Masjid-Masjid Nusantara (7)

Masjid Al-Markaz Al-Islami: Warisan Sang Jendral yang Jadi Pusat Peradaban Islam di Indonesia Timur

gomuslim.co.id- Masjid adalah tempat ibadah sekaligus pusat peradaban umat Islam. Di kota Makassar, ada satu Masjid yang indah nan megah sekaligus menjadi pusat peradaban Islam di Indonesia bagian timur. Namanya Masjid Al markaz Al-Islami Jendral M. Jusuf. Sesuai dengan namanya, makrkaz dalam bahasa Arab artinya adalah pusat. Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat kota Angin Mamiri.

Berlokasi di jalan Masjid Raya Makassar, Kelurahan Timongan Lompoa, Kecamatan Bontala, Makasar Sulawesi Selatan (Sulsel), Masjid ini membuat setiap orang yang melintas terpana. Dominasi warna hijau yang melekat pada bangunan megah ini seakan menjadi simbol bagi masyarakat kota Makassar yang religius. Masjid yang dikelola Yayasan Islamic Center ini juga merupakan masjid termegah dan terbesar kawasan timur Indonesia.

Sejarah

Masjid ini dibangun pada tahun 1994 atas prakarsa mantan Panglima ABRI, Jendral Purn M. Jusuf. Tokoh militer Indonesia sekaligus mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan ini ingin mengembangkan peradaban Islam di Indonesia bagian timur. Ide ini didapat ketika beliau menjadi Amirul Hajj  pada tahun 1989. Sang Jendral menyampaikan keinginannya mendirikan masjid yang monumental di Makassar.

Guna memulai pembangunan Masjid, Jendral M. Jusuf kemudian mengumpulkan sejumlah tokoh, pengusaha, dan pejabat guna penggalangan dana. Saat itu hadir Zainal Basri Pallaguna, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tungki Ariwibowo, pengusaha Aburizal Bakrie, dan Jusuf Kalla. Mereka membuat komitmen agar saling membantu menyelesaikan pembangunan Islamic dan setelah rampung, turut mengelola.

Masjid ini baru mulai dibangun tanggal 8 Mei 1994 dan selesai tanggal 12 Januari 1996 dengan menelan biaya sekitar 12 miliar rupiah. Masjid dibangun di atas lahan bekas kampus Universitas Hassanudin. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh 2 mentari saat itu, yaitu Yogi S Memet (Menteri Dalam Negeri) dan Edy Sudrajad (Menteri Pertahanan dan Keamanan).

Adapun khotbah pertama dilakukan oleh Prof. Dr. H.M.Quraisy Shihab, MA yang waktu itu adalah rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara ceramah ilmiah perdana Oleh Almarhum Prof.Dr.H. Nurcholish Madjid.

Arsitektur

Bangunan Masjid terdiri atas 3 lantai. Dirancang oleh seorang arsitek bernama Ir. Ahmad Nu’man. Arsitekturnya terinspirasi dari Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Meski begitu, bentuk masjid tidak melupakan unsur arsitektur khas Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat dari atap berbentuk kuncup segi empat yang mengambil ilham dari Masjid Katangka, Gowa masjid tertua di Sulawesi Selatan dan rumah Bugis-Makassar pada umumnya. Masjid ini mampu menampung 10.000 jamaah.

Secara keseluruhan, pondasi bangunan sangat kuat dengan 450 tiang pancang berkedalaman 21 meter. Untuk bagian atap digunakan bahan tembaga atau tegola buatan Italia. Dinding lantai satu menggunakan keramik, sedangkan lantai dua dan tiga menggunakan batu granit.

Dinding mihrab yang merupakan sentralisasi visual berbahan granit hitam berhiaskan ragam kaligrafi segi empat dari tembaga kekuning-kuningan. Kaligrafi ini terdiri dari beberapa ayat dan surat Alquran, di antaranya: “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah”. Sementara itu, di atas mihrab tertulis surat Al-Baqarah: 144, “Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram”.

Masjid juga memiliki menara setinggi 84 meter, dengan ukuran 3 x 3 meter. Tinggi menara ini hanya kurang 1 meter dari menara Masjid Nabawi. Pada ketinggian 17 meter menara tersebut terdapat bak penampungan air bervolume 30 m3.

Halaman dan tempat parkir yang luas serta pohon-pohon yang hijau menjadi tempat nyaman dan menyejukkan. Halamannya juga dilengkapi dengan koridor yang panjang. Hiasan lampu taman membuat masjid ini tampak indah di malam hari. Bentuk masjid yang megah, unik dan indah serta halaman yang luas tak jarang jadi lokasi pemotretan, terutama prewedding.

Fasilitas dan Kegiatan

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Al Markaz Al Islami juga menjadi pusat pengembangan dan penelitian, sosial budaya, pendidikan hingga ekonomi. Di lantai pertama, Al-Markaz memiliki sebuah perpustakaan yang selalu ramai dikunjungi. Terdapat juga Taman Kanak kanak (TK), Taman bacaan Alquran (TPA), Baitul Maal Watanwil (BMT), Lembaga Amil Zakat (LAZ), Kelompok bimbingan ibadah Haji (KBIH), Koperasi, Lembaga penterjemah Alquran, Kursus Bahasa Inggris, Arab, Radio Penerbitan, aula, dan kantor MUI Sulsel.

Sementara lantai 2 dan 3 digunakan sebagai tempat sholat dan kegiatan lainnya seperti pelatihan-pelatihan, dan kuliah dhuha. Selain itu, melalui Badan Pendidikan Islam (BPI)nya, Masjid ini juga mengelola lembaga Bahasa Asing. Diantara Bahasa Asing yang menjadi konsern pengembangannya adalah Bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Mandarin, dan Spanyol.

Di hari Jum’at, Al-Markaz sangat ramai. Koridor-koridor yang panjang dipenuhi penjual kaki lima yang menjajakan dagangan mereka sebelum dan sesudah ibadah sholat Jum’at. Berbagai macam dagangan bisa dijumpai di sini. Masjid ini juga selalu jadi langganan pejabat pusat jika berkunjung ke Makassar. (njs/dbs)


Back to Top