Tempat Mustajab

Multazam, Dinding Kakbah yang Hampir Ikut Mi’raj

Jakarta, (gomuslim). Kakbah adalah titik pertemuan umat Islam sedunia, bangunan ini tak lebih dari susunan batu berbentuk kubus. Kendati demikian hampir di setiap titik dari bangunan ini sarat akan makna, seolah tak ada habisnya untuk diperbincangkan dan ditelaah. Selain Makam Ibrahim, ada pula tempat di sekitar Kakbah yang merupakan suatu tempat mustajab untuk berdoa.

Terleibih dahulu seyogyanya kita mengetahui bahwa perkara dikabulkannya doa adalah hak prerogatif Allah, namun berdasarkan riwayat  terdapat tempat-tempat yang baik untuk berdoa di sana. Salah satunya adanya Multazam. Sejatinya Multazam hanyalah dinding Kakbah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah.

Mengenai letak posisi Multazam, di dalam kitab Musnad Ibnu Abi Syaibah tertulis beberapa pendapat ulama, sahabat dan tabi’in tentang letak posisi Multazam, ada yang berpendapat bahwa Multazam berada di antara pintu Kakbah dan Hajar Aswad sebagaimana pendapat dari Ibnu Abbas, Syaibani, Mujahid, Muhammad bin Abdurrahman Al Abdi, dan Hanzhalah.

Ada pula yang berpendapat bahwa letak Multazam itu berada di belakang Kakbah, sebagaimana pendapat dari Waki’, Sufyan, Abu Ishaq, Ma’an bin Isa, Hamid bin Abdirrahman, dan Abu Bakar bin Abdirrahman.

Ketika anda sedang menjalankan ibadah haji atau umrah, terkadang asykar suka mengingatkan agar jangan lupa berdoa bagi para jemaah manakala sudah mendekati rukun Hajar Aswad dan pintu Kakbah yang dipahami sebagai Multazam yang jaraknya sekitar 4-5 hasta atau sekitar 2-3 meter. Hal semacam ini jelas menandakan bahwa Multazam adalah tempat mustajab untuk berdoa.

Terkait dengan letak Multazam terdapat suatu riwayat  yang mashur  (yang banyak diketahui) dari Ibnu Abbas yang menyatakan letak Multazam berada di antara pintu Kakbah dan Hajar Aswad. Penamaan Mulatazam tidak terlepas dari derivasi kata iltizam (menempelkan/merapatkan), dinamakan demikian karena ada ikatan sejarah terkait apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW berdasarkan Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah,

Amru bin Syu’aib menceritakan dari ayahnya, "Aku pernah melakukan thawaf bersama Abdullah bin Amr bin Ash, dan ketika kami sampai ke belakang Kakbah, aku berkata, ‘Tidakkah engkau memohon perlindungan kepada Allah dari api neraka?’ Abdullah lalu mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah dari api neraka’. Kemudian dia berlalu dan menyentuh Hajar Aswad, selanjutnya dia berdiri antara Rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Kakbah), lalu mendekatkan dada, kedua tangan dan pipinya kepada rukun itu, kemudian dia berkata, ‘beginilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya’.”

Dari Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud inilah, maka dinding Kakbah yang terletak di antara pintu Kakbah dan Hajar Aswad dinamai atau diketahui sebagai letak posisi  Multazam, karena berdasarkan riwayat tersebut, Rasulullah menempelkan dada dan tangan seraya berdoa, karena itulah dinamai sebagai Multazam tempat yang didekatkan atau ditempelkan.

Adapun mengenai Multazam sebagai tempat mustajab untuk berdoa, namun tempat ini bukanlah satu-satunya tempat mustajab, dalam kitab Fadhaaillul Makkah, Hasan bin Yasar Al Bashri mengatakan, terdapat 15 tempat yang dinyatakan mustajab untuk berdoa yakni:

  1. Di dalam Kakbah;
  2. Ketika berada dekat dengan Hajar Aswad;
  3. Berada di dekat Rukun Yamani;
  4. Doa ketika dekat dengan Hijir Ismail;
  5. Ketika berada di belakang Makam Ibrahim;
  6. Ketika berada di Multazam;
  7. Saat berada di pintu sumur Zamzam;
  8. Di Sofa;
  9. Di Marwa;
  10. Di antara Sofa dan Marwa;
  11. Di antara Rukun Hajar Aswad dan Makam Ibrahim;
  12. Di Mina;
  13. Di Arafah;
  14. Di Masjidil Haram;
  15. Di Masjid Nabawi.

Dengan demikian, Multazam adalah termasuk tempat yang mustajab untuk berdoa maka jelaslah bahwa berdoa tepat di Multazam adalah suatu anugerah, mengingat sulitnya mendekati Multazam karena harus dapat lolos dari kerumunan ratusan ribu jemaah yang tawaf. Meskipun Multazam termasuk sebagai tempat mustajab, bukan berarti harus memaksakan diri untuk dapat berdoa di Multazam dan hal tersebut bukanlah suatu kewajiban dalam ibadah haji maupun umrah, melainkan hanya sebatas anjuran saja.

Selain sebagai tempat mustajab, Multazam mengandung keunikan tersendiri dari aspek sejarah. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauzy, Multazam adalah dinding yang hancur ketika Rasulullah naik ke langit pada peristiwa Mi’raj dan ketika itu Kakbah hendak mengikutinya, namun ada dinding yang rusak sampai akhirnya Kakbah pun menetap di bumi. Dinding yang rusak inilah disebut Multazam. Namun berdasarkan Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari, saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Kakbah tidak hancur atau rusak, namun yang rusak adalah sebagian batu saja yang melekat pada Kakbah.

Terlepas dari semua keunikan dan perbedaan pendapat mengenai posisi Multazam. Maka pada dasarnya boleh saja berdoa di Multazam dan hal itu merupakan hal yang amat baik. Namun jika sulit melakukannya maka diperblehkan pula berdoa ketika tawaf dan posisi anda berada di antara pintu Kakbah dan Hajar Aswad atau tempat-tempat mustajab lainnya seperti yang telah di sebutkan di atas. Karena sejatinya Allah mengabulkan semua doa hambanya, sebagaimana janji Allah dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 186,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top