzul dzikri. “Ketegasan beliau-beliau-lah yang membuat hati saya semakin mantab menjalani Islam secara kaffah Insyallah, saya juga masih terus belajar,” ujarnya.

Pasca Berhijab

Setelah dirinya berhijab, Dita lebih tenang memilih pekerjaan sesuai dengan syariat yang harus dijalankan. Dirinya mengaku ada keterbatasan ruang lingkup dalam pekerjaannya. Namun nikmat yang ia rasakan lebih membuat hati nyaman. “Alhamdulillah rejeki bisa datang darimana saja, bahkan dari tempat yang tak terduga,” pungkasnya.

Wanita penyuka warna hijau ini mengaku tidak ada perlakukan yang berbeda dari teman-temannya karena mereka pun bukan dari kalangan yang telalu jauh dari agama dan bisa menerima. “Pasti ada sih sedikit perbedaan ‘frekuensi’ semenjak saya hijrah, namun bukan masalah besar dan tidak terlalu berefek apa-apa pada pertemanan kami,” ujarnya.

Bagiku Hijab dan Hijrah Adalah...

Dalam berpenampilan, Dita menyukai pakaian yang sesuai syariat, meskipun dirinya belum berhijab syar’i namun dirinya berusaha untuk tidak memakai baju yang ketat atau menerawang dan mengusahakan semaksimal mungkin menutup aurat termasuk punggung kaki.

Dirinya menilai hijab adalah simbol ketaqwaan seorang wanita Muslim, dengan berhijab akhlak dan perilaku wanita juga harus baik. “Kalau sudah berhijab, kita harus jadi wanita yang menyenangkan. Seperti menaati rambu lalu lintas dan berkata sopan, karena image hijabnya pasti dinilai orang lain,” tandas wanita yang menyukai kisah-kisah wanita teladan zaman kenabian.

Baginya berhijab dan berhijrah adalah jawaban atas kekosongan yang selama ini ia rasakan dalam dirinya. “Bagi saya inti berhijrah adalah mengejar hidayah, bukan menunggu mendapat hidayah. Karena nikmat hijrah itu luar biasa, kita bisa merasakan jadi orang yang baru, dengan pengalaman yang baru. Dan hati rasanya, Insyallah tenang terus, itu yang paling utama. Buat apa hidup serba ada jika hatinya penuh kegelisahan,” tutur Dita. (nat)

 

 Baca juga: 

Terangi Jalan Hijrah Anak Muda Bersama Komunitas Terang Jakarta

 

 

 


Back to Top