Kisah Inspiratif Sekjen Mualaf Center Indonesia

Sepuluh Tahun Belajar Islam, Ardy Widiantoro Dapat Hidayah Setelah Mimpi Masuk Neraka

gomuslim.co.id- Hidayah tidak selalu datang dengan sendirinya. Tetapi melalui proses perjalanan dan perjuangan yang cukup panjang. Seseorang yang mendapatkan hidayah sejatinya adalah balasan bagi mereka yang tiada henti mencari kebenaran hakiki. Karena Islam hadir untuk orang-orang yang berserah diri.

Hal inilah yang terjadi pada seorang Gregorius Ardy Christmas Widiantoro. Selama sepuluh tahun ia belajar Islam sebelum akhirnya memutuskan untuk bersyahadat. Pria yang terlahir dari suami istri murtadin (karena masalah ekonomi) ini sejak kecil aktif mengikuti layanan di lingkungan gereja Santo Thomas Kelapa Dua Depok, Jawa Barat.

Kepada gomuslim, Ardy, begitu ia akrab disapa, bercerita bahwa dirinya merasa tersinggung saat guru agamanya di Sekolah Dasar mengatakan hanya Islam agama yang diridhai Allah SWT. “Waktu itu kelas enam SD, saya sakit hati mendengar guru saya menyebutkan salah satu ayat Alquran yaitu Surat Ali Imran Ayat 19. Ini sangat bertentangan dengan agama yang saya yakini saat itu,” ujarnya saat ditemui di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (11/05//2017).

Bertahun-tahun, Ardy begitu membenci Islam dan kaum muslim. Namun, dibalik kebenciannya itu diam-diam ia mulai penasaran dengan Islam. Bahkan, ia pernah ikut berpuasa saat bulan ramadhan. “Ya waktu itu sembunyi-sembunyi, saya ikutan puasa juga. Karena kebanyakan teman-teman saya beragama Islam,” tuturnya.

Sampai suatu hari, Ardy memanjatkan doa kepada Tuhannya supaya ditunjukan jalan yang lurus, petunjuk supaya mendapat keselamatan. Doa itu pun kemudian dijawab yang Maha Kuasa melalui mimpi yang sama setiap malam selama sepekan.

Dalam mimpinya, Ardy berjalan di atas bara panas dan akan dilempar dalam jurang yang gelap, dalam mimpi itu beliau menyebut nama 3 Tuhannya, dan selalu terbangun dalam keadaan basah bekeringat dari tempat tidurnya. Meski sebenarnya kamarnya berpendingin udara (ber-AC).

“Anehnya, ko mimpi saya setiap malam selalu sama. Begitu terus. Saya seperti masuk ke sebuah tempat yang panas. Tapi gak sampai dasar banget. Dan saat itu juga saya terbangun. Keringat mengalir deras seolah saya benar-benar ada diatas api,” katanya.

Pada minggu terakhir setelah mengalami mimpi yang sama dan dalam mimpi itu dari mulutnya keluar kata-kata Allahu Akbar dan terbangun sejak itu mimpi itu tidak terjadi lagi. “Mimpi terakhir inilah yang membuat diri saya sangat bingung, bimbang, dan jiwa saya bener-bener goncang,” ucapnya.  

Akhirnya meskipun belum bersyahadat beliau mencoba mengikuti shalat dan berpuasa sebagaimana kewajiban seorang Muslim. Dan terkadang karena keterbatasannya mencoba shalat sendiri, dimana shalat dzuhur dan asharnya sering salah menjadi 3 rakat.

“Jadi di kantor itu ada sebuah ruangan kecil gitu, biasanya tempat shalat. Nah, pas lagi sepi kadang saya juga praktek shalat, padahal belum syahadat waktu itu. Saya shalat aja tanpa belum tau ilmunya. Pas dzuhur, saya shalat hanya 3 rakaat. Lalu, saya baru tau ketika dengar pengajian bahwa dzuhur itu empat rakaat. Kebetulan rumah saya juga deket Masjid,” kenangnya.

Setelah mencoba shalat, Ardy merasakan ada kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan lahir batin yang tidak dirasakannya dalam agama sebelumnya. Ardy yang mempunyai sahabat yang muslim pun mengungkapkan keinginannya untuk bersyahadat.

 

“Saya masih ingat, waktu itu hari Jumat. Setelah sahabat saya shalat Jumat, saya utarakan keinginan saya untuk syahadat. Sontak dia langsung kaget mendengar ucapan saya. “ah seriusan lu ?” tanyanya seolah tidak percaya. Saya pun meyakinkan dia bahwa saya benar-benar ingin masuk Islam,” paparnya.

Dengan dibimbing oleh seorang Ustadz akhirnya Ardy pun bersyahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa. “Sebelum syahadat, saya ditanya dulu surat baptis. Saya cari dulu tuh, dan ketemu. Waktu itu juga saya bersyahadat disaksikan teman saya dan beberapa yang hadir di lantai 4 Masjid Sunda Kelapa,” ujarnya.

Lulusan Universitas Kristen Indonesia tahun 2014 ini pun mengaku lega setelah bersyahadat. Ia juga tak mengalami kesulitan saat melaksanakan wudhu, shalat dan lainnya karena sebelumnya telah belajar ke beberapa temannya.

Setelah resmi memeluk Islam, namanya berganti menjadi Ibrahim Ardy Widiantoro. Setiap hari bersama-sama komunitas Mualaf Center Indonesia menjalin silaturrahiim dalam ukhuwah islamiyah bersama.

Seperti mualaf lainnya, Ardy pun mendapat tantangan besar dari keluarga dan teman-temannya. Perlakukan dikucilkan, terusir, dijahati dan dizolimi menjadi cobaan dan perjuangan Ardy dalam mempertahankan keimanan. 

Meski demikian, ia tetap semangat untuk belajar membaca Alquran dan Islam. Ketenangan, kedamaian dan kebahagiaannya tidak terusik oleh kejahatan-kejahatan oknum yang tidak menyukai keputusannya. 

“Orangtua saya tentu marah besar. Saya dianggap anak durhaka. Bahkan, saya dibilang akan dikutuk karena memeluk Islam. Butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk meluluhkan hati kedua orangtua saya. Waktu saya mengenalkan calon isteri saya yang berhijab pun tidak direspon baik,” ungkapnya.

Saat ini, Ardy menjabat sebagai Sekjen Mualaf Center Indonesia (MCI). Selain rutin menghadiri undangan kajian di beberapa tempat, ia juga aktif menjadi kepala cabang Laznas LMI cabang DKI Jakarta. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Iman, Islam beliau dan tetap teguh dalam mensyiarkan Islam. Aamiin. (njs)   

 


Back to Top