Masjidil Haram (2)

Dikepung Perumahan Penduduk, Berpintu Lorong Kabilah

(gomuslim). Embrio Masjidil Haram yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu secara alamiah membentuk area tawaf dan ibadah itu berlangsung hingga bertahun-tahun. Tidak ada dinding pembatas kecuali rumah-rumah penduduk yang tercluster berdasarkan kabilah-kabilah sehingga nama lorong ke arah Masjidil Haram dan Kakbah pun berdasarkan nama kabilah.

Diperkirakan 500 tahun sebelum masa kenabian, Masjidil Haram juga berfungsi sebagai pusat aktivitas paling bergengsi bagi masyarakat Arab, yaitu tempat pameran karya-karya syair terbaik yang sebelumnya dilombakan di Ukaz Bazar.

Dahulu, orang-orang Arab sangat kagum dengan kepandaian bahasa dan keindahan syair, maka hasil dari kontes syair di Ukaz digantung di dinding Kakbah. Ada sebanyak tujuh syair terbaik (sab’u mu’allaqat) yang dipilih secara selektif dan semua masyarakat Arab yang setiap hari berdatangan ke area Masjidil Haram menyaksikan karya tersebut.

 

 

Kakbah sebagai tempat ibadah dan aktivitas sosial dalam keadaan demikian berlangsung hingga zaman Nabi Muhammad SAW. Dikepung perumahan sebagai batas dan hanya berpintu lorong perkampungan penduduk Mekkah. Luas area yang dimaksudkan sebagai Masjidil Haram

Seorang penulis bernama Yaqut al Hamawi dalam kitab “Mu’jam al Buldan” meriwayatkan, bahwa pada masa Nabi SAW baru ada batas sederhana secara alamiah berupa bangunan tempat tinggal penduduk area tawaf di sekitar Kakbah. Pada masa awal perkembangan Islam sampai pada masa pemerintahan khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq, bentuk bangunan Masjidil Haram juga masih sederhana. Masjid ini belum memiliki dinding sama sekali. Baru berupa tanah lapang yang digunakan untuk thawaf dan lainnya.

Dinding-dinding pembatas mulai dibuat dan diluaskan hingga harus membebaskan perumahan penduduk. Itu terjadi pada tahun 17 H /638 M, di masa Khalifah Umar bin Khattab (khalifah kedua). Khalifah Umar menutup lantai dengan hamparan kerikil, kemudian dia membangun tembok mengelilingi masjid setinggi dada orang dewasa, membuatkan beberapa pintu, lampu-lampu di pasang karena saat itu umat Islam sudah merata ke seluruh suku-suku sekitar sehingga masjid menjadi ramai siang dan malam. Diperkiran luas tambahan ini adalah 840 M2.

Sekitar 10 tahun kemudian, perluasan selanjutnya terjadi pada masa Khalifah Utsman (26 H/ 646 M). Saat itu jumlah umat Islam sudah berkembang lebih pesat lagi sehingga batas perluasan pertama pada zaman Khalifah Umar sudah tidak mampu lagi menampung jemaah. Maka, Khalifah Ustman juga membeli rumah-rumah yang lain dengan harga yang lebih mahal. Penduduk berbondong-bondong menyerahkan tempat tinggalnya untuk dijadikan masjid dengan ganti keuntungan yang baik.

Diriwayatkan bahwa Khalifah Utsman yang pertama kali memberi ‘atap’ pada saat perluasan masjid yang dilakukan secara besar-besaran. Saat itu situasi masjid berkoridor-koridor sebagai tempat berteduh untuk jemaah haji dan umrah serta jemaah iktikaf. Diperkirakan luas perluasan pada masa ini adalah 2040 M2 .

Perluasan pada zaman Khalifah Ustman tergolong agak besar dan pemanen karena bangunan Masjidil Haram mulai terbentuk melingkari area tawaf, terus meluas ke belakang dengan bagian depan diberi atap semi permanen. Bangunan demikian bertahan bertahun-tahun hingga Khalifah berganti kepada Sayyidina Ali dan beberapa khalifah sesudahnya.

Sedangkan pada masa Kemudian Abdullah Ibn al-Zubair (65 H/ 684 M), cucu Sahabat Abu Bakar dari putri Asma Abu Bakar) bangunan Masjidil Haram dibuat lebih bagus.  Setelah menyelesaikan pernugaran Kakbah, dia memperluas Masjidil Haram dengan sangat besar,  memberi tiang yang berhias batu marmer, dan memperindah pintunya. Diperkirakan perluasan ini mencapai 4050m2.

Ketika itu Masjidil Haram sudah berdiri sebagai bangunan terbaik di sektiar Mekkah. Tidak ada rumah penduduk atau orang terkaya sekalipun yang menandingi kebesaran bangunan dan keindahannya. Bangunan masjid juga sudah membentuk pola dan menjadi permanen serta kokoh.

Pada sisi lain, perkembangan Islam juga sedemikian pesat. Umat yang berdatangan ke Masjidil Haram tidak hanya pada musim haji tetapi sepajang hari dan bulan silih berganti umat Islam dari negeri jauh berdatangan. Tidak ada sepi di Masjidil Haram. Setiap saat ribuan orang bertawaf dan sa’i di area masjid pertama di dunia ini. Maka perluasan area masjid mulai dilakukan lagi dari generasi dan penguasa ke penguasa.

 

 

Pada masa Abdul Malik bin Marwan (Abdul Malik bin Marwan 685-705 M / 65 H) ia menambahkan tinggi dinding masjid dan membawakan pagar dari Mesir lewat laut ke Jeddah dan dari Jeddah dibawa ke Mekkah. Khalifah Bani Umayyah yang berkedudukan di Damaskus ini menyuruh Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi  yang berkuasa di Mekkah melakukan renovasi Masjidil Haram yang rusak dihantam manjaniq saat terjadi keributan dan perebutan kekuasaan.

Abdul Malik adalah khalifah kelima dari dinasti Bani Umayyah (Muawiyah bin Abu Sufyan (Muawiyah 1) 661-680 M / 41 H,  Yazid bin Muawiyah (Yazid 1) 680-683 M / 60 H, Muawiyah bin Yazid (Muawiyah 2) 683-684 M / 64 H, Marwan bin Hakam ( Marwan 1) 684-685 M / 64 H). Ia diketahui penguasa Bani Umayyah juga tercatat pernah melakukan perombakan besar di Masjidil Haram. Seterusnya hingga penguasa ke-14 runtuh, Marwan bin Muhammad (Marwan II) 744-750 M / 127 H), tidak henti dilakukan perluasan Masjidil Haram untuk menampung jemaah haji dan umrah yang terus bertambah banyak karena pada masa itu Islam sudah sampai Balkan, Eropa Timur, Afrika, dan Asia, terutama di sebagian besar Asia Selatan.

Sebagai sebuah pusat tempat ibadah umat Islam, Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Kakbah secara otomatis perlu terus berbenah agar sesuai dengan situasi dan kondisi zaman. (mm/bbs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top