Talang Air Kakbah: Mizab Saluran Rahmat

Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, mizab merupakan tempat yang baik untuk mengerjakan shalat. Riwayat ini rentetan sanadnya dikategorikan shahih sehingga dapat dipercaya dan boleh diamalkan. Riwayat ini menyatakan bahwa yang dimaksud dengan shalat di dekat mizab adalah shalat di bawah mizab yang mengarah ke Hijir Ismail. Lantas apa yang dimaksud dengan mizab tersebut? Untuk dapat mengetahui lebih dalam maka tak dapat dilepaskan dari sejarah panjang tentang mizab. Berikut selengkapnya.

Ketika Nabi Ibrahim a.s beserta putranya Nabi Ismail a.s. membangun Kakbah, tidaklah dibuat atap pada bangunan berbentuk kubus tersebut. Setelah sekian lamanya bangunan yang disucikan ini berdiri tanpa atap, maka sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul tepatnya saat usianya masih 35 tahun suku Quraisy melakukan pemugaran Kakbah. Mereka meninggikan bangunan ini kemudian diberi atap dari pelepah daun kurma.

Setelah bagian luar Kakbah ditinggikan sekitar 18 hasta atau lebih tinggi 9 hasta dari dinding  Kakbah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim. Suku Quraish pun menambahkan 3 tiang di dalam Kakbah ketika renovasi berlangsung. Selanjutnya mereka pun menjadikan pintu Kakbah lebih tinggi dari permukaan tanah sehingga untuk dapat memasukinya harus menggunakan tangga, tujuannya adalah untuk dapat menentukan siapa yang boleh dan siapa yang dilarang untuk memasuki Kakbah.

Tiga tiang di dalam Kakbah yang dibangun Suku Quraisy rupanya bertujuan untuk menyanggah atap yang telah mereka rencanakan pembangunannya sebagai penutup bagian atas Kakbah. Penulis buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Ibnu Ishak bahwa ketika Suku Quraisy merenovasi Kakbah, ada seorang diantara mereka yang meletakkan talang air di atas bangunan suci ini yang terbuat dari kayu kemudian inilah awal mula mizab menjadi bagian dari Kakbah.

Secara bahasa mizab adalah tempat berlalunya air atau tempat yang dialiri air namun jika dipahami dari kegunaannya, mizab dapat diartikan sebagai talang air.  Pada masa awal pembuatan mizab, Ibnu Hisyam tidak menyebut tahun pembuatan talang air ini, namun beberapa sumber menjelaskan peristiwa itu terjadi pada saat Nabi Muhammad berumur 35 tahun. Menurutnya salah satu nama penguasa yang menghias mizab adalah Walid bin Abdul Malik yang menghias mizab dengan cat emas. Adapula riwayat yang menyampaikan bahwa orang yang pertama kali membuat mizab dengan cat atau sepuhan emas adalah Ramsyat bin Al Husain Al Farisi seorang investor terkenal di Makkah yang juga turut mendanai pembangunan Kakbah pada 537 H.

glli

Mizab yang terbuat dari lapisan emas atau hanya dicat emas ternyata dianggap tidak terlalu signifikan dan elegan sehingga pada tahun 541 H Khalifah Al Muktafi dari Dinasti Abbasiyah mencopot mizab buatan Ramsyat kemudian dikirimlah mizab yang telah dibuatnya sehingga mizab tersebut disinyalir sebagai mizab pertama yang diproduksi pada masa Dinasti Abbasiyah.

Kemudian mizab yang dibuat pada masa pemerintahan Al Muktafi akhirnya diganti lagi oleh Nashir pada 622 H, ia mencatumkann namanya tertulis pada permukaan talang air Kakbah ini. Namun sayangnya nama tersebut tidak begitu jelas terlihat karena hanya ditulis dengan menggunakan pensil.

Talang air Kakbah hanyalah bagian dari pelengkap bangunan berbentuk kubus ini, tentunya ketahanannya pun tidak dapat disetarakan dengan dinding Kakbah yang berdiri kokoh. Dengan demikian, sudah merupakan hal lumrah jika setelah berlalu puluhan bahkan ratusan tahun talang air Kakbah ini layak untuk diganti, maka tak heran jika banyak para pemimpin Islam dari 2 dinasti (Abbasiyah-Usmaniyah) seperti berlomba-lomba membuat talang air yang juga dikenal dengan talang rahmat.

Sehingga selang hampir seabad kemudian setelah Mizab Kakbah melekat di atas atapnya hampir 2 abad maka muncullah nama Basya Umar seorang pemimpin dari Sudan yang juga menyempurnakan mizab Pada 781 H pada tahun itu juga, ia membiayai renovasi Kakbah. Dalam Kitab Tahshilul Maram,  mizab yang disempurnakan oleh Basya akhirnya diganti  pada 959 H. Penggantian mizab dilakukan setelah adanya  perintah Sultan Sulaiman yang hendak membuatkan mizab Kakbah dari perak yang dilapis emas, lantas Sultan Sulaiman meminta agar Mizab yang lama disimpan di gudang kerajaan Turki. Namun hanya 60 tahun berlalu mizab yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman harus diganti lagi.

Dengan anggaran 2.800 dirham perak, Sultan Ahmad Khan membuat mizab pada tahun 1020 H. meskipun terbuat dari perak namun saat itu perak tersebut sudah dilapisi sepuhan emas seperti mizab yang pernah dibuat sebelumnya. Mizab buatannya ini pun dapat bertahan hampir 3 abad lamanya.

Kemudian pada Kamis, 9 Sya’ban 1377 H, mizab yang dibuat pada masa pemerintahan Ahmad Khan diganti oleh Abdul Majid Khan dari Dinasti Usmaniyah, sebelumnya mizab terbuat dari perak kemudian permukaannya disepuh dengan emas. Namun Abdul Majid Khan mengganti material mizab dengan emas murni kemudian bagian atas mizab dibuat terbuka sedangkan sisinya diberi paku yang terbuat dari perak berbentuk persegi panjang pada permukaannya dihiasi dengan khat tsulusi, mizab ini dibuat oleh pengharajin perhiasan asal Mekkah bernama Syeikh Muhammad Nasyar pada masa kepemimpinan Raja Saud. Inilah model mizab yang pertama kali dibuat degan mengenakan paku-paku pada sisi kanan dan kiri bagian atas mizab.

Setelah belasan abad berlalu, belum pernah ada pemimpin Muslim yang membuat mizab dari emas murni. Maka Abdul Majid khan dapat dikatakan sebagai pencetus pembuatan Mizab berbahan logam mulia.

Meskipun mizab yang dibuat oleh Abdul Majid Khan tergolong sebagai talang air yang elegan namun ternyata waktu penggunaannya tidak sampai 1 abad karena pada 1417 H, Raja Fahd bin Abdul Aziz mengganti mizab yang lama dengan dengan mizab yang lebih kokoh dengan bahan yang sama yakni dari emas dan perak. Sampai saat ini, mizab tersebut masih ada di Kakbah dan kerap dibersihkan menjelang ramadhan bersamaan dengan pembersihan Kakbah serta komponen lainnya di sekitar Kakbah.

77u

Mizab yang dipakai saat ini adalah memiliki panjang 195 cm, tinggi 23 cm dan lebar 26 cm. Ketika hujan turun deras di Mekkah dan membasahi Masjidil Haram, maka jemaah yang berada di sana dapat melihat pancuran air dari mizab ini dan mengalir ke bawah ke arah Hijir Ismail. Selain dikenal sebagai talang air, mizab juga dikenal sebagai saluran air rahmat karena di antara kedua tempat ini (mizab dan Hijir Ismail) termasuk tempat mustajab untuk berdoa, maka jangan sia-siakan ibadah haji dan umrah anda untuk banyak berdoa karena Kakbah dan sekitarnya adalah kawasan yang penuh berkah dan rahmat Allah SWT. Wallahu a’lam. (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top