KISWAH KAKBAH

Inilah Selimut Termahal di Dunia

Kain hitam dihias kaligrafi berbenang emas yang menyelimuti Kakbah ini dinamakan kiswah. Secara leksikal kiswah berasal dari Bahasa Arab yang artinya pakaian, namun kain hitam yang lekat di dinding kakbah ini merupakan kain penutup empat sisi dinding kakbah. Berdasarkan pendapat sejarawan Muslim, yang pertama kali memasang kiswah pada Kakbah adalah Nabi Ismail a.s. hanya saja tidak disebutkan mengenai jenis bahan yang digunakan -apakah berasal dari kain atau kulit binatang-  selain dari pada itu belum ada penjelasan menganai besarnya kiswah yang dibuat oleh Nabi Ismail.

hgfjh

Foto: Saat penggantian kiswah

Berdasarkan keterangan-ketarangan ulama salaf, Adnan bin Ad adalah orang yang pertama membuat kiswah Kakbah dari kulit binatang, adapun Tubu As’ad adalah seorang raja dari Yaman yang pertama kali memuat penutup kakbah dari kain berwarna merah hasil tenunan dari Yaman. Dalam kitab Dairatul Ma’arif karya Farid Waji, dikemukakan bahwa orang yang pertama kali membuat kiswah Kakbah dari kain sutera adalah seorang wanita bernama Nabilah binti Hubban, pada masa pemerintahan Quraisy di Mekkah. Ketika anaknya yang bernama Abbas hilang, ia bernazar akan membuat penutup Kakbah dari kain sutra. Kemudian dilaksanakanlah nazar itu saat ia telah bertemu dengan anaknya.

Nabi Muhammad SAW pun pernah membuat kiswah Kakbah berbahan kain yang didatangkan dari Yaman. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar, Umar dan Usman yang juga membuat kiswah Kakbah berbahan kain dari benang kapas.

Masing-masing periode kekhilafahan Islam telah melakukan pembuatan kiswah baik pemerintahan yang dipimpin oleh Arab maupun A’zam (bangsa selain Arab). Periode penggantian kiswah ini di setiap  pemerintahan berbeda-beda, ada yang menggantinya sekali dalam setahun ada pula yang dua kali dalam setahun. Kiswah Kakbah yang saat ini terlihat hitam warnanya, namun dahulu tidaklah demikian. terkadang kiswah itu diganti dengan warna putih, kuning dan ada pula yang menggantinya dengan warna hijau bahkan menurut A. J. Weinsinck dalam buku Handworterbuch des Islam, kaum Wahabi pernah membuat kiswah Kakbah berwarna merah kemudian diganti dengan warna hitam dari kain sutra yang kasar.

Adapun yang membuat kiswah dengan kain berwarna putih adalah Khalifah Makmun Ar-Rasyid pada masa Dinasti Abbasiyah. Selanjutnya yang membuat kiswah berwarna kuning adalah Muhammad bin Sabaktakin, dan yang membuat kiswah berwarna hijau adalah Khalifah An-nasir dari Bani Abbas dan dia pula yang akhirnya mengganti warna kiswah menjadi hitam.

Pada tahun 750 H, Sultan Malikussaleh Ismail anak dari Sultan Malik Kalawoon, membeli 3 kampung di Mesir, yaitu Bansus, Sendabis dan Abil Ghis di bagian Qaljub. Tiga kampung ini olehnya dijadikan wakaf, dengan maksud agar pendapatan 3 kampung itu dipergunakan untuk membuat kiswah pada tiap tahunnya. Namun ternyata pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman, pendapatan 3 kampung ini tidak mencukupi untuk membuat kiswah sekali dalam setahun. Oleh karena itu, akhirnya Sultan Sulaiman memutuskan memakai uang kerajaan untuk membeli 7 kampung lagi agar dana yang dibutuhkan dapat tercukupi. Tujuh kampung yang dibeli itu adalah, Salkah, Siru Bijanjah, Quraisyul Hajar, Manail wa Kum Riham, Bijam, Manijatun Nasri, dan Bathalia.

Akhirnya genaplah sepuluh kampung yang telah dibeli dan dijadikan sebagai kampung wakaf. Akumulasi pendapatan 10 kampung ini dinilai cukup untuk memproduksi kiswah sekali dalam setahun. Produksi kiswah di Mesir terus berjalan sampai pada abad ke-13, inilah pertama kalinya kiswah diproduksi di Mesir.

Namun pada saat Muhammad Ali Pasya memimpin Mesir pada abad ke-13 Hijriah, sepuluh kampung yang telah diwakafkan, diambil olehnya dan dijadikan sebagai aset pemerintah. Sedangkan sumber dana untuk  produksi kiswah, dibagi menjadi dua, 50 persen dari 10 kampung tersebut dan sisanya dari kas Kerajaan Mesir. Kiswah yang diproduksi di Mesir selalu terbuat dari kain sutra berwarna hitam serta dihiasi dengan kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat dan nama Allah.

Pada tahun 1345 Hijriah, pengiriman Kiswah dari Mesir tertahan tanpa diketahui alasannya sampai pada awal Dzulhijjah, sehingga Raja Ibnu Saud berusaha keras untuk mendapatkan kiswah Kakbah yang baru agar pada 10 Dzulhijjah sudah dapat dipakai. Atas peristiwa ini, maka pada tahun 1346 Hijriah atau 1931 Masehi, Raja Ibnu Saud berharap dapat mendirikan perusahaan tenun agar Hijaj dapat membuat kiswah sendiri tanpa harus memesan dari negeri lain. Kemudian Raja Saud pun memilih Kampung Jiyad sebagai lokasi pabrik tenun itu. Inilah pertama kalinya produksi kiswah dilakukan di Mekkah, sebelumnya kiswah selalu dipesan dari Mesir, Iraq, Khurasan dan Yaman.

Saat ini pembuatan kiswah di Mekkah tergolong mewah dan menghabiskan dana yang sangat besar. Satu kiswah saja dibuat secara masal oleh 240 tenaga ahli, untuk membuat satu buah kiswah ini dibutuhkan 700 kg sutra murni yang diberi warna hitam kemudian ditambah lagi dengan 120 kg benang emas untuk membuat kaligrafi pada permukaan kiswah. Benang emas yang dijadikan sebagai sulaman kaligrafi ini adalah benang yang terbuat dari emas murni.

Dengan bahan-bahan yang terbilang mahal harganya, maka tak heran jika dalam sekali produksi menghabiskan biaya sekitar 50 miliyar rupiah untuk satu buah kiswah yang setiap tahun selalu diganti. Jika diukur luasnya, kiswah kakbah memiliki luas sekitar 600 meter persegi, terdiri dari 47 potong kain sutra yang setiap potongnya berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm. Kiswah terdiri dari 5 bagian, empat bagian menutupi empat sisi Kakbah sedangkan satu bagian lagi menutup pintu Kakbah.

Pembuatan kiswah saat sekarang ini, dilakukan dengan peralatan tenun modern, semua proses pembuatan kiswah berlangsung dalam satu pabrik yang luasnya mencapai 10 hektare ini, tahapan proses tersebut adalah pembutan prototype kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar dan pembuatan benang emas, benang perak, dan kemudian berakhir di tahap penjahitan.

Kiswah memiliki dua lapis kain, pada bagian luar berwarna hitam dan bagian dalamnya berwarna putih. Benang emas yang digunakan untuk kaligrafi adalah untuk penulisan kalimat syahadat, Allahu Jalla Jalalah, laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, kemudian Surat Ali Imrah ayat 96,  Surat Al-Baqarah ayat 144, Surat Al Fatiha dan Surat Al-Ikhlas.

Kain bagian dalam kiswah yang berwarna putih disebut bithana kiswah, kain ini berfungsi untuk menyerap uap dari dinding Kakbah serta dapat menyerap panas dari kiswah bagian luar yang berwarna hitam. Hal ini merupakan penerapan teori fisika yang mana kain berwarna putih lebih efektif menyerap panas matahari ketimbang kain berwarna gelap.

Tradisi penggantian kiswah tiap tahun sekali sudah merupakan tradisi yang berlangsung berabad-abad lamanya. Awalnya yaitu ketika Khalifah Al Mahdi melakukan ibadah haji, lantas datanglah kepadanya seorang penjaga Kakbah dan menyampaikan bahwa Kiswah  telah lapuk dan dikhawatirkan akan jatuh. Akhirnya karena ada laporan seperti itu, lantas Al Mahdi pun mengeluarkan keputusan agar setiap tahun kiswah harus diganti. Ternyata setelah adanya keputusan ini, tidak terdangar lagi laporan mengenai kiswah mengalami kelapukan sebelum diganti. Sehingga sampai saat ini, penggantian kiswah yang dilakukan sekali dalam setahun seperti sudah merupakan suatu keharusan, meskipun setiap tahunnya harus membelanjakan uang sebanyak 20 juta riyal atau sekitar 50 miliyar rupiah. Padahal setelah diganti, kiswah yang lama dipotong-potong dan dijual sebagai hiasan rumah dan kantor. (fh) 


Komentar

  • Kamil

    27 April 2016

    baguss

    saya suka tulisan2 di gomuslim. Lengkap,jd tau sejarahnya ya, makasih. sukses lah pokokna gomusim sukses dunia dan akhirat nya... aamiin


    Reply






















Tulis Komentar


Back to Top