Masjid-Masjid Nusantara (10)

Masjid Agung Batam, Masjid Limas Potret Budaya Melayu yang Khas

gomuslim.co.id- Setiap kota di Indonesia mempunyai Masjid besar yang jadi kebanggaan masyarakat. Seperti di kota Batam, Kepulauan Riau ini. Di kota ini, ada sebuah masjid besar, unik  dan luas. Bentuk limas di bagian atapnya seolah menggambarkan budaya melayu yang begitu khas. Namanya Masjid Agung Batam atau masyarakat mengenalnya dengan Masjid Raya Batam (MRB).

Berlokasi di Jalan Engku Putri, Batam Center, Kota Batam, masjid ini berhadap-hadapan dengan kantor Badan Otorita Pengemabngan Pulau Batam atau BIDA (Batam Industrial Development Authority). Letaknya cukup strategis karena bersebelahan langsung dengan alun-alun dan berjarak sekitar 20 menit dari Bandara Hang Nadim. Selain menjadi pusat ibadah, masjid ini juga rutin menjadi tujuan wisata para turis karena bentuknya yang tidak biasa.


Sejarah

Ide pembangunan masjid ini berawal dari obrolan masyarakat sekitar pada tahun 1991. Lebih tepatnya ketika para pegawai Badan Pengusahaan (BP) Batam (dulu Otorita Batam/OB) kesulitan untuk melaksakan shalat Jumat. Hal ini karena tempat lobi di lantai dua di gedung OB yang tidak cukup menampung jamaah.

Obrolan tentang pembuatan masjid pun terjadi setelah selesai shalat Jumat. Bahkan, obrolan ini pun terjadi di kalangan pejabat tinggi yang kala itu dipimpin oleh BJ Habibie. Beliau menyetujui pembangunan sebuah masjid besar. Akhirnya, rencana-rencana dibuat termasuk penentuan titik lokasi dan penerbitan pengumuman lelang.

Lokasi awalnya di depan Pos Polisi yang ada di Engku Puteri. Sebelah timur itu Gedung Wali Kota, sebelah barat Masjid Raya dan menjadi segitiga dengan kantor BP. Namun, ternyata, lahan di sana tak cukup besar. Si arsitek Ir Achmad Noe’man membutuhkan tanah yang lebih lebar. Maka lokasi itu pun bergeser sedikit menjauh dari Kantor BP Batam. Lokasi itulah yang kini didiami Masjid Raya Batam.

Ir Achmad Noe’man memang terkenal sebagai seorang arsitek masjid. Ia dijuluki ‘Arsitek Seribu Masjid’ dan ‘Maestro Arsitektur Masjid Indonesia’. Arsitek kelahiran Garut 10 Oktober 1926 itu mengawali proses menggambarnya dengan salat Tahajud. Seusai salat tahajud, barulah ia menarik kertas dan pensil. Seperti sesuatu yang sakral, ia menggoreskan pensilnya penuh penghayatan.

Desain Achmad Noe'man disetujui pada tanggal 31 Agustus 1997. Namun, masjid mulai dibangun pada tahun 1999 dan rampung 2001. Ir Achmad Noe'man terkenal dengan karya karya monumentalnya dan unik termasuk diantaranya adalah Masjid Salman di ITB di Bandung, Masjid Baiturrahim di kawasan Istana Negara Jakarta, Masjid Al-Furqan di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (d/h IKIP) Bandung, Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makasar dan Masjid Istiklal Indonesia di Sarajevo, Bosnia Herzegovina.

Awalnya, nama masjid ini adalah Masjid Raya Batam. Namun pada Juli 2010 lalu, Kementerian Agama membuat peraturan tentang nama masjid. Peraturan tersebut mengatur nama sebuah masjid sesuai dengan wilayahnya. Jadi yang memiliki nama masjid raya adalah untuk sebuah masjid yang ada di wilayah provinsi, sedangkan untuk wilayah kota sebuah mesjid menggunakan nama agung.

Arsitektur

Masjid Raya Batam Centre terletak di Batam Centre. Mesjid ini mempunyai keunikan tersendiri, dimana di dalam masjid tidak ada tiang penyanggah sehingga ruangan di dalam masjid tampak luas. Mesjid ini bercorak arsitektur khas melayu, atapnya berbentuk limas seperti piramida atau tumpang bertingkat yang terbuat dari kayu pilihan berwarna kecoklatan dan dilengkapi dengan menara setinggi 66 m.

Bentuk limas sama sisi (teriris tiga bagian) dipilih dengan pertimbangan bahwa bentuk atap yang cocok untuk denah bangunan bujur sangkar, mempunyai persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhan (habluminallah). Sedangkan Irisan tiga bagian merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Selain itu, alasan lainnya adalah, secara matematis, bentuk bujur sangkar dianggap lebih kuat, sehingga mampu menopang bagian bangunan lainnya. Kekokohan badan bangunan yang berbentuk bujur sangkar itu juga merupakan simbol keimanan umat Islam yang kuat.

Ruang shalat berupa pelataran halaman utama masjid yang karena pertimbangan topografis dan arsitektural letaknya lebih tinggi dari jalan masuk. Plaza salat dibuat sebagai perluasan ruang masjid manakala jamaah melebihi kapasitas atau pada saat salat Idul Fitri dan Idul Adha yang biasanya diselenggarakan di lapangan terbuka.

Agar penyelenggaraan salat sesuai dengan tuntunan agama, dibuatlah garis-garis shaf yang akan mengarahkan jamaah salat dengan berbaris lurus menghadap kiblat. Lebar shaf ditentukan 120 cm. Plaza ini terdiri dari dua tingkatan yaitu plaza bawah dan plaza atas. Hal ini untuk memberikan kesempatan pada pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum naik lagi menuju masjid.

Di ruang sholat bawah terdapat kolam air mancur yang bisa juga dipakai sebagai tempat berwudhu. Selain kolam air mancur dan tangga-tangga adalah bak-bak tanaman batu kali, lampu-lampu taman dan deretan pohon-pohon palem raja. Keseluruhan elemen diharapkan membuat suasana ruang salat lebih nyaman, lebih indah dan berwibawa sebagai suatu plaza salat masjid raya.

Ruang shalat ditutup klinker terakota yang berwarna merah bata. Garis-garis shaf memakai bahan paving blocks yang dipola dengan warna kelabu sehingga terlihat kontras dengan merah batanya klinker terakota

Adanya selasar tertutup yaitu selasar yang beratap sebagai pembatas plaza salat dan penanda zona transisi atau semi suci sebelum masuk ke zona suci atau ruang utama masjid. Selasar tertutup ini dirancang sedemikian rupa dan merupakan elemen arsitektur yang cukup berarti dilihat dari segi fungsi maupun arsitektural masjid. Dipilih bahan beton bertulang untuk kolom maupun atap.

Agar tidak berkesan statis, terdapat permainan irama atap yaitu atap pelat beton diselingi atap limas dari bahan transparan dengan struktur pipa besi hitam. Bahan penutup lantainya adalah keramik

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini menjadi pesona daya tarik pariwisata. Luas lahan masjid ini adalah 75.000 m2 dengan daya tampung di dalam Masjid 3.500 orang dan kapasitas di luar Masjid 15.000 orang. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Batam.

Fasilitas dan Kegiatan

Tujuan dibangunnya masjid ini adalah untuk menyediakan sarana peribadatan yang representatif, yang dapat menampung kegiatan umat Islam dalam hal keagamaan, pendidikan, kegiatan sosial, kegiatan kebudayaan, dan pariwisata. Selain sebagai simbol kejayaan umat Islam di Pulau Batam, masjid ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional.

Masjid Raya Batam meraih penghargaan Masjid Award dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) tahun 2009. Di kompleks Masjid, tersedia fasilitas-fasilitas yang cukup lengkap, seperti area parkir yang luas (dapat menampung semua jenis kendaraan: bus, mobil, sepeda motor, dan sepeda), kantor informasi, kamar mandi, klinik kesehatan, pusat pendidikan Alquran, dan perpustakaan.

Masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas bagi penyandang cacat, berupa lintasan khusus untuk kursi roda menuju ruang utama masjid dan tempat wudhu. Ramp utama yaitu menuju ruang salat utama memakai bahan beton bertulang. Kemiringan ramp yang direncanakan adalah 1:15 atau ± 6,9%. Selain itu, masjid ini juga menyediakan toilet khusus untuk penyandang cacat yang dibedakan antara pria dan wanita.

Di sekitar masjid ini juga terdapat fasilitas dan sarana akomodasi seperti hotel, restoran, rumah sakit, ATM, pusat perbelanjaan, Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Wartel dan Warnet, bengkel mobil dan sepeda motor, dan lain-lain. (njs/dbs)

 


Back to Top