Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (5)

Ibnu Batutah, Penjelajah Muslim dengan Petualangan Hebat Sepanjang Masa

gomuslim.co.id- Jika kita sering mendengar nama Columbus, Marcopolo atau James Cook yang tersohor sebagai penjelajah dunia, maka Islam pun mempunyai tokoh yang tidak kalah hebat dari ketiganya. Dia adalah Sang Pengembara Islam yang sangat menginspirasi sekaligus penjelajah yang tak tertandingi pada abad pertengahan. Namanya Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim at-Tanji dan bergelar Syamsudin bin Batutah atau lebih dikenal sebagai Ibnu Batutah.

Ia adalah seorang pengembara (jawwalah) dari bangsa Arab yang terkenal karena hasil pengamatan dan penulisan atas perjalanan (rihlah) yang dilakukannya ke berbagai penjuru dunia selama hampir tiga dasawarsa. Lahir di kota Tangier (Thanjah), Maroko pada 25 Februari 1304 M, Ibnu Batutah telah menghabiskan setengah hidupnya menjelajahi dunia yang meliputi seluruh dunia Islam.

Ibnu Batutah telah menempuh lebih dari seratus tujuh puluh lima mil atau 120.000 kilometer, sekitar 44 negara modern. Penjelajahannya untuk pertama kali diawali dengan menunaikan ibadah haji. Saat itu, ia masih sangat muda dan berusia 21 tahun. Hobinya mengunjungi negara di dunia tiada lain untuk saling mengenal manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya.

Pengembaraannya meliputi kota-kota besar di Afrika Utara, Iskandariyah, Dimyath, Kairo, Aswan di Mesir, Palestina, Syam, Mekah, Madinah, Najaf, Basrah, Syiraz di Iran. Moshul, Diyarbakr, Kufah, Bagdad, Jeddah, Yaman, Oman, Hormuz, dan Bahrain.

Kemudian berlanjut ke Asia kecil, anak benua Kaaram, Rusia Selatan, Bulgaria, Polandia, Istirkhan, Konstantinopel, Sarayevo, Bukhara, Afghanistan, Delhi, India (tempat dia menjadi hakim di sana selama lima tahun), Maladewa, Cina, Ceylon, Bengali, Indonesia, kemudian Irak, Iran dan kembali lagi ke Afrika, Mali, kemudian Fez, di mana ia menghabiskan tahun-tahun terakhir kehidupannya di sana di bawah kekuasaan Sultan Abu Inan.

Anehnya, Ibnu Bathuthah tidak meninggalkan karya sastra apa pun bahkan tidak menulis catatan perjalanannya secara teratur. Dia hanya menceritakan kisah perjalanannya kepada orang lain, berupa peristiwa-peristiwa tertentu, dan informasi-informasi yang sepenggal-sepenggal.

Sultan Abu Inan justru orang yang memiliki inisiatif penerbitan buku kisah perjalanan Ibnu Bathuthah. Atas permintaan sultan tersebut, Ibnu Bathuthah mendiktekan cerita perjalanannya kepada juru tulis sultan, Ibnu Jauzi, seorang teolog Andalusia. Catatannya penuh hal-hal yang menakjubkan dan menyentuh. Ceritanya yang berjudul “Tuhfat al-Nazzar fi Ghara’ib al-Amsar wa al-Aja’in al-Asfar” (Hadiah buat Para Pengamat yang Meneliti Keajaiban-Keajaiban Kota dan Kanehan-Keanehan Perjalanan), selanjutnya dikenal umum dengan Rihlah Ibnu Bathutah atau Rihla.

Ibnu Jauzi kemudian menuangkannya dalam tulisan dan memperbaiki bahasa Ibnu Bathutah, dan akhirnya menyusunnnya menjadi sebuah buku perjalanan yang lengkap dari segala seginya, dengan mempertahankan urutan waktu pengembaraan, dan menyambungkan antara satu kisah dengan kisah lain.

Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut.

Perjalanannya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang umum digunakan menuju Mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh. Pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.

Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut, Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya, dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.

Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran).

Dengan cara bergabung pada suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi  Najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad (Baghdad belum lama diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).

Di negara tersebut, ia bertemu Abu Sa’id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting. Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia. Akan tetapi, sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.

Menghabiskan sekitar sepekan di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi. Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia.

Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam. Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Catatan Ibnu Batutah Tentang Nusantara

Dalam catatanya, Ibnu Batutah mengatakan bahwa Sumatera sebagai pulau Jawa yang menghijau. Karena saat itu yang terkenal di kalangan saudagar dunia adalah menyan jawi. Namun yang dimaksud Batutah adalah Sumatera. Pulau di mana Pasai berada.

Ketika mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai, ia terkagum dengan keindahan kota itu. Informasi tentang pulau Sumatera ini tentunya sangat penting bagi sejarawan guna memahami perkembangan kerajaan tersebut.

Ibnu Batutah sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India. Ia menulis pulau Sumatera sebagai Pulau hijau dan subur. Tanaman yang banyak tumbuh di Pasai adalah pohon kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu. Batutah juga menulis tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia hanya tumbuh di daerah ini.

Saat sampai di pelabuhan, masyarakat setempat menyambut Batutah dan rombongan dengan ramah. Rakyat di sana datang dengan membawa kelapa pisang, mangga, dan ikan, untuk ditukarkan dengan barang lain yang dibawa pedagang yang singgah.

Menurut Batutah, perwakilan dari panglima kesultanan juga mendatangi rombongannya. Pejabat itu menanyakan maksud kedatangan mereka. Setelah itu, rombongan Ibnu Batutah diizinkan mendarat di pantai. Menurut catatan Batutah, perkampungan itu berjarak sekitar empat mil dari kota raja.

Batutah juga mencatat bahwa Sultan Pasai, al-Malik az-Zahir, sangat ramah. Rombongan itu diterima dengan tangan terbuka. Bahkan, sang sultan meminjamkan salah satu kudanya –dan kuda lainnya– untuk rombongan Batutah yang singgah itu.

Batutah juga terkesan dengan keyakinan Sultan al-Malik az-Zahir. Selain terbuka, Sultan juga pecinta teologi. Sultan merupakan penganut Islam yang taat dan memerangi segala perompakan. Sultan juga memberikan perlindungan kepada kaum non-muslim yang membayar ajak kepada kesultanan. Selain tegas, Sultan al-Malik juga digambarkan sebagai orang yang rendah hati, yang berjalan kaki saat menuju tempat salat Jumat.

Saat menuju istana, Batutah melihat sejumlah tombak tertancap di kanan-kiri jalan, di dekat gerbang. Itu tandanya, siapapun tak boleh lewat. Siapa saja yang menunggang kuda juga harus turun. Sehingga Batutah dan rombongannya harus turun dari kuda mereka.

Batutah berada di Pasai selama 15 hari. Tibalah saatnya mereka berpamitan. Rombongan ini tak bisa meneruskan perjalanan ke China karena kondisi cuaca yang buruk. Batutah dan rombongan pun berpamitan kepada Sultan.

Setelah kunjungannya di Aceh, ia meneruskan perjalanan ke Kanton lewat jalur Malaysia dan Kamboja. Setibanya di Cina, Ibnu Batutah terus berpetualang ke Peking. Lalu ia menuju Calicut dan meneruskan perjalanannya ke Iran, Irak, Suriah, Mesir, kemudian menunaikan haji di Mekah. Setelah ibadah hajinya yang terakhir, Ibnu Batutah kembali ke kampung halamannya. Pada tahun 1369, di usia 65 tahun, Ibnu Batutah meninggal dunia, setelah 12 tahun menyelesaikan tulisannya, Rihlah. (njs) 

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama


Back to Top