Berawal dari Penasaran Tentang Nabi dan Wudhu, Begini Kisah Mualaf Abdul Aziz Laia Temukan Islam 

gomuslim.co.id- Jalan setiap mualaf dalam menemukan Islam berbeda-beda. Mereka melewati proses panjang untuk meraih hidayah yang begitu berharga. Karena hidayah memeluk Islam adalah sebuah keutamaan yang tidak semua orang mendapatkannya.  

Salah satunya seperti yang dialami oleh Abdul Aziz Laia, seorang mualaf yang kini gigih dalam dakwah Islam. Laki-laki kelahiran Nias, 25 Oktober 1980 ini awalnya merupakan seorang penganut Kristen yang taat. Bahkan, sejak kecil ia telah dididik untuk menjadi seorang misionaris gereja.

Kepada gomuslim, pria bernama asli Lianus Laia ini tertarik kepada Islam karena sosok guru perempuannya yang dikenal sangat baik saat duduk di bangku SMP. Guru tersebut mengenakan kerudung dengan mengenakan pakaian menurup aurat hingga kakinya.

“Bagi saya ini ada ini adalah hal yang beda. Tutur kata beliau lembut, sopan dan santun baik kepada siswa dan orang lain sehingga membuat saya kagum. Saya belum pernah menemukan orang seperti itu waktu SD,” ujarnya.

Beranjak dewasa dan duduk di bangku SMA, rasa keingintahuannya tentang Islam semakin mendalam. Apalagi saat itu Aziz tinggal di lingkungan yang mayoritas muslim di Medan. “Sering sekali mendengarkan tilawan Alquran khususnya surt Al Anbiya dan Maryam serta tausiyah agama Islam dari KH Zainuddin MZ yang diputar setiap sore menjelang maghrib,” katanya.

Saat itulah, Aziz merasa gundah luar biasa. Ia heran mengapa dalam Islam juga membicarakan tentang nabi?. “Saya sangat heran, nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah kami (Kristiani) pelajari,” ungkapnya.

Mulai dari sana, ia pun lebih sering memperhatikan umat Islam melakukan wudhu. Ia kaget karena ternyata Islam juga mengajarkan cara bersuci yang bahkan lebih kompleks dari sekadar mencuci muka, tangan dan kaki. Di dalam wudhu malah ada berkumur, membasuh kepala dan telinga.

“Ini seakan menjadi pelengkap ajaran Kristen. Karena itulah saya menyimpulkan bahwa inilah cara yang sempurna dalam menyucikan diri. Ini yang membuat saya tertarik pada Islam karena kelengkapannya,” pikir dia waktu itu.

Gerak-gerik Aziz yang mulai jarang ke gereja pun dicurigai oleh pamannya. Ia pun menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya, mulai dari yang dia dengar sampai yang dia lihat dalam Islam.

“Mendengar penjelasan saya waktu itu, mereka marah dan mengancam mengusir dan mengeluarkan saya dari silsilah keluarga. Saya pun mengikuti kemauan mereka karena saat itu belum mengenal Islam secara utuh,” kenangnya.

Sejak kejadian tadi, Aziz lebih sering diawasi keluarganya. Namun, rasa penasaran tentang Islam masih besar. Ia mulai mendengarkan khutbah Jumat, dan duduk di luar masjid sambil sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan.

“Saya juga perlahan mengikuti umat muslim puasa. Ini karena teman-teman dekatku adalah muslim. Jadi apa yang mereka lakukan tak jarang saya lakukan juga. Entah kenapa, mungkin karena sangkin percayanya teman-teman kepada saya. Sering juga diajak melihat-lihat masjid,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan sekolah di SMK Prayatna Medan, Aziz bertolak ke Perawang, Riau. Di sana ia bekerja di parbrik kertas. Kepindahannya ke tempat baru pun ia bertemu dengan orang yang mengenalkan Islam lebih lanjut.

Dua tahun bekerja di parbrik, Aziz mulai membandingkan Islam dan agama sebelumnya. Ia mengaku menemukan banyak keganjalan. Misalnya, perayaan hari keagamaan mengapa harus dirayakan dengan mabuk-mabukan? Lalu sedemikian mudahkah menebus dosa tersebut?

Ia juga bertanya tentang siapa Nabi MuhammadSAW, bagaimana posisi Isa AS, dan Maryam dalam Islam dan mengapa babi haram dimakan. Sang Ustadz pun menjelaskan bahwa Nabi Muhammad disebutkan dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran dan Al Kitab dulu.

“Mendengar jawaban ustadz tadi, saya semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki Surah bernama Maryam, sementara di agamaku dulu tidak ada. Dan banyak lagi keganjlan-keganjilan lainnya,” ucapnya.

Beribu pertanyaan muncul sebagai bentuk perdebatan pikiran dalam diri Aziz. Selain mendengar, membaca dan melihat berbagai kisah yang sangat bertolak belakang dengan rasionalitas yang ia miliki, Aziz juga semakin merasakan keraguan terhadap agama lamanya.

“Kebenaran inilah yang membuat saya seperti terbuat oleh Islam dan seperti tidak sanggup untuk menolaknya. Saya pun tidak ingin menunda lagi, saya meminta diislamkan dua minggu setelah saya merayakan Natal. Nama pun diganti dari Lianus Laian menjadi Abdul Aziz Laia,” paparnya.

Aziz tidak menceritakan kepindahannya menjadi Islam kepada keluarga karena ia merasa masih lemah dan membutuhkan bimbingan untuk mendalami Islam. Namun, kabar itu rupanya telah sampai kepada keluarganya.

“Saat pulang kampung, saya dipaksa memakan daging babi dan disiram dengan air daging babi mentah sambil dipukul dihadapan keluarga. Begitupun ketika kembali ke Paman di Riau, ia memaksaku juga dan menceburkanku ke dalam kolam dan dihadapkan ke sintua gereja, tetapi hatiku tetap menolak, meski berlumuran darah, aku tetap mempertahankan kalimat Laa Ilaha Illa Allah dan Muhammadarr rasulullah dalam hatu sanubariku,” kisahnya.

Berselang enam bulan setelah kejadian tadi, ia mulai lepas dari cengkraman pamannya. Dengan sedikit kemapanan ekonomi, Aziz pun menyewa rumah dekat masjid agar tetap aktif melaksanakan shalat berjamaah dan mengikuti kajian Islam.

Aziz yang dulu seorang yang nakal dan menentang Islam kini justru menjadi sosok yang gigih dalam dakwah Islam. “Dulu saat melewati pemukiman muslim, dan melihat pakaian dan simbol-simbol agama Islam, aku langsung ingin membakarnya. Namun, kini aku ingin menjadi sosok yang begitu dekat dengan Islam,” harapnya.

Ia juga tetap menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Perlahan kedua orang tuanya mulai menerima dia sebagai orang Islam. Aziz membantu sebagian kebutuhan ekonomi orang tuanya dan menyekolahkan adik-adiknya. “Islam sangat memuliakan orang tua, tak boleh sedikit pun membantah keduanya walau berkata ‘ah’,” katanya.

Beberapa tahun kemudian, ia pun dipercaya masyarakat sekitar untuk menjadi ketua remaja masjid dan membina para pemuda-pemudi. Selain itu, Aziz juga memberikan perhatian khusus kepada masyarakat muslim yang berasal dari Nias dan bersama-sama membentuk perkumpulan majelis ta’lim di Perawang.

Kesungguhan Aziz dalam berislam akhirnya mendapat kepercayaan dari masyarakat. Ia diminta untuk mendalami ilmu agama Islam di pulau Jawa. Tak disangka, dia bertolak dari Riau dengan membawa uang sebesar 13 juta, yang dikumpulkan oleh masyarakat.

“Pandeglang dan Tasikmalaya menjadi tempat belajar saya. Namun selama setahun lebih saya masih belum mendapat kepuasan batin dalam proses pencarian ini. Sampai akhirnya saya bertemu Ustadz Syamsul Arifin Nababan, mualaf asal Sumatera Utara yang getol mendakwahkan Islam dan mengasuh pesantren pembinaan khsusus mualaf. Beliaulah yang mendidik dan mengajari saya hingga kini,” paparnya.

Saat ini, Ustadz Aziz atau Bang Aziz (panggilan akrab di pesantren mualaf) turut membimbing para mualaf di Pesantren Annaba, Ciputat Tangerang Selatan. Ayah dua orang anak ini juga sudah menyelesaikan studi kuliahnya di LIPIA dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al Hikmah, Jakarta Selatan.

Selain membina mualaf, Aziz juga mengajar di SMA Islam Sinar Cendekia. Ustadz Aziz juga tidak jarang mengisi pengajian dan khutbah keagamaan di masyarakat. “Subhanallah, kehidupan ini menjadi sangat indah dengan Islam. Keindahan ini tidak akan kugadaikan dengan apa pun. Diiming-imingi apapun, dan diancam dengan apapun. Aku tidak akan pernah meninggalkan agama ini. Jiwa ragaku untuk Islam,” tutupnya. (njs)          


Back to Top