Dua Kakbah: Penghubung Poros Langit dan Bumi

Selama ini kita hanya mengenal satu Kakbah di kota Mekkah, namun sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan Kakbah di Baitul Makmur, di atas langit ketujuh sebagai pusat thawaf para Malaikat sebagaimana Kakbah di bumi tempat thawaf umat manusia. Sejak detik penciptaan, Kakbah di bumi menyimpan berjuta keistimewaan bagi semesta mahluk. Tidak saja para malaikat yang terlibat langsung dalam kehadiran Kakbah di muka bumi, bahkan sejak manusia pertama menjejakkan kaki di tanah hingga hari ini tidak ada yang tidak terkait dan terikat dengan Kakbah.

Demikianlah mahluk-mahluk Allah menjadikan Kakbah sebagai titik sambung menuju ke-Tuhan-an yang transenden dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi hingga hari ini dan kelak hari akhir. Kakbah di bumi adalah pusat konsentasi yang langsung tersambung  lurus dengan ‘kakbah’ pertama di bawah Arsy Allah.  Nabi mengumpamakan jika ada yang jatuh dari Arsy, maka akan turun persis di Kakbah. Disebabkan keberadaan Kakbah itulah posisi bumi di jagad raya ini menjadi mulia, dipilih sebagai tempat kehidupan manusia dan disebut Allah lebih sering berkali-kali dalam kitab suci dibanding planet lain di alam raya ini.

Untuk memahami Kakbah maka penjelasan pertama adalah dari sumber konteks justifikasi sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab suci sebagai sumber primer. Selanjutnya ketika memasuki zaman sejarah, ketika mulai ada riwayat dan catatan, keberadaan Kakbah baru dapat ditelusuri secara historis dan pendekatan pendukung lain.

Istilah Kakbah disebut melalui firman Allah dalam Alquran surat al-Ma'idah: 95-97  dengan kata “Kakbah” yang mengacu pada Kakbah di Masjidil Haram Kota Mekkah sebagaimana kita kenal sampai detik ini. Dengan akar kata yang sama tetapi mengacu pada makna lain terdapat dalam surat  al-Ma'idah: 6, dengan penyebutan ‘ka'bain’ atau bentuk tasniah (dua) untuk makna ‘dua mata kaki’.  Kakbah belakangan juga mengacu pada bangunan-bangunan bentuk kubis persegi empat lainnya (rubui).

Dengan referensi dalam Alquran itu, dapat ditelusuri arti dan makna serta asal-usul kata Kakbah dari kata dasar "al-ka'bu" yang berarti "mata kaki" atau tumpuan kaki bergerak melangkah. Dengan demikian Kakbah mengandung pengertian "mata bumi" atau "sumbu bumi" yang terus berputar pada poros berotasi dan berevolusi. 

Keterangan sepintas di atas sudah memberi pengertian yang jelas, bahwa Kakbah  secara bahasa saja sudah mengandung makna pusat atau poros dari sesuatu. Konsepsi atau makna justifikasi itu didukung fakta alamiah dan ilmiah yang menempatkan Kakbah secara posisi atau peletakan geografis terbukti tepat berada di pusat bumi. Berdasarkan prosedur ilmiah, bahwa Kakbah di Mekkah nyata-nyata berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan studi-studi dan gambar-gambar satelit. Selain para ahli yang bekerja secara khusus untuk membuktikan keistimewaan Kakbah di muka bumi dengan berbagai eksperimentasi dan perhitungan-perhitungan jlimet, secara sederhana juga dapat dibuktikan dengan menggunakan sebuah peta kemudian dari kota Mekkah ditarik ke garis ke tujuh penjuru benua (Asia, Australia, Afrika, Eropa, Amerika dan dua benua kutup),  maka titik tengahnya akan bertemu di Kakbah.

Menakjubkan, pada titik tersebut jika ditarik jarak ke kutub utara dan selatan, ke barat dan ke timur, terbukti sangat presisi dan selalu bertemu angka konstan yang konstrain dan proporsional. Pertemuan diametris dari berbagai arah yang seimbang itu pasti melewati titik tengah tepat di Kakbah. Fakta ilmiah tersebut sesuai dengan fakta alamiah bahwa secara qudrati, sunnatullah dan takdir Allah, pada Kakbah tersebutlah diputuskan oleh ‘Yang Maha Mengatur’ sebagai titik bumi. Dengan demikian, seharusnya yang paling tepat dijadikan sebagai patokan “titiknol” dunia dan pedoman pembagian waktu internasional adalah Kota Mekkah, bukan  Greenwich, London, seperti selama ini salah kaprah dipaksakan berlaku sejak Inggris menjajah segenap penjuru dunia.

 

Planet Yang Terpilih

Bukti-bukti kebenaran yang dapat ditelusuri secara ilmiah itu sesuai dengan ketetapan Allah SWT yang banyak dituangkan dalam Alquran dan hadits Nabi.  Alquran dan hadist  menerangkan langit dan bumi sama-sama berlapis 7 dan keduanya memiliki titik yang saling terkoneksi. Masing-masing berentang, berotasi dan berevolusi, bergerak secara padu dari masa penciptaan hingga hari kiamat. Titik koneksi itu kemudian diketahui beradai Kakbah. Pada titik pusat bumi itu kemudian ummat Nabi menghadapkan shalat dari seluruh penjuru hamparan dan pada titik ini pula, jutaan manusia sejak zaman Nabi Adam hingga detik ini berthawaf, mengelilingi area yang lurus ke Baitul Ma’mur di bawah Arsy-nya Allah yang setiap hari juga dikelilingi ribuan Malaikat. Pada titik itu pula sudah miliaran manusia dari seluruh penjuru bumi datang.

 

…Ja’alallahul ka’batal baital harama qiyamallinnasi….“Allah Telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia, dan demikian pula bulan Haram, had-ya, qalaid. Allah menjadikan yang demikian itu agar kamu tahu, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS al-Maidah: 97). Nabi Muhammad SAW bersabda: "Wahai orang-orang Mekkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah pertengahan langit."

“Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.” - “Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus melintasi penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 33-34).    - Rasulullah bersabda, “Baitullah al-Haram adalah tanah suci poros tujuh langit dan tujuh bumi.” (Akhbar Mekkah, dikutip oleh Mujahid dari Syu’ab Al-Iyman karya Al-Baihaqi)”

Dari Qotadah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Baitul Ma’mur adalah sebuah masjid di langit yang lurus dengan Kakbah, seandainya Baitul Ma’mur itu jatuh niscaya menimpa pada Kakbah. Setiap hari ada tujuh puluh ribu Malaikat yang masuk kedalamnya, ketika mereka telah keluar, mereka tidak pernah kembali ke Baitul Makmur. (HR. Ibnu Jarir, fii Fatkh Al Baari Juz 9 Hal. 493). Artinya, ribuan Malaikat baru masuk berthawaf setiap saat.

 Demikian pentingnya keberadaan Kakbah di hadapan Arsy, hingga tidak kurang 20 kali dalam ayat dan surat yang berbeda-beda dalam Alquran Allah menyandingkan (bainiah) antara langit dan bumi, yiatu dalam:  Al-Ma’idah (5):17,18 -  Al-Hijr (15):85 -  Maryam (19):65 -  Thaha (20):6 -  Al-Anbiya’ (21):16 -  Al-Furqan (2):59 -  Asy-Syu’ara (26):24 -  Ar-Rum (30):8 - As-Sajdah (32):4 - Ash-Shaffat (37):5 -  Shad (38):10,27,66 -  Az-Zukhruf (43):85 - Ad-Dukhan (44):7,38 - Al-Ahqaf (46):3 -  Qaf (50):38 - An-Naba’ (78):37.

 

Rasio Ars dan Bumi: Sehari = 1000 Tahun

Jika bukan karena keberadan Kakbah, tentu saja posisi bumi tidak akan sepenting itu karena bumi hanya bagian kecil atau tidak kurang seperti titik dalam hamparan makrokosmos yang maha luas. Sampai-sampai digambarkan dalam Alquran 1000 tahun putaran bumi sebanding dengan sekali putaran saja di Arsy Allah:

….fi yaumin kana miqdaruhu alfa sanatin mimma tauddun…“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” QS as Sajadah 32:5.

….wa inna yauman inda rabbika ka alfi sanatin mimma tauddun…” dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. QS al-Hajj 22: 47.

….takhrujulmalaikatu warruhu ilaihi fi yaumin kana miqdaruhu khamsina alfa sanatin…” Para Malaikat dan Jibril menghadap Tuhan, dalam sehari setara dengan 50 ribu tahun.” QS al Maarij 70:4.

Para ilmuwan memahami makna 1000 tahun hari di bumi sebanding dengan sehari dalam hitungan di Arsy bukanlah tamsil seperti sering secara simplistis dipahami selama ini. Ini merupakan pernyataan matematis yang dapat dijelaskan secara logis.  Sederhananya, jika kita memutar sebuah pedal sepeda, bagian gear belakang ukurannya kecil dan pada  pedal depan ukurannya 5 kali lipat lebih besar, maka sekali putar saja gear depan, maka gear kecil di belakang sudah memutar 5 kali.

Demikianlah keadaan di bumi yang setitik ini untuk setara sekali putaran di Arsy yang mahaluas memerlukan 1000 tahun putaran dan jika ditempuh manusia memerlukan waktu 50.000 tahun perjalanan, padahal zaman Nabi Isa ke Nabi Muhammad saja hanya 600 tahun dan ke kita di abad 20 ini baru 2000 tahun, maka betapa lama perjalanan dari bumi ke Arsy yang perlu 50 ribu tahun. Tetapi semua itu dapat dilakukan Malaikat dalam sehari atau di atas kecepatan cahaya dan inilah yang kemudian oleh sebagian ulama dimasukkan dalam keghaiban di mata manusia karena di atas batas cerna meski logis. Oleh karena itu pula peristiwa mi’raj dari bumi ke sidratul muntaha Arsy-nya Allah dapat dibenarkan dengan iman dan akal sehat.

Ayat-ayat tersebut menggambarkan betapa sangat kecilnya bumi ini di hadapan makrokosmos ciptaan Allah yang mahaluas itu, namun bumi menjadi penting karena ada titik poros di langit yang tersambung di bumi, yaitu Kakbah. Dua Kakbah sebagai poros langit dan bumi. Pada titik yang dimuliakan itulah umat manusia dianjurkan mengiblatkan arah ketundukan kepada Sang Pencipta Alam Raya. Wallahu a’lam. (bbs/mm)


Komentar

  • 1

    22 Maret 2016

    12

    123>> klo shalat ke kiblat yang satu nya lagi sah tidak shalatnya...


    Reply






















  • masdan

    20 Maret 2016

    tidak disangka

    Teryata ada dua kakbah dan bumi mnjd penting krn kakbah.,kalo tdk ada kakbah mungkin bumi tidak disebut berkali kali d quranulkarim...trmks gomuslimin atas pencerahannya


    Reply






















  • bambang

    14 Maret 2016

    masya Allah

    Assalaaamualaikum, Maha Besar Allah dg segala ciptaannya!


    Reply






















  • Tulis Komentar


    Back to Top