Masjidil Haram (5)

Renovasi Awal Kerajaan Saudi, Madrasah Pertama Nabi dan Rumah Imam Nawawi Albantani Tergusur

(gomuslim). Setelah perluasan dan pembangunan berarsitektur khas Turki Utsmani yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khusus Masjidil Haram dan kubah-kubah kecilnya masih terlihat sampai hari ini, pembangunan fenomenal berikutnya dilaksanakan pada tahun tahun 1375 H/ 1956 M.

Ini merupakan perluasan Masjidil Haram yang dilakukan oleh Pemerintahan Kerajaan Saudi setelah berkuasa pada tahun 1924. Renovasi besar pertama yang dilakukan di era Raja-raja Saudi ini berlangsung pada tahun 1956 hingga tahun 1973. Selain penambahan tiga menara, atap masjid pun diperbaiki, lantai masjid diganti dengan marmer yang baru dan empat pilar besar berusia lebih 400 tahun dirobohkan.

 

 

 

Pembangunan yang dikerjakan Saudi Binladin Group (SBG, berdiri sejak 1931) ini dapat dikatakan fenomenal karena penambahannya tergolong terstruktur, sistematis dan massif di segala arah secara serentak meluas ke arah luar. Bangunan-bangunan di sisi luar masjid diratakan, termasuk rumah-rumah yang disebut-sebut sebagai rumah bersejarah di sekitar bukit Shafa hingga Marwah. Ada rumah yang disebut milik para sahabat Nabi, ada rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam yang berfungsi sebagai madrasah pertama, tempat para sahabat secara bergantian keluar masuk rumah tersebut untuk dibina Rasulullah.Termasuk yang terkena gusur adalah tempat 'pesantren'l Imam Nawawi al-Bantani, yang dijadikan sebagai ‘rubat jawiyah’ atau pesantren orang-orang Nusantara dekat bukit Marwah sebelum kemudian pindah ke daerah Misfalah.

Di antara pembaruan pembangunan fase pertama Kerajaan Saudi ini adalah daerah lintasan sa’i yang awalnya terkesan tidak teratur karena antara dua bukit tersebut terdapat bangunan-bangunan yang berdekatan dengan masjid dan sebelah luarnya lagi difungsikan sebagai pasar. Antara orang bersa’i dan berbelanja nyaris setiap saat bertumpuk dalam satu area. Pada masa pembangunan ini untuk pertama kalinya daerah lintasan itu dimasukkan ke dalam bagian masjid.

 

 

Sebelum dimulai pembangunan, Presiden Sukarno sedang menunaikan ibadah haji dan mendengar Pemerintah Saudi akan melakukan renovasi besar-besaran, sehingga Presiden RI yang insinyur sipil dari ITB itu menghadap Raja Khalid untuk menyampaikan gagasan pengaturan daerah lintasan sa’i, dan usul tersebut diterima. Pemerintah Saudi meluaskan arean lintasan dan membangi menjadi dua arus ke Shafa dan ke Marwah, lalu di tengahnya diberi ruang pembatas untuk kaum difable, orang tua, dan pengguna kursi roda. Sejak itu seluruh daerah sa'i kemudian menyatu dengan bagian Masjidil Haram.

Sebagian besar penambahan bangunan meluas ke arah luar meliputi semua arah dan untuk keperluan ini, seluruh bangunan yang berdekatan dengan masjid dibebaskan dengan ganti rugi yang sepadan. Catatan sejarah menilai pembangunan tersebut tampak modern dan megah sehingga Masjidil Haram tercatat sebagai salah satu dari ‘tujuh bangunan keajaiban dunia’ pada saat itu. Masjidi Haram menjadi sangat luas. Kerajaan Saudi juga menambahkan ke dalam masjid suatu bangunan yang indah terdiri dari tiga lantai sehingga luas masjid menjadi 193.300 M2 dengan tambahan seluas 153.000 M2. Saat itu masjid dapat menampung sekitar 400 ribu jemaah yang sebelumnya hanya menampung 50 ribu jemaah.

 

 

Pada masa pembangunan pertama era Kerajaan Saudi ini tidak banyak melakukan sentuhan di bagian depan yang menghadap ke Kakbah dan itu juga terjadi pada pembangunan fase berikutnya hingga pembangunan tahun 2013-2016 yang terus meluar ke sisi luar dan kita masih dapat melihat kubah-kubah kecil di atap bangunan yang menghadap Kakbah peninggalan Turki Utsmani sejak 500 tahun lalu.

Pembangunan pertama Kerajaan Saudi juga belum menyentuh bagian sekitar area tawaf. Bangunan-bangunan di sekitar Kakbah tampak belum dibersihkan karena dianggap belum mengganggu lintasan Jemaah tawaf dan masih dibutuhkan antara lain bangunan di sumur zam-zam dan mimbar. Berdasarkan foto-foto koleksi Jemaah yang dipublikasikan secara luas, suasana sekitar Masjidil Haram dari tahun 1950-an hingga 1970-an memang belum terlalu padat.

Dalam foto-foto tersebut terlihat masih belum terlalu padat Jemaah yang berada di area tawaf. Hal ini kontras dengan suasana saat ini yang selalu berdesak-desakan saat melakukan tawaf. Meskipun area kompleks Masjidil Haram saat ini jauh lebih luas dibandingkan dengan tahun 1950-an, tetapi masih saja belum cukup untuk menampung jemaah haji. Oleh karena itu, Masjidil Haram selalu ada renovasi untuk bisa menampung jumlah jemaah haji yang terus bertambah.

 

Pada tahun 1960-70-an terjadi renovasi kecil-kecilan pada bagian fasilitas penunjang seperti tempat wudlu, toilet dan penambahan-penambahan lain. Saat itu, daya tampung Masjidil Haram masih dianggap memadai untuk mengakomodasi tambahan Jemaah, namun area tawaf mulai dibersihkan dari bangunan-bangunan selain Kakbah karena dirasa mulai mengganggu lalu lintas Jemaah tawaf yang mulai memadat. Saat itu seluruh area tawaf sudah rata dan bagian yang ke arah sumur zam-zam dibuat jalan ke ruang bawah lintasan lantai dasar sampai akhirnya ditutup pada tahun 2004.

Pembangunan terus dilakukan untuk kepentingan yang lebih besar dalam rangka kemaslahatan umat, agar pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan khidmat. (bersambung)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top