Masjid-Masjid Nusantara (3)

Masjid Jogokariyan: Wujud Perkembangan Ekonomi Kampung Islam di Sudut Kota Yogyakarta

gomuslim.co.id- Namanya Masjid Jogokariyan. Tidak banyak yang tahu keberadaan dan bagaimana Masjid ini berkiprah dalam dunia dakwah. Namanya terdengar begitu sederhana. Jokokariyan. Bukan diambil dari bahasa Arab melainkan dari bahasa daerah jawa. Serpertinya tidak Islami memang. Namun, takmir Masjidnya mengatakan pemberian nama ini sesuai dengan sunnah Nabi. Memberi nama sesuai dengan nama daerah Masjid itu dibangun.

Nama Jogokariyan diambil dari nama kampung tempat Masjid itu berdiri. Masjid Jogokariyan memang berada di tengah kampung di pinggiran Kota Yogyakarta. Terletak di jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Masjid ini ternyata sudah sejak lama tersohor hingga ke mancanegara.

Pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya, Masjid ini terletak di sebelah selatan kampung Jokogkariyan, namun seiring berjalannya waktu, takmir masjid pertama yakni Ustadz Amin Said mengusulkan untuk memindahkan masjid ke tengah kampung. Hingga akhirnya sampai saat ini dengan segala perkembangannya Masjid Jogokariyan berdiri di sudut perempatan kampung.

Pembangunannya bertahap. Awalnya masjid ini hanya terdiri dari bangunan inti saja. Lalu, pada tahun 2006, ada rumah runtuh di sebelah masjid. Rumah itu mau dijual kalau masjid yang membeli. Setelah itu Masjid ini kemudian berkembang. Pengurus Masjid mendirikan Islamic Center di sisi timur bangunan utama.

Dari penawaran itu kemudian pihak masjid membuka kesempatan infaq bagi siapapun yang berkenan. Di Islamic Center Masjid Jogokariyan inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan. Ada 28 divisi yang bekerja. Di antaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat.

Tidak ada yang spesial dengan bangunannya. Masjid ini adalah masjid sederhana yang memiliki dua lantai. Hanya masjid kampung yang bertingkat dua. Tapi ada yang luar biasa muncul dari sana. Sesuatu yang tidak akan kita sadari ketika  kita datang di luar waktu Shalat. Di Masjid ini, jama’ah shalat Subuhnya sebanyak separuh jama’ah Shalat Jum’at. Sangat ramai.

Di sisi lain, Masjid ini mampu memakmurkan dan melayani bahkan menjadi tulang punggung bagi masyarakat di sekitarnya. Jogokariyan merupakan satu dari sedikit Masjid yang tidak bergantung pada infak dan sedekah dari masyarakat sekitarnya dan telah sangat membantu kehidupan masyarakat sekitarnya.

Ustadz Jazir adalah salah seorang pengurus dari Masjid Jogokariyan, yang sudah merintis gerakan dakwah yang berpusat di Masjid ini semenjak beliau kecil. Sekitar 60 tahun yang lalu beliau tergabung dalam forum Remaja Masjid Jogokariyan (RMJ), dan sampai hari ini beliau masih setia mendampingi dakwah di Masjid Jogokariyan.

Ustadz Jazir juga merupakan salah satu perumus dari metode Iqra untuk belajar Alquran. Hal tersebut merupakan sendi pertama yang harus diperbaiki dari umat muslim, bisa membaca Alquran. Lalu sendi yang kedua adalah Masjid sebagai pusat peradaban. Karena itulah beliau bergerak untuk memakmurkan Masjid Jogokariyan.

Masjid yang Membangun Ekonomi dan Karakter Umat

Masjid ini memiliki kemandirian secara ekonomi. Pada awalnya, Ustadz Jazir memperkirakan pengeluaran tetap dari Masjid di setiap bulannya lalu dibagi menjadi empat kali Shalat Jum’at dan dihitung dengan jumlah total jama’ah Shalat. Ternyata, kebutuhan Masjid akan tertutupi seandainya setiap jama’ah menginfakkan 1.500 rupiah saja di setiap Jum’at.

Uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tersebut tidak disalurkan untuk pembangunan masjid, melainkan dikelola untuk berbisnis. Bisnis tersebutlah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran Masjid, bahkan juga untuk masyarakat sekitar Masjid.

Melalui bisnis tersebut, disusunlah program-program kemasyarakatan yang diberikan untuk masyarakat sekitar Jogokariyan. Beberapa program yang tersedia untuk Masjid Jogokariyan saat ini adalah program umroh untuk empat jama’ah yang paling rajin untuk datang Shalat berjama’ah di Masjid tersebut.

Selain itu, ada juga program yang disediakan untuk jama’ah Shalat Subuh. Pihak pengurus masjid memulainya dengan membuat sebuah undangan yang dibentuk seperti undangan pernikahan yang ditujukan kepada setiap masyarakat di Jogokariyan. Isinya adalah undangan untuk menghadiri agenda Shalat Subuh berjama’ah di Masjid Jogokariyan; jam 04.15 WIB.

Kemudian mereka melanjutkan dengan program-program lainnya seperti kajian ba’da Subuh, bahkan sampai sarapan gratis bagi mereka yang Shalat Subuh berjamaah lalu melanjutkan aktivitas di Masjid sampai jam kantor tiba. Bahkan bagi anak-anak, disediakan uang jajan bagi mereka jika ikut melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid dan melanjutkan aktivitas sampai jam sekolah tiba. Setiap Ramadhan, Masjid menyediakan sahur dan buka puasa gratis bagi seluruh masyarakat Jogokariyan.

“Masjid tidak boleh menjadi beban bagi masyarakatnya, justru tegaknya Masjid di sebuah wilayah harus menjadi jaminan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itulah Masjid harus bergerak dengan jelas, dengan pemetaan yang jelas, dengan strategi yang juga jelas,” katanya.

Selain itu, Masjid Jogokariyan juga tidak melupakan visi jangka panjangnya, membangun pemuda-pemuda yang lahir dari Masjid dan mencintai Masjid. Hingga hari ini, RMJ sudah mengeluarkan banyak alumni yang datanya tersusun rapi di manajemen Masjid. Mereka tergabung dalam ikatan alumni Remaja Masjid Jogokariyan.

Seiring berkembang waktu, lahir lagi adik dari RMJ yang bernama Hamas atau Himpunan Anak Masjid Jogokariyan. Di akhir tahun 2014 lalu, Ustadz Jazir menjelaskan bahwa Hamas baru saja mengadakan diskusi terkait dengan kebijakan BBM dari Pemerintah yang mengundang salah seorang Profesor ahli kebijakan publik dari UGM.

“Kita punya sejarah bangsa yang dibangun oleh para pemuda. Soekarno, Natsir, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, mereka bersinar di usia muda! Saya sendiri sudah terbiasa membaca buku-buku sejarah dan ideologi sejak usia SMP,” jelasnya.

Masjid ini juga menjadi juara 1 Masjid Besar Percontohan DIY beberapa waktu lalu. Uniknya, setiap tahun Masjid Jogokariyan memiliki program Sensus Masjid yang bertujuan untuk mendata jamaahnya dan sebagai informasi awal kegiatan.

Data Base dan Peta Dakwah tak hanya mencakup nama KK dan warga, Pendapatan, Pendidikan dan lain-lain,  tetapi juga sampai kepada siapa saja yang sholat & yang belum sholat, yang sholat di Masjid dan yang belum sholat di Masjid, yang sudah berzakat atau yang belum, yang sudah ber-qurban atau yg belum ber-qurban, yang aktif mengikuti kegiatan masjid atau yang belum, yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana.

Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak membuat unit Usaha agar tidak menyakiti jamaah yang juga memiliki bisnis serupa. ini harus dijaga, misalnya, tiap pekan Masjid Jogokariyan biasa menerima ratusan tamu, sehingga konsumsi untuk tamu diorderkan bergilir pada jamaah yang punya rumah makan.

Jika ada Masjid mengumumkan dengan bangga bahwa saldo infaknya jutaan, maka Masjid Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumumaan saldo-infak harus sama dengan nol Rupiah.

Masjid ini juga memiliki wifi gratis yang sudah ada sejak tahun 2004. Tersedia juga ruang olahraga atau bermain yang terdapat alat olahraga seperti tenis meja dan lain-lain, sehingga anak-anak atau remaja atau pemuda yang ingin bermain atau berolahraga di Jogokariyan bisa kerasan atau betah.

Setiap kali renovasi Masjid. Takmir Masjid berupaya untuk tidak membebani jamaah dengan proposal. Takmir hanya pasang spanduk bertuliskan “Mohon maaf ibadah Anda terganggu, Masjid Jogokariyan sedang kami renovasi” dan nomor rekening tertera di bawahnya.

Sejak tahun 2005 Masjid Jogokariyan sudah menjalankan program Universal Conference Insurance dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah Sakit atau klinik manapun secara Gratis-tis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan. Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa. Arab, Indonesia, dan Jawa. Ini merupakan wujud dari semangat untuk menjadi Muslim yang salih seutuhnya tanpa kehilangan akar budaya. (njs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top