Masjid-Masjid Nusantara (2)

Masjid Agung Semarang Jawa Tengah, Kemegahan Perpaduan Arsitektur Tiga Budaya

gomuslim.co.id- Jalan-jalan ke Jawa Tengah, khususnya Semarang, tidak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Masjid Agung Semarang Jawa Tengah (MAJT). Masjid berasitektur tinggi ini tergolong unik. Bagaimana tidak, Masjid yang berlokasi di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang ini memiliki payung yang hampir sama dengan yang dimiliki mesjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Sekilas saja anda memandang, bangunan Masjid ini terlihat begitu kokoh dan megah. Kemegahannya pun akan semakin elok berkat sentuhan arsitektur yang memang indah. Keindahannya akan membuat siapa pun terpana saat melihatnya. Terlebih, jika anda adalah pecinta wisata religi, Masjid Agung ini menjadi salah satu destinasi wisata yang tepat untuk para wisatawan.

Perpaduan gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani (Romawi) begitu melekat pada bangunan Masjid ini. Atap Masjid dan dasar tiang dibuat penuh dengan motif batik menunjukan ciri khas Jawa. Sementara, di bagian dinding terlihat sentuhan kaligrafi dan kubah besar yang dikelilingi 4 menara yang menunjukkan sentuhan khas Timur Tengah. Majid ini merupakan buah karya dari arsitek Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001.

Selain itu, pada pelataran masjid di sisi depan, pilar-pilar dihadirkan dalam gaya arsitektur mirip Colloseum Roma. Terdapat 25 pilar sebagai perlambang jumlah nabi dan rasul yang dipercaya umat Islam. Pilar tersebut terlihat begitu kokoh dengan balutan perpaduan warna putih, ungu, dan emas. Di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti”.

MAJT ini sekias mirip dengan Masjid Nabawi yang ada di kota Madinah, Arab Saudi. Tandanya, ada enam payung elektronik otomatis berukuran raksasa yang memang terinspirasi dari payung di Masjid Nabawi. Jumlah payungnya yang ada 6. Ini menjadi simbol rukun iman dalam ajaran agama Islam

Payung elektrik dibuka setiap salat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid. Bila payung dibuka, maka kapasitas masjid bisa jauh lebih besar hingga mampu menampung 10.000 jamaah.

Begitu memasuki masjid, anda akan terlihat Alquran raksasa dengan ukuran 145 x 95 cm. Alquran tersebut bernilai istimewa bukan hanya karena ukurannya yang besar. Namun, Alquran jumbo tersebut juga ditulis tangan oleh penulis kaligrafi Hayatudin dari Universital Sains dan Ilmu Alquran Wonosobo. Tidak main-main, butuh waktu 3 tahun baginya untuk merampungkan Alquran tersebut.

Selain itu, terdapat menara Al Husna (Al Husna Tower) yang tampil menonjol. Menara tersebut memiliki tinggi 99 meter dengan 19 lantai. Ketinggian 99 meter dipilih menjadi perwakilan 99 Asmaul Husna. Bagian dasar dari menara, terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam.

Di puncak menara, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Semarang dari ketinggian. Disana, pelabuhan Tanjung Perak pun terlihat seolah begitu dekat. Sementara, di lantai 18 terdapat restoran (kafe) yang bisa berputar 360 derajat. Di lantai 19 terdapat menara pandang yang dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang.

Masjid Agung Semarang ini berdiri diatas lahan seluas 10 hektar. Tepatnya bangunan utama masjid memiliki luas 7.669 meter persegi, sementara luas halaman berukuran 7.500 meter persegi. Pembangunan masjid ini memakan waktu kurang lebih 5 tahun. Mulai tahun 2001 dan selesai tahun November 2006. Masjid Agung Semarang kemudian diresmikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 14 November 2006 yang saat itu masih menjabat.

MAJT ini tidak hanya difungsikan untuk sembahyang 5 waktu saja. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha.

Keberadaan bangunan masjid ini tak lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya.

Raibnya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang berawal dari proses tukar guling tanah wakaf Masjid Kauman seluas 119.127 ha yang dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid) bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan alasan tanah itu tidak produktif, oleh BKM tanah itu di tukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak lewat PT. Sambirejo. Kemudian berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo.

Hasil perjuangan banyak pihak untuk mengembalikan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang itu ahirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang. MAJT sendiri dibangun di atas salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali tersebut.

Pada tanggal 6 juni 2001 Gubernur Jawa Tengah membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah untuk menangani masalah-masalah baik yang mendasar maupun teknis. Berkat niat yang luhur dan silaturahmi yang erat, dalam waktu kerja yang amat singkat keputusan-keputusan pokok sudah dapat ditentukan seperti status tanah, persetujuan pembiayaan dari APBD oleh DPRD Jawa Tengah, serta pemiilhan lahan tapak dan program ruang.

Kemudian pembangunan masjid tersebut dimulai pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama tersebut juga dihadiri oleh tujuh duta besar dari Negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dabi. Dengan demikian mata dan perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tersebut.

Meskipun baru diresmikan pada tanggal 14 Nopember 2006, namun masjid ini telah difungsikan untuk ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini telah digunakan ibadah Salat Jumat untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, (Kakanwil Depag Jawa Tengah)

Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas. (njs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top