Masjid-Masjid Nusantara (4)

Masjid Tiban: Buah Keikhlasan yang Jadi 1000 Pintu Kebaikan

gomuslim.co.id- Unik, menarik, dan nyentrik. Mungkin tiga kata inilah yang pas untuk menggambarkan masjid yang satu ini. Bagaimana tidak, bangunan masjid yang besar nan indah ini akan membuat siapa pun ternganga saat melihatnya. Namanya masjid Tiban. Konon, julukan tersebut diberikan oleh masyarakat karena masjid ini ada secara tiba-tiba. Tidak terlihat proses pembangunannya.

Masjid Tiban ini berada di kawasan Pondok Pesantren Biharu Bahri’asali Fadlaailir Rahmah. Letaknya di Jalan KH Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06 Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang, sekitar 40 kilometer dari Kota Malang, Jawa Timur. Sebenarnya ini bukan masjid yang kemudian ada pesantrennya. Tetapi memang pesantren yang membangun masjid tersebut.

Awalnya, pesantren yang ada sejak 1963 itu membangun sebuah masjid. Pembangunannya dimulai pada 1991. Dengan mengusung konsep ramah lingkungan, para santri dan jamaah membangun masjid ini sedikit demi sedikit. Bahkan sampai sekarang pun belum bisa dikatakan sudah rampung. Ada salah satu bagian masjid yang sengaja dibuat menghindari pohon kelapa. Hal itu dilakukan agar pohon kelapa itu tetap hidup dan tidak perlu ditebang.

KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut dengan Romo Kyai Ahmad. Dia adalah pemilik dan pengasuh pondok pesantren yang sekaligus inisiator dari pembangunan masjid yang juga dikenal dengan nama 1000 pintu ini dengan material seadanya. Romo Yai mengaku mendapatkan petunjuk dari sang Kholiq, malalui sholat istikhoroh. Tahun 1992, pembangunan masjid sempat terhenti. Namun, pada akhir 1998 kembali diteruskan dan hingga saat ini.

Uniknya, masjid ini dibangun tanpa ada arsitektur maupun menyontek bangunan masjid lain. Kiyai Ahmad membangun masjid dengan dana sendiri tanpa meminta-minta, tidak ‘toma’ (mengharapkan pemberian orang), dan tidak meminjam kepada pihak manapun. Saat pembangunan, beliau bahkan tidak punya uang seribu rupiah pun untuk jatah pembangunan. Tapi, akhirnya rezeki membangun Masjid ini datang, meski lambat, pembangunannya pun terus berjalan. 

Masjid sekaligus pondok pesantren ini termasuk megah. Bangunannya terdiri dari 10 tingkatan. Dan setiap tingkatan memiliki tema yang berbeda-beda. Di lantai satu, ada beberapa pajangan akuarium yang cukup besar dan tempat penjualan souvenir. Berbagai macam makanan ringan dijual dengan harga murah seperti sarung, sajadah, jilbab, tasbih dan sebagainya. Kemudian di lantai dua sampai enam, ada arsitektur kaligrafi yang terpahat indah.

Lalu di lantai tujuh dan delapan, dijadikan sebagai pusat perbelanjaan atau oleh-oleh seperti studio foto, toko makanan ringan dan toko souvenir yang dikelola oleh santri. Dan di tingkatan ke sembilan dan sepuluh, kita bisa melihat pemandangan di sekitaran kabupaten Malang yang memukau dengan sajian warna hijau. Di dalamnya sudah tersedia lift unntuk mencapai tingkatan tertinggi atau bisa juga melalui anak tangga.

Tempat ini terbuka untuk masyarakat. Bahkan untuk mereka yang datang untuk sekedar berwisata. Tidak ada pungutan biasa bagi wisatawan yang hendak memasuki masjid. Cukup dengan menyebutkan nama, asal, tujuan datang ke masjid tersebut, kemudian petugas akan memberikan secarik kertas sebagai tanda ijin masuk. Kertas tersebut nantinya diberikan kembali kepada petugas saat meninggalkan masjid. Pengunjung pun bisa bermalam disana tanpa dikenai biaya apapun.

Di pintu gerbang utama, terlihat dua buah bangunan mirip guci yang sangat besar dan tinggi berwarna oranye dan biru. Keduanya dipakai untuk pos. Di sisi kanan terletak sebuah taman yang dikelilingi pagar seperti taman bergaya Persia atau India.

Sementara, di lantai dasar, memasuki pintu utama, lewat lorong yang di sisi kiri kanannya penuh ornamen. Ornamen itu mirip batik dipenuhi bentuk daun atau bunga. Di sisi lain juga ada kaligrafi. Di salah satu lantai juga ada beberapa ruang mirip gua, dipenuhi batu-batu yang diterangi lampu. Sementara di sisi kiri-kanannya beberapa akuarium berjajar dipenuhi berbagai ikan hias.

Menjadi Bermanfaat bagi makhkuk sekitar 

Tidak hanya itu. Di masjid tersebut juga terdapat area yang digunakan khusus untuk satwa, seperti kera, burung cenderawasih, rusa, burung kakatua, ayam bekantan dan beberapa macam satwa lainnya. Namun, yang paling utama adalah bisa menikmati arsitekturnya yang nyentrik seperti bangunan Timur Tengah serta dengan segala ornamennya.

Hampir keseluruhan bangunan pondok pesantren dan masjid ini terbuat dari marmer. Kemudian, di dalam ponpes tersebut juga tersedia kolam renang, dilengkapi perahu yang hanya khusus untuk dinaiki wisatawan anak-anak.

Di ruang utama Masjid Tiban, terdapat sebuah jam klasik sebagai center of interest. Hal demikian seolah mengingatkan bahwa hidup manusia di dunia tidak selamanya dan ajal akan menjemput jika sudah tiba waktunya.

Karena masjid ini sudah seperti tempat wisata, tentu dampak bagi masyarakat sekitar juga ada. Masarakat memanfaatkan potensi keberadaan wisata religi Masjid Tiban dengan banyak yang bekerja di kawasan wisata, serta mendirikan perkumpulan masyarakat atau organisasi yang bernama Forum Peduli Kampung (FPK).

Adapun mengenai rute menuju masjid Tiban, jika berangkat dari Stasiun Malang, pengunjung bisa naik angkutan umum jurusan Arjosari-Gadang. Sesampainya di terminal gadang, kemudian dilanjutkan dengan naik mini bus (Colt) dan turun di pangkalan ojek dengan pesan ke kondekturnya turun di arah masjid Tiban. Lalu naik ojek menuju Masjid Tiban. (njs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top