Masjid-Masjid Dunia (9)

Masjid Raya Xi'an: Masjid Unik Warisan Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu

gomuslim.co.id- Sekilas, bangunan ini tidak seperti masjid pada umumnya. Bentuknya yang mirip sebuah kelenteng dan menyerupai sebuah kuil China kuno, membuat siapa pun tak akan mengira kalau bangunan tersebut merupakan tempat ibadah umat Islam. Ya, inilah Masjid Raya Xi'an atau Great Mosque of Xian. Sebuah masjid unik yang menjadi warisan sejarah Negeri Tirai Bambu.

Berlokasi di kota Changán atau yang kini lebih dikenal dengan kota Xián ini merupakan masjid pertama dan tertua di Negeri Tembok Raksasa. Masjid yang beralamat lengkap di Huajue Xiang 30, Xi'an, Shaanxi ini menjadi salah satu obyek wisata terkenal di Tiongkok. Masjid ini buka setiap hari dengan waktu yang berbeda namun pada umumnya mulai pukul 8.00 waktu setempat hingga pukul 19.30 malam.

Sejarah

Masjid ini berdiri pada abad ke 8 Masehi. Tepatnya pada tahun 742 di masa pemerintahan Kaisar Tia Bo dari dinasti Tang (618-907). Tahun-tahun keemasan jalur sutra, saat itu banyak pedagang dari Arab dan Persia mendatangi Cina melalui Jalur tersebut. Selain berdagang, mereka juga berdakwah, menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Masjid Raya Xi’an menjadi salah satu jejak bersejarah aktivitas dakwah mereka.

Sejak abad ke 17 Masjid Xi’an sudah mengalami beberapa kali proses rekonstruksi. Sebagian besar bangunan yang ada saat ini merupakan bangunan dari Dinasti Ming dan dan Dinasti Qing di abad ke 17 dan 18. Masjid ini didirikan di Hua Je Lane di luar tembok kota yang dibangun semasa dinasti Ming. Meski sudah direnovasi, namun saat itu samasekali tidak pernah menambahkan kubah atau dome dan menara atau tidak merobah arsitektur asli masjid.

Masjid Raya Xi'an, yang terakhir kali di rekonstruksi pada abad ke 18 Masehi, mengikuti arsitektur Tiongkok. Paviliun Tiongkok, menjadi menara di salah satu lokasi di masjid raya Xi'an. Xi’an sendiri merupakan ibukota propinsi Shaanxi. Xi’an terletak di Huajue distrik, sekitar 120 km sebelah barat gunung Huashan, salah satu dari kelima gunung terkenal di negeri China. Masjid ini ditemukan oleh Laksamana Cheng Ho, penjelajah China yang merupakan penganut Islam.

Arsitektur

Masjid Raya Xi’an memiliki konstruksi dan gaya arsitektur yang berbeda. Masjid ini dibangun dengan denah menyerupai sebuah komplek kuil China dengan beberapa pavilion dengan keseluruhan komplek dikelilingi pagar tembok cukup tinggi dan dibagi bagi dalam empat bagian. Masing masing bagian dihubungkan dengan gerbang.

Sentuhan Arab terlihat pada ukiran kaligrafi di berbagai tempat di komplek masjid ini termasuk ukiran ayat ayat Alquran yang terpahat dengan indah di salah satu tembok dalam masjid ini. Masjid Raya ini berdiri diatar tanah memanjang berukuran 48 x 248 meter.

Masjid Agung Xi’an berdiri di area seluas 12.000 – 13.000 m2. Sedangkan bangunan utama masjidnya mempunyai luas lebih dari 6.000 m2. Areal masjid berbentuk empat persegi panjang, memanjang dari Timur ke Barat dan terbagi menjadi empat area.

Area pertama berupa gerbang kayu setinggi 9 m yang dibuat pada abad ke-17. Gerbang ini berhadapan dengan tembok yang sangat lebar dengan dekorasi ukiran tanah liat serta dihiasi atap dari tumpukan genting mengilap. Pada dua sisinya dihiasi perabot antik yang sangat berharga buatan jaman dinasti Ming dan Qing.

Area yang kedua terdiri dari tiga pintu batu yang saling berhubungan berpilar empat. Para pengunjung umumnya dipersilakan melewati area ini. Saat memasukinya, para pengunjung disambut dengan tulisan yang terdapat pada puncak pintu pertama, yang dapat diartikan sebagai “The Court of The Heaven” atau Taman Surga.

Pintu tersebut dikelilingi tembok batu yang berukir indah dengan dua lintasan di dua sisinya yang merupa-kan peninggalan zaman dinasti Ming. Di belakangnya berdiri dua meja batu berukir naga. Keduanya sekaligus menjadi prasasti yang menjelaskan bahwa perbaikan masjid dilakukan pada tahun 1384 dan terjadi atas pe-rintah kaisar di jaman dinasti Ming dan Qing.

Pada area ketiga terdapat ruang kekaisaran yang merupakan bangunan tertua di kompleks ini, terdapat batu dengan tulisan huruf Arab tulisan seorang Imam yang menjelaskan mengenai perhitungan hari berdasarkan peredaran bulan. Di tengah-tengah halaman berdiri menara menyerupai pagoda dengan tiga susun atap berwarna biru toska

Menara ini dinamakan “Introspection Minaret”, atau menara introspeksi, tempat para muazin mengumandangkan adzan. Sedangkan di sebelah selatan ruang tersebut ada ruang penerima tamu, tempat diletakkan Alquran tulisan tangan yang dibuat pada zaman dinasti Ming beserta sebuah peta tanah suci Mekah yang berasal dari dinasti Qing.

Area keempat yang juga merupakan area terbesar adalah bangunan untuk ruang shalat. Jama’ah yang dapat ditampung di area ini mencapai 1.000 orang. Ruang ini dilindungi tiga tingkat atap berwarna biru tosca, berhiaskan ukiran berpola rumput dan bunga-bungaan. Keindahan yang sekaligus mencekam tampak dari dinding ruangan yang terbuat dari kayu berpahatkan ayat-ayat Alquran lengkap dengan huruf Cina maupun Arab.

Kegiatan dan Aktivitas

Hingga kini, Masjid Raya Xi’an masih difungsikan sebagai tempat ibadah kaum muslim dari suku Hui. Saat ini diperkirakan jumlah kaum muslim kota Xi’an dan sekitarnya mencapai 60.000 orang. Pada tahun 1998 yang lalu menetapkan bangunan Masjid Agung Xi’an sebagai bagian dari UNESCO Islamic Heritage.

Di sekeliling masjid Raya Xi’an terdapat bayak warga muslim yang membuka restoran, rumah makan, warung jajanan, hingga jualan souvenir. Masjid Raya Xi’an masih digunakan untuk sholat wajib. Bagi wisatawan diperbolehkan masuk hingga pelataran depan masjid. Bagi yang muslim, diperbolehkan masuk ke masjid untuk menunaikan sholat 5 waktu.

Para pengunjung non muslim diperbolehkan melihat masjid namun tidak bisa masuk ke ruang doa. Biaya masuk ke masjid ini adalah CNY12 (sekitar Rp16 ribu). Great Mosque of Xian ini memang terbuka untuk wisatawan lokal maupun mancanegara. (njs/dbs)


Back to Top