Masjidil Haram (4)

Dirancang Arsitek Turki Utsmani Beratus Tahun Lalu, Bertahan Hingga Hari Ini

(gomuslim). Pembangunan Masjidil Haram yang fenomenal berikutnya terjadi pada masa kesultanan Turki Ustmani. Pada masa kesultanan yang berlangsung dari tahun 1294 hingga 1924 Masehi itu meninggalkan warisan berupa bangunan Masjidil Haram yang termegah se-Dunia pada zamannya, bahkan diantara bagian bangunan peninggalan Turki Utamani itu baru dibongkar pada perluasan masjid tahun 2013-2016 ini.

 

Seperti diketahui, Pemerintah Kerajaan Saudi melakukan proyek perluasan tempat tawaf yang dirancang para ahli dari Universitas Umm Al-Qura selama 3 tahun terakhir (2013-2016). Perluasan ini menambah daya tampung 130 ribu jemaah perjam dari sebelumnya 52.000 jemaah. Area tawaf atau mataf diperluas 20 meter hingga serambi lama yang dibangun pada masa Kekhalifahan Turky Utsmani terkena bongkar.

Bangunan Turki Utsmani itu fenomenal karena bertahan lebih dari 500 tahun sehingga setiap bagiannya menyimpan nilai historis tinggi. Sempat beredar pemberitaan bahwa terjadi jual-beli puing dari pembongkaran bagian peninggalan Turki Utsmani itu pada tahun 2015 lalu. Bagian sejarah pembangunan Masjidil Haram itu diminati kolektor dan laku di kisaran harga hingga senilai Rp500 juta untuk satu item barang bersejarah tersebut.

Secara historis, pembangunan besar-besaran pada masa Turki Utmani itu antara lain terjadi pada tahun 979 H/ 1571 M ketika Sultan Salim al-Utsmani memugar bangunan masjid secara total dan bangunan ini sebagian tetap ada sampai sekarang dan dikenal secara internasional dengan bangunan Ottoman.

Sebelumnya, Sultan Salim sudah memerintahkan arsitek Turki kenamaan Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidil Haram secara keseluruhan, yang kokoh, megah dan artistik. Sinan lalu mengganti atap masjid yang rata dengan kubah, lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya.  Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern.

Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut yang masih dapat kita lihat hingga renovasi besar-besaran pada tahun 2013-2016 ini. Bentuk dasar bangunan Masjidil Haram hasil renovasi Dinasti Utsmani itulah yang dapat dilihat saat ini. Hanya saja pada bagian utara masjid sudah terbongkar untuk perluasan area tawaf.

Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Mekkah dan sekitarnya, mengakibakan kerusakan pada Masjidil Haram dan Kakbah. Pada masa kekuasan Sultan Murad IV tahun 1629, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Masjidil Haram juga mengalami renovasi kembali.

Karya Sinan di Masjidil Haram mengesankan jutaan muslim yang setiap tahun berhaji dari tahun ke tahun, sehingga melahirkan jenis baru seni yang kemudian dikenal dengan sebagai arsitektur Islami. 

Ciri menonjol karya Sinan yang kemudian dijadikan rujukan arsitektur Islam itu adalah pola bangunan yang memanfaatkan sepenuhnya cahaya dan bayangan, kehangatan dan kesejukannya, angin dan sirkulasinya, air dan efek penyejukannya, tanah dan ciri-ciri isolatifnya serta sifat-sifat protektifnya terhadap cuaca.

Sesungguhnya wujud arsitektur Islami sebagaimana tercermin di Masjidi Haram adalah sebuah kristalisasi dari spiritualitas yang memberi kedamaian serta keselarasan alam yang suci. Ciri itu tampak jelas dalam jejak-jejak arsitektur peninggalan Kesultanan Turki Utsmani di Masjidil Haram yang dipelihara beratus-ratus tahun itu.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sendiri selama ini hanya menambah bagian luar Masjid peninggalan Turki Utsmani tersebut dan baru pada renovasi terakhir ini membongkar sebagian untuk area tawaf. Hal itu tentu karena kualitas dan kemegahan bangunan tersebut masih dapat dirasakan hingga saat ini. (mm)

 


Back to Top