Bongkar-Bangun Kakbah: Dari Malaikat Hingga Para Pejabat

Kakbah di bumi menjadi tanda titik tumpu pusat qiblat diarahkan yang kemudian dari titik tersebut terdapat poros khusus menuju Kakbah penduduk langit ketujuh di Baitul Makmur pada Arsy Allah.

Secara geografis lokasi Kakbah di bumi adalah ketentuan Allah, tetapi secara material bangunannya adalah buatan manusia yang harus tunduk pada hukum mahluk yang tidak kekal, sehingga adalakanya mengalami kerusakan karena  faktor panas dan hujan, rusak diterpa banjir dan kebakaran atau karena ulah manusia sendiri. Berikut adalah histori Kakbah dari masa ke masa.

Para ahli mencatat setidaknya sudah lebih 13 kali terjadi pembongkaran dan pembangunan  kembali Kakbah sejak pertama kali ditentukan Allah, hingga renovasi dari generasi ke generasi. Pencatatan ini berdasarkan keterangan dalam kitab suci al-Quran, hadis Nabi dan riwayat para sahabat serta catatan sejarah modern. Setelah 13 kali, yang terjadi hanya perbaikan, karena pembangunan berikutnya meluas ke area masjid hingga menjelang musim haji 2016 ketika Raja Salman Ibn Abdul Aziz bertahta, renovasi masih berlangsung.

 1.      Golongan Malaikat

Dua ribu tahun berdasarkan hitungan hari di bumi atau sekitar 2 hari dalam hitungan Allah sebelum Nabi Adam diciptakan, malaikat sudah membangun Kakbah di bumi ini atas perintah Allah SWT. Bangunan yang didirikan untuk pertama kali menurut sebuah riwayat baru berupa tancapan penanda lokasi. Kemudian Allah SWT berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi,” (QS al-Baqarah: 30). Para ahli tafsir mengatakan, para malaikat cemas manusia akan berbuat kerusakan dan menodai bumi dengan pertengkaran dan pertumpahan darah seperti golongan jin (azajil) yang sudah lebih dulu dicipta dan sama-sama disertai hawa nafsu. Kecemasan malaikat tersebut kandas ketika Allah Swt menjawab: “Aku lebih tahu terhadap apa yang tidak kamu ketahui” (QS al-Baqarah: 30).

Karena takut akan murka Allah SWT, para malaikat tidak bertanya lagi siapa yang layak dijadikan khalifah di bumi, manusia atau malaikat, kemudian para malaikat segera mohon ampun dan dengan Rahman dan Rahim-NYA, dibangunlah Baitul Makmur dari Zabrajad yang bertahtakan Yakut di bawah Arsy untuk thawaf para  malaikat. Maka dengan Rahman dan Rahim Allah pula, malaikat diperintah membangun sebentuk tanda pada satu titik, yaitu Kakbah di bumi yang posisinya serentang dengan Baitul Makmur di bawah Arsy. Kedua titik ini seperti persambungan dua poros semesta. (Muhammad Al Arzaqi, Akhbar Makkah,  1988: 32).

Berdasarkan keterangan tersebut maka mahluk Allah yang pertama kali berpartisipasi dalam pembangunan Kakbah adalah golongan Malaikat, baru kemudian Nabi Adam dan anak cucunya, hingga hajar aswad atau batu dari surga yang memiliki kandungan konduksi tertinggi sebagai pemantik hantaran energi thawaf di bumi ke langit itu kembali ditempatkan pada posisinya oleh Muhammad Al-Amin, sebelum diangkat sebagai Rasulullah SAW.

 

2. Masa Nabi Adam AS.

Manusia pertama, penduduk asli surga yang sedang ditransmgrasikan ke bumi untuk diundang kembali ke surga, namun dengan berbagai syarat dan ketentuan. Ketika diturunkan dari Surga ke bumi, Nabi Adam merasa asing dan bergumam. “Ya Allah, mengapa aku tidak mendengar suara malaikat dan merasakan kewujudannya?” Allah menjawab, “Itu kesalahanmu, wahai Adam. Akan tetapi, pergilah dan dirikan untuk-Ku sebuah rumah, lalu berthawaflah dan berzikirlah kepada-Ku di sekelilingnya, seperti yang telah dilakukan oleh para malaikat di sekeliling Arsy-Ku.”

Kemudian pada titik yang ditentukan Allah itu, Nabi Adam membangun Kakbah. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Al Imron: 96).

Oleh karena itu Makkah kemudian disebut Ummul Quro atau asal muasal semua negeri di bumi karena Adam dan Hawa pertama menetap berada di kota ini. Bahkan jika kita ke kota Jeddah kita akan menjumpai sebuah kuburan besar yang diyakini sebagai kuburan Siti Hawa, nenek umat manusia. Kota pelabuhan Jeddah atau Juddah atau Jiddah artinya adalah nenek atau kota nenek manusia.


3.      Zaman Nabi Syts AS.

Syts adalah putra dari Nabi Adam AS yang diberi wasiat oleh ayahnya untuk senantiasa beribadah siang dan malam. Disebutkan dalam beberapa riwayat, Nabi Syts pemperbaiki Kakbah dengan bahan dari tanah liat dan batu yang bertahan sampai zaman Nabi Nuh AS. Ketika terjadi banjir pada masa Nabi Nuh, Kakbah porak poranda.

Sampai pada generasi ketiga ini tidak dijumpai keterangan di dalam Alquran, sehingga keberadaan Kakbah sebelumnya diketahui berdasarkan hadits-hadits Shahih, dan baru pada generasi keempat, yaitu generasi Nabi Ibrahim  AS dan Nabi Ismail AS dicantumkan sejarahnya di dalam Alquran.

4. Generasi Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

Pembangunan Kakbah pada masa Nabi Ibrahim merupakan pembangunan yang deskripsinya paling otentik karena tercatat dalam al-Quran. Sebelum itu hal ihwal Kakbah lebih banyak diketahui berdasarkan riwayat-riwayat.

Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim dan Ismail agar membangun sebuah rumah ibadah di atas puing Kakbah yang sudah tertimbun bekas banjir pada masa Nabi Nuh, keduanya tidak tahu persis lokasi yang dimaksud. Kemudian Allah  mengirim angin al khajuj yang membersihkan daerah sekitar Ka’ba. Keduanya pun mengikuti dan melakukan penggalian dan meletakkan pondasi lebih tinggi hingga terbentuk bangunan sempurna.  “Dan ingatlah, ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah….” (QS. Al Hajj: 26).

Bangunan Kakbah yang dibuat Nabi Ibrahim dan Ismail kecil tercatat dalam kitab suci dan untuk pertama kalinya berbentuk bangunan semi permanen, bukan sekedar penanda seperti sebelumnya. Terbuat dari dari batu, tinggi 9 hasta (4,5m), panjang dari arah timur 32 hasta (16 m), dari arah barat 31 hasta (15,5m), dari arah selatan 20 hasta (10m) dan dari arah selatan 22 hasta (11m). Dia tidak membuat atap, terdapat dua pintu yang sejajar dengan tanah tanpa ada daun pintu yang menutup, dan membangun di utaranya anjang-anjang sebagai kandang untuk kambing Ismail, yaitu yang disebut dengan Hijir.

Usai membangun sudut-sudut atau rukun-rukunnya, Nabi Ibrahim meminta Ismail untuk mengambil batu paling putih dari Surga, namun berubah menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Setelah tuntas, keduanya lalu berdoa, “Dan ingatlah, ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail seraya berdoa: “Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS al-Baqarah: 127). Informasi dari Alquran dalam pembangunan ini adalah meninggikan pondasi (yarfa’u), artinya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merenovasi bangunan tua sebelumnya.

Pada masa ini di sekitar Kakbah sudah terdapat sumber mata air zam-zam, sehingga daya tarik Kakbah sebagai sumber energi spiritual manusia, juga sebagai sumber asbab penghidupan dunia semakin menarik semua mahluk hidup untuk berkerumun di sekitar Kakbah.

 

5. Suku Amaliqah

Suku amaliqah berasal dari Yaman yang kemudian menetap di sekitar Kakbah. Setelah mendapat izin dari Siti Hajar dan Nabi Ismail, suku ini termasuk yang mula-mula tinggal dalam waktu lama di sekitar Kakbah. Riwayat menyatakan keturunan suku ini pernah melakukan perbaikan meski tidak ada perombakan besar pada bangunan Kakbah, hanya memperbaiki bagian yang rusak karena faktor alam.  Setelah diperbaiki Kakbah kembali berdiri seperti zaman Nabi Ibrahim lagi.

 6. Suku Jurhum

Keberadaan Kakbah dan sumber mata air zam-zam sungguh menjadi magnet dunia sejak awal mula pergerakan manusia nomaden secara regular dari Yaman ke Damaskus Syiria. Berbagai kabilah silih berganti melintasi Mekkah dari utara ke selatan dan sebaliknya. Mereka terpikat ketika mendatangi oase di tengah padang pasir di sebelah Kakbah.

Di antara yang datang itu adalah suku jurhum dipimpin raja Madhad bin Umar bin Haris bin Madhad bin Umar Al-Jurhum yang datang ke Kakbah bersama rombongan besar.  Setelah dibangun oleh bangsa Amaliqah, Kakbah terkena banjir besar dari dataran tinggi Makkah yang mengakibatkan rusaknya dinding meskipun tidak roboh. Suku Jurhum-lah yang kemudian membangun kembali seperti sediakala dengan menambah bangunan di luar Kakbah untuk penahan luapan air bila terjadi banjir kembali. Suku ini kemudian menetap dan beranak pinak bersama penduduk Mekkah lainnya.

 

7. Qushai Bin Kilab dari Bani Kinanah.

Setelah Bangsa Jurhum berlalu, Kakbah kemudian sampai ke tangan Qushay bin Kilab. Ia adalah seorang pemuka dari suku bangsa Quraisy, keturunan langsung Nabi Ismail, kakek buyut Nabi Muhammad SAW. Di masa ini Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit.  Pembangunan Kakbah ditinggikan dan diberi atap dari kayu dan pelepah kurma. Setelah Hajar Aswad ditemukan, kemudian disimpan Qushay, hingga bangsa Quraisy mengurus Kakbah secara turun menurun pada masa Nabi Muhammad.

 

8.  Abdul Muthalib (Kakek Rasulullah Muhammad SAW)

Renovasi dilakukan setelah penyerangan Raja Abrahan yang diabadikan dalam Alquran surat al-Fiil. Raja ini membawa pasukan gajah, simbol kedigdayaan kekuatan kala itu. Sebelum operasi penghancuran Kakbah, Abrahah merampas 200 ekor onta milik Abdul Muthallib, yang berstatus sebagai penjaga Kakbah. Sesepuh Makkah yang kharismatik itu menemui Raja Abrahah dengan tenang. "Apa maksud kedatanganmu Tuan?" tanya Abrahah. "Tolong kembalikan kepadaku 200 ekor onta yang Kau rampas!" jawabnya. Betapa kaget Abrahah. Rasa hormatnya seketika luruh. "Semula aku menghargaimu begitu tinggi, saya datang untuk menghancurkan Kakbah, tapi Anda malah sibuk memikirkan onta. Betapa kecil permintaanmu wahai Abdul Muthallib?" lalu keluarlah kalimat Abdul Muthalib yang sangat terkenal: "Sungguh, aku hanya pemilik onta, sedang Baitullah milik Rabb yang akan menjaganya."

Mereka membiarkan Abrahah dan tentara gajahnya mendekati Kakbah.  Seketika Allah mengirim burung Ababil membawa batu panas. Gajah-gajah pun berjatuhan laksana daun-daun yang dimakan ulat. Setelah peristiwa pada tahun 571 M bersamaan dengan kelahiran Nabi itu Abdul Muthallib melakukan perbaikan Kakbah.

 

9. Suku Quraisy.

35 tahun setelah tahun gajah (aamu fiil), Kota Makkah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram. Akibat banjir itu dikhawatirkan sewaktu-waktu Kakbah runtuh sehingga perlu dibongkar. Ketika mereka bersepakat untuk merenovasi Kakbah berdirilah ditengah-tengah mereka Abu Wahab bin Amr seraya berkata: “Hai suku Quraisy janganlah kau menyumbang untuk bangunannya dari usahamu, rizqimu kecuali yang baik, diperoleh dari jalan hang halal. Jangan sampai tercampur oleh uang hasil melacur, jual beli riba atau dari hasil kehzaliman seseorang.”

Saat perombakan dimulai, masyarakat takut merobohkan tembok Kakbah yang tersisa, mereka takut ditimpa murka Allah. Lalu Walid bin Mughirah  berinisiatif  mengambil cangkul dan mulai merobohkan sambil berkata: “Ya Allah kami tidak akan berpaling dan tidak ada yang kami inginkan kecuali hanya kebaikan.” 

Pada malam harinya orang-orang menanti untuk melihat apakah Mughirah ditimpa musibah kerana perbuatannya atau tidak. Ketika tidak terjadi apa-apa, berangkatlah mereka ke Kakbah  hingga yang tersisia hanya pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim. Pada pembangunan total ini, mereka menyisakan enam hasta di bagian utara karena keterbatasan dana, yang kemudian disebut al Hijr Ismail atau al Hathim. Mereka juga membuat pintu lebih tinggi dari permukaan tanah. Jika sebelumnya hanya sembilan hasta, kini menjadi  lima belas hasta, dan memasang atap dengan disangga enam sendi. Kini Kakbah berbentuk segi empat.

Pada saat peletakan Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad itu. Perselisihan ini terus berlangsung selama lima hari, tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah antar suku di tanah suci.

Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumiy datang dan menawarkan solusi dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk masjid pada pagi itu. Mereka menerima cara ini. Allah menghendaki orang yang berhak atasnya adalah Muhammad yang saat itu berumur 35 tahun atau 5 tahun sebelum turun firman pertama. Tatkala mengetahui hal itu, mereka berteriak,”Inilah al Amin. Kami ridho kepadanya, inilah dia Muhammad.”

Atas dasar kepintaran,  keadilan dan kebijaksanaan Muhammad “Al-Amin” pada saat itu, beliau membuka dan menghamparkan surbannya di tanah, kemudian meletakkan batu Hajar Aswad di tengah-tengah serban tersebut. kemudian beliau menyuruh semua kepala kabilah yang hadir pada saat itu untuk memegang masing-masing ujung surban, kemudian mengangkatnya secara bersama-sama kemudian beliau sendiri yang meletakkan kembali batu Hajar aswad ke tempatnya semula. Semua merasa puas atas cara penyelesaian yang ditetapkan oleh Muhammad “Al-Amin” tersebut.

 

10. Abdullah bin Zubair bin Awwam (Cucu Abu Bakar Asshiddiq RA).

Walikota Makkah Abdullah bin Zubair bin Awwam (putra Asma’ binti Abu Bakar Ash-shiddiq dan Zubair bin Awwam) memutuskan perenovasian Kakbah seperti yang diinginkan Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup. Dia pun membangun kembali serta menambahkan bagian yang masih kurang ketika orang-orang Quraisy kehabisan dana dari enam hasta menjadi sepuluh hasta. Dia juga menjadikan Kakbah memiliki dua pintu, satu di sebelah timur dan lainnya di sebelah barat sehingga orang yang memasukinya dari satu pintu dan keluar di pintu yang lainnya. Abdullah bin Zubair memasang pecahan Hajar Aswad itu dengan diberi penahan perak. Dia menjadikannya dalam bentuk yang paling baik dan megah sehingga seperti yang disifatkan Nabi saw sebagaimana diberitakan oleh Sayyidah Aisyah RA yang juga bibinya.

Pada saat pembongkaran bangunan atas selesai, tampak pondasi terdiri dari batu-batu kemerahan yang saling bersilang menyambung seperti talian jemari. Terjadi keajaiban ketika Abdullah Bin Mu’thi al-Adawi  mendongkel bagian batu di hijir Ismail, ternyata semua bagian pondasi ikut bergerak dan seketika terjadi gempa dahsyat di kota Makkah. Maka Abdullah bin Zubair kemudian memutuskan langsung membangun di atas pondasi yang sudah ada. Pondasi itu tidak pernah berubah sejak awal karena Nabi Ibrahim pun hanya meninggikan dari pondasi yang sudah ada.

                                

11. Abdul Malik bin Marwan (Bani Umayyah).

Pada 693 Masehi, penguasa Makkah selanjutnya Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi berkirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah kelima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi/ 74 H) atas pembangunan Kakbah zaman Abdullah bin Zubair bin Awwam. Dia mengira bahwa penyempurnaan itu adalah hasil fikiran dan ijtihad Zubair, padahal berdasarkan hadist Nabi. Lalu Abdul Malik minta mengembalikan Kakbah seperti renovasi pada masa suku Quraisy setelah Abdul Muthallib. Al Hajjaj pun merobohkan bagian utara Kakbah dan mengeluarkan al Hijr lalu menutup pintu barat.

Tatkala Abdul Malik mendapatkan hadits dari Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah, maka ia pun menyesali perbuatannya sehingga mengatakan,”Kami sangat berkeinginan mengembalikan seperti orang yang membangun sebelumnya.” Maksudnya seperti masa Abdullah bin Zubair bin Awwam. Lalu ia pun bermusyawarah dengan Imam Malik dalam permasalahan ini dan beliau mencegah agar kemuliaan Kakbah tidak lenyap dan tidak menodai kehormatan Kakbah.

 

12. Sultan Murad Khan (Kekhilafahan Utsmani/ Ottoman)

Ketika Makkah dilanda banjir besar yang menenggelamkan Masjidil Haram, maka Sultan Murad Khan IV (tahun 1040 H/ 1630 Masehi), mengeluarkan perintah kepada Muhammad Ali Pasya, Gubernur Mesir yang  berwenang di daerah Hejazz (Makkah-Madinah) untuk perbaikan total. Ia kemudian meminta para arsiteknya untuk merenovasi  Kakbah secara maksimal. Pembangunan dalam tempo enam bulan dan memakan biaya sangat mahal dan bertahan 400 tahun lamanya hingga pada masa pemerintahan Raja  Abdul Aziz Assu’udi. 

 

13. Raja Abdul Aziz Assu’udi

Setelah itu dilakukan perbaikan berkala dan pelebaran Masjidil Haram sampai hari ini di bawah pengawasan kerajaan Assu’udi. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Mekkah adalah banjir, salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Haram terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Ka’bah. Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa bagian Kakbah rusak dan tiang-tiang masjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan untuk mengatasi hal ini, memperkuat pondasi dan setelah itu lebih banyak berkisar pada perbaikan, mempercantik dan mengganti kiswah. Itu yang dilakukan turun temurun dari penjaga kedua tanah suci yang saat ini dijabat Raja Salman Ibn Abdul Aziz.

(mm/bbs)


Komentar

Tulis Komentar


Back to Top