Syadzarwan, Marmer Penguat Pondasi Kakbah

Jakarta, (gomuslim). Batu marmer putih kekuningan melekat di kaki kakbah ini menjadi penguat berdirinya rumah Allah sebagai kiblat shalat umat Muslim di dunia. Namun apakah marmer tersebut telah ada sejak Kakbah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. dan apakah ia bagian dari Kakbah?

Marmer yang melekat pada Kakbah ini tidak seluruhnya mengelilingi dinding bagian bawah Kakbah, ia hanya dilekatkan pada sebagian dinding berlawanan dengan Hijir Ismail. Marmer-marmer tersebut dinamai dengan sebutan Syadzarwan yang diambil dari istilah kata idzar yang artinya kain yang dilekatkan pada bagian pinggang dan menjulur sampai ke kaki jika di Indonesia dapat pula dikatakan sebagai sarung.

Meskipun Syadzarwan diambil dari kata idzar namun bukan berarti marmer tersebut dapat dikatakan sebagai sarungnya Kakbah. Sejatinya Syadzarwan hanyalah batu-batu yang dilekatkan pada pondasi Kakbah. Namun ketika Nabi Ibrahim membangun Kakbah, beliau tidak membuat Syazarwan sebagai penguat pondasi tersebut. Sehingga batu marmer yang berada di bagian bawah Kakbah bukanlah konstruksi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s.

Seiring berjalannya waktu, Kakbah telah banyak dikunjungi oleh umat manusia sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Meskipun belum turun Syariat Islam, namun ritual tawaf –mengelilingi Kakbah- telah dilakukan masyarakat Arab saat itu. Ketika populasi bangsa Arab makin bertambah, muncul kekhawatiran rusaknya Kakbah jika tidak dipelihara atau dirawat.

Berdasarkan riwayat pembangunan Syazarwan, dikatakan bahwa masyarakat Suku Quraisy pernah megurangi batu pondasi Kakbah sehingga dibuatlah penahanan batu pondasi yang disebut Syazarwan sebagai penguat karena pengurangan batu pondasi dapat berpotensi mengancam kekohan bangunan Kakbah.

Pada sisi lain, Mekkah yang pada dasarnya padang pasir yang tandus dan jarang sekali turun hujan, namun bukan berarti tidak pernah mengalami banjir. Meskipun Mekkah merupakan wilayah padang pasir namun di saat hujan turun deras terkadang Mekkah digenangi air bahkan Kakbah pun turut terendam banjir. Atas dasar inilah maka dibangun penguat pondasi Kakbah agar dapat menjaga bangunan ini dari genangan air yang berpotensi merusak Kakbah.

Dalam istilah sains, batu merupakan zat padat dan keras, namun benda cair seperti air dapat merusak batu ketika zat ini merasuk ke rongga-rongga dan menggerus partikel-partikelnya, sehingga jika semakin sering batu terkena resapan air maka semakin rentan pula batu tersebut dilarutkan, karena air memiliki sifat sebagai pelarut terbaik (best solven).

Meskipun perkembangan sains pada abad ke-6 Masehi masih dikatakan belum maju namun masyarakat Arab saat itu telah mengenal sifat ini tanpa mengerti secara mendalam istilah teori yang terdapat dalam disiplin kimia dan fisika. Maka atas dasar pemeliharaan/pelestarian Kakbah, dibuatlah Syazarwan dari batu pualam atau yang lebih dikenal dengan batu marmer.

Terkait apakah Syazarwan adalah bagian dari Kakbah atau bukan, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Imam Abu Hanifah, Syazarwan bukanlah bagian dari Kakbah. Sedangkan Imam Syafi’i, Abu Hamid Al Isfarayini, Ibnu Shalah, dan An Nawawi berpendapat bahwa Syazarwan merupakan bagian dari Kakbah karena ia melekat pada pondasi Kakbah. Selain itu jika tawaf melewati bagian atas Syazarwan maka tawafnya harus diulang dari titik pertama.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Syazarwan adalah bukan bagian dari bangunan Kakbah karena batu tersebut bukan dibangun oleh Nabi Ibarahim melainkan hal baru yang ditambahkan pada dinding Kakbah.

Meskipun terjadi perbedaan pendapat dalam hal ini, namun semuanya sepakat bahwa keberadaan Syazarwan yang melekat pada pondasi Kakbah sebagai penguat dan pelindung dari kerumunan manusia dan genangan air. Keberadaannya ini dapat diterima oleh masyarakat Muslim tanpa ada yang menentangnya.

Selain sebagai penguat dan pelindung kakbah, Syazarwan juga berfungsi sebagai dudukan pengait Kiswah Kakbah. Kiswah Kakbah yang memilki luas sekitar 600 meter persegi ini dikaitkan pada lubang pengait yang saati ini sebagian pengait tersebut ada yang sudah dilapisi emas dan ada yang masih berbahan stainless steel, pengait ini berfungsi agar Kiswah tidak terjatuh atau terlepas dari kakbah ketika terkena angin dan sentuhan jemaah yang mendekati Kakbah.

Dalam perjanalannya yang panjang Syazarwan telah mengalami beberapa kali renovasi. Pembangunan pertama, banyak riwayat yang menyatakan bahwa penguat pondasi Kakbah ini dibangun oleh Abdullah bin Zubair ketika Kakbah direnovasi di masanya. Namun ada pula riwayat yang menyatakan bahwa Syazarwan juga dibangun oleh Suku Quraisy meskipun dikatakan bahwa merekalah yang mengurangi batu pada pondasi kakbah.

Namun perbedaan pendapat di kalangan sejarawan ini bukanlah hal yang krusial, karena masyarakat Muslim pada umumnya tidak mempersoalkan hal itu. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang pelopor bangunan Syadzarwan, namun yang tidak dapat dipungkiri oleh kebanyakan ahli sejarah bahwa Kakbah telah mengalami beberapa kali pemugaran sama halnya dengan Syadzarwan. Tercatat bahwa penguat pondasi Kakbah ini telah mengalami 6 kali renovasi dari tahun 542 H sampai masa kepemimpinan Raja Fahd pada tahun 1417 H.

tliugk

Bentuk Syadzarwan seperti pelana terdiri dari  68 batu marmer yang dilekatkan pada bagian kaki Kakbah di tiga arah sedangkan di ambang pintu Kakbah tidak terdapat Syadzarwan. Adapun 3 arah tempat dilekatkannya Syadzarwan tersebut adalah:

  • Dinding tiang bagian barat sampai ke Rukun Yamani terdiri dari 25 batu marmer;
  • Dari Rukun Syami sampai ke Rukun Hajar Aswad terdapat 13 batu marmer;
  • Di Rukun Yamani ada 1 batu yang melingkar;
  • Kemudian dari Rukun Yamani ke Rukun Hajar Aswad terdapat 19 batu marmer.

Selanjutnya untuk ukuran batu marmer ini memiliki ukuran yang berbeda-beda pada tiap penempatannya di tiga arah. Panjang Syadzarwan pada sisi Multazam 12,84 meter, pada sisi Rukun Yamani sampai Hajar Aswad 11,52 meter, pada sisi Rukun Yamani sampai Hijr Ismail 12,11 meter dan di antara dua ambang pintu Hijr Ismail 11,28 meter.

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa Syazarwan ini telah 6 kali dipugar yaitu pada tahun 542 H, 636 H, 660 H, 670 H, 1010 H dan terakhir adalah ketika dilakukannya renovasi besar-besaran terhadap Kakbah oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz pada tahun 1417 H. Di masa pemerintahan Raja Fahd, batu marmer yang lama diganti dengan marmer yang baru dengan kualitas serupa. (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top