Masjid-Masjid Nusantara (9)

Masjid Agung Palembang: Masjid Indah Perpaduan Tiga Budaya dan Saksi Sejarah Melawan Penjajah

gomuslim.co.id- Setiap Masjid besar selalu menyimpan sejarah besar. Seperti masjid tertua di tanah Nusantara yang satu ini. Namanya Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I. Masyarakat mengenalnya dengan Masjid Agung Palembang. Masjid terbesar di Kota Palembang, Sumatera Selatan ini menjadi saksi bisu perjuangan rakyat melawan penjajah.

Berlokasi di utara Istana Kesultanan Palembang dan di belakang Benteng Kuto Besak, masjid ini berdekatan dengan aliran sungai Musi di sebelah selatan. Secara administratif, berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.

Sejarah

Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan dan belum memiliki menara. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senin tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (tahun 1724 sampai 1758).

Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Pembangunan berlangsung selama 10 tahun dan resmi digunakan sebagai tempat peribadatan umat Islam.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (masa pemerintahan 1758–1774) menara masjid dibangun. Lokasi menara masjid terpisah dari bangunan utama, dan berada di bagian barat. Pola menara masjid berbentuk segi enam setinggi 20 meter. Rupa menara masjid menyerupai menara kelenteng. Bentuk atap menara melengkung pada bagian ujungnya, dan beratap genteng. Menara masjid memiliki teras berpagar yang mengelilingi bangunan menara

Pada tahun 1819 dan 1821 dilakukan pemugaran masjid akibat peperangan besar yang berlangsung selama lima hari berturut-turut. Perbaikan masjid dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Atap genteng menara masjid diganti atap sirap. Tinggi menara ditambahkan dengan adanya beranda melingkar.

Usia satu abad Masjid Sultan, yakni pada tahun 1848, dilakukan perluasan bangunan oleh pemerintah Hindia Belanda. Gaya tradisional Gerbang Utama masjid diubah menjadi Doric style. Pada tahun 1879, serambi Gerbang Utama masjid diperluas dengan tambahan tiang beton bulat. Rupa serambi Gerbang Utama menyerupai pendopo, namun bergaya kolonial.

Perluasan pertama Masjid Sultan dilaksanakan pada tahun 1897 oleh Pangeran Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin. Lahan yang dijadikan areal kawasan masjid merupakan wakaf dari Sayyid Umar bin Muhammad Assegaf Althoha dan Sayyid Achmad bin Syech Shahab. Kemudian nama Masjid Sultan diubah menjadi Masjid Agung.

Perbaikan dan perluasan masjid dilakukan kembali pada tahun 1893. Pada tahun 1916 bangunan menara masjid disempurnakan. Kemudian pada tahun 1930, dilakukan perubahan struktur pilar masjid. Yakni menambah jarak pilar dengan atap menjadi 4 meter.

Pada kurun tahun 1966 sampai 1969 dibangun lantai kedua. Luas masjid menjadi 5.520 meter persegi dengan daya tampung 7.750 jema’ah. Pada tanggal 22 Januari 1970 dimulai pembangunan menara baru yang disponsori oleh Pertamina. Menara baru ini setinggi 45 meter, mendampingi menara asli bergaya Cina. Renovasi Masjid Agung diresmikan pada tanggal 1 Februari 1971.

Sejak tahun 2000, Masjid Agung dilakukan renovasi kembali, dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 bertepatan dengan peresmiannya oleh Presiden RI Hj. Megawati Soekarno Putri. Masjid Agung Palembang yang megah dan berdiri kokoh kini mampu menampung 9000 jama’ah. Luas keseluruhan dari areal masjid kurang lebih 15.400 m2 dan diperkirakan rata-rata warga yang salat di masjid setiap merayakan Idul Fitri mencapai 15.000 jemaah.

Saksi Sejarah

Masjid Agung Palembang menyimpan kenangan tak terlupakan sepanjang masa. Ia menjadi saksi perjuangan rakyat Palembang pada pertempuran lima hari melawan Belanda di pusat kota. Peristiwa tersebut kemudian di abadikan dalam perangko Republik Indonesia tahun 1975. Sedangkan lokasi pertempuran tersebut kini dibangun Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Sumatera Selatan.

Masjid ini menjadi perlambang sebuah semangat perjuangan rakyat dalam mempertahanan hak hidup, hak menentukan nasib sendiri dan hak merdeka sebagai manusia seutuhnya. Seiring gema adzan yang mengalun di antara menara-menara besarnya, masjid ini tetap kokoh menjaga umat muslim dari sebuah ketertindasan.

Arsitektur

Masjid Sultan dirancang oleh seorang arsitek dari Eropa. Masjid ini dipengaruhi oleh 3 arsitektur yakni Indonesia, China dan Eropa. Bentuk arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk dan jendela di gedung baru masjid yang besar dan tinggi. Material bangunan seperti marmer dan kaca diimpor langsung dari Eropa. Sedangkan arsitektur China dilihat dari masjid utama yang atapnya seperti kelenteng.

Gaya khas arsitektur Nusantara adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga dengan puncaknya berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak masjid atau mustaka memiliki jenjang berukiran bunga tropis. Pada bagian ujung mustaka terdapat mustika berpola bunga merekah. Bentuk undakan bangunan masjid dipengaruhi bangunan dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak.

Ujung menara berbentuk kerucut seperti tumpeng. Tumpeng atau bentuk gunungan dalam kebudayaan nusantara mempunyai makna yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alamnya, dan manusia dengan sesama manusia.

Arsitektur Masjid Agung dan masjid tua lainnya di Palembang secara simbolik memiliki nilai filosofis yang tinggi. Undakan pelataran masjid dan tingkatan atap yang berjumlah tiga memberi makna perjalanan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hamka (1961) menafsirkan atap tumpang sebagai berikut: Tingkat pertama melambangkan Syariah serta amal perbuatan manusia. Tingkat kedua melambangkan Thariqat yaitu jalan untuk mencapai ridlo Allah SWT. Atap tingkat ke tiga melambangkan Hakikat, yaitu ruh atau hakekat amal perbuatan seseorang. Sedangkan Puncak (Mustoko) melambangkan Ma’rifat, yaitu tingkat mengenal Tuhan Yang Maha Tinggi.

Tempat Pusat Kajian Islam di Palembang

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat Kesultanan Palembang Darussalam menjadi pusat kajian Islam yang telah melahirkan sejumlah ulama besar. Syekh Abdus Shamad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah, adalah beberapa ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Agung.

Peran para ulama ini sangat besar dalam mengembangkan agama Islam di wilayah Kesultanan Palembang. Konsep pengajaran Islam diturunkan kedalam lingkup amal (praktik) dan ilmu (wacana), sehingga mudah diterima dan diamalkan oleh masyarakat muslim Palembang. Masjid Agung Palembang juga menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

Aktifitas

Masjid Agung Palembang mempunyai berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari hingga kegiatan bulanan dan tahunan. Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari di Masjid Agung Palembang adalah shalat rawatib lima waktu dan dakwah masjid, hal ini sejalan dengan tujuan utama pembangunan masjid, yaitu untuk mengingat Allah dan memperkenalkan Islam.

Sementara kegiatan rutin yang dilakukan setiap minggu adalah pengajian kitab Kuning yang dipimpin langsung oleh ulama-ulama Kota Palembang. Menariknya, tiap Ramadan tiba, masjid yang berlokasi di Jalan Jenderal Soedirman Palembang ini kerap mengadakan pembacaan Alquran satu juz satu malam yang dilaksanakan setelah salat tarawih selama satu bulan penuh.

Di dekat Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin terdapat beberapa tempat yang menjual aneka makanan khas Palembang seperti pempek, tekwan, model, martabak Har, dan lain-lain. Sedangkan untuk mencapai lokasi masjid ini, bisa memilih angkutan dengan jurusan Ampera.

Fasilitas

Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini juga dilengkapi dengan perpustakaan, kantor pengurus Masjid, Kantor Yayasan Masjid Agung, kantor Ikatan Remaja Masjid. Halamannya yang luas kini di tata menjadi sebuah taman lengkap dengan kolam air mancur.

Di Masjid ini, Alquran Al Akbar pernah disimpan dan dipamerkan kepada para pengunjung. Selama berada di Masjid Agung Palembang, Alquran Al Akbar sengaja dipamerkan selama 3 tahun agar mendapatkan koreksi dari seluruh umat. Setelah dinyatakan layak untuk dipublikasikan, pada tanggal 30 Januari 2012 Al Qur’an Al Akbar diresmikan oleh Presiden RI Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono bersama dengan delegasi OKI (Organisasi Konferensi Islam).

Sejak tangal 13 Februari 2008, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dilengkapi dengan fasilitas Hotspot internet gratis bagi para jamaah masjid ini. Fasilitas tersebut merupakan persembahan dari PT. Telkom Kandatel Sumatera Bagian Selatan. Hotspot tersebut dapat diakses oleh 50 pengguna secara bersamaan. (njs/dbs)

 


Back to Top