Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (7)

Al Farabi, Filsuf Muslim yang Handal Mainkan Musik

gomuslim.co.id- Sosok hebat yang satu ini adalah seorang Filsuf Islam ternama sekaligus maestro musik yang handal. Namanya Abu Nashr Muhammad bin Muahammad bin Tharkhan bin Uzlag Al Farabi atau lebih dikenal dengan Al Farabi. Pada abad pertengahan, publik mengenalnya dengan Alfarabius atau Avennasar.

Dia mendapat julukan Al Mua’allim At Tsani atau Second Teacher (Guru Kedua) karena kepiawaiannya yang disebut-sebut melebihi Aristoteles yang bergelar Guru Pertama. Dia adalah guru bagi manusia yang karya-karyanya sangat berpengaruh bagi dunia Barat.

Lahir di Farab, Utrar, Provinsi Transoxiana, Turkestan pada tahun 259 H (872 M). Dia kelahiran bangsa Turki tetapi mempunyai hubungan darah dengan bangsa Persia. Ayahnya adalah seorang jendral dan seorang Iran yang menikah dengan wanita Turkistan dan kadang-kadang disebut keturunan Iran.

Sejak kecil, Al Farabi dikenal sebagai anak yang rajin dan cerdas. Pendidikan dasarnya dimulai dengan mempelajari berbagai macam ilmu agama serta beberapa bahasa seperti bahasa Arab, Turki, Persia bahkan bahasa Harran. Ia juga terbiasa berpindah tempat dari waktu ke waktu. Saat beranjak dewasa, Al Farabi pindah ke Baghdad dan menetap disana selama dua puluh tahun.

Kota Baghdad merupakan pusat ilmu pengetahuan dan peradaban saat itu. Dia berkenalan dengan para filsuf dan ilmuwan senior seperti Al Kindi dan Ar Razi. Ia pun belajar ilmu-ilmu umum seperti filsafat, logika, matematika, ilmu politik, dan musik. Saat di Harran, Al Farabi mengkhususkan diri untuk belajar filsafat Yunani.

Al Farabi merupakan orang yang pertama kali memasukan ilmu logika ke dalam kebudayaan Arab. Pemikirannya yang terkenal tentang filsafat emansipasi ketuhanan. Ada juga pendapatnya tentang filsafat kenabian. Menurut Al Farabi, kenabian adalah sesuatu yang diperoleh oleh para nabi dan Rasul tanpa melalui upaya diri mereka. Sebab, jiwa para nabi dan rasul memang telah siap menerima ajaran-ajaran Tuhan. Keadaan ini tentunya berlainan dengan manusia biasa.

Filsafat kenegaraan juga tidak luput dari perhatian Al Farabi. Sebagaimana tertuang dalam bukunya Al Madinah Al Fadhilah (Kota Utama), ia membagi kota dalam sebuah Negara terdiri atas empat macam. Kota-kota tersebut mencakup kota utama, kota bodoh, kota durhaka, dan kota sesat. Disebut kota utama apabila penduduk di dalamnya hidup dalam kebenaran. Dengan begitu, mereka dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Al Farabi mempelajari filsafat Aristoteles dan logika di bawah bimbingan filsuf terkenal, Abu Bishr Matta ibn Yunus. Komponen filsafat Platonik dan Aristotelian, ia padukan dengan ajaran dari  Alquran dan Hadits. Selain musik dan filsafat, Al Farabi juga mempelajari aritmatika, fisika, kimia, medis, dan astronomi. 

Al Farabi berada di Baghdad lebih dari 40 tahun (901-942). Di kota ini ia belajar dan berkarya dalam bidang filsafat. Ia menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani. Bahkan al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam pertama yang memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Islam. 

Selain dikenal dalam kajian filsafat, Al Farabi juga seorang pengamat musik sekaligus berbakat memainkannya. Ia telah menulis buku tentang buku musik dengan judul Kitab Musik Al Kabir (Buku Besar tentang Musik). Temuan not musik ia paparkan dalam buku ini. Buku yang membahas ilmu dasar musik ini juga telah menjadi rujukan penting bagi perkembangan musik klasik Barat.

Dalam karya fenomenal itu, al-Farabi menulis bahwa musik dapat menciptakan perasaan tenang dan nyaman. Musik, juga mampu mempengaruhi moral, mengendalikan emosi, mengembangkan spiritualitas, dan menyembuhkan penyakit seperti gangguan psikosomatik. Karena itu bagi Al Farabi, musik bisa menjadi alat terapi. Sebab, musik adalah sesuatu yang muncul dari tabiat manusia dalam menangkap suara indah yang ada di sekelilingnya.

Al Farabi juga piawai memainkan sejumlah alat musik. Ketika memainkan alat musik, ia mampu membuat pendengarnya tertawa, bersedih, bahkan tertidur. Kemampuan ini pernah ia tunjukkan di depan penguasa Syria, Safy ad-Daulah, saat ia diundang ke istana untuk menyaksikan pertunjukkan musik yang dimainkan oleh para musisi istana.

Di mata Al Farabi, para musisi istana itu telah melakukan kesalahan sehingga alunan musik kurang terdengar indah. Al Farabi lalu meminta izin kepada amir (penguasa) Syria untuk memainkan alat musik. Saat Al Farabi memainkannya, semua yang hadir tiba-tiba tertawa. Lalu Al Farabi segera mengubah komposisi musiknya sehingga membuat hadirin menangis. Ia kemudian mengubah komposisinya lagi sehingga membuat hadirin tertidur.

Kepribadian

Al Farabi adalah seorang yang zuhud dan berpenampilan sederhana. Meskipun Al Farabi tinggal di Istana, ia memilih memakai pakaian sekadarnya dan makan dengan hidangan yang umum disantap oleh rakyat biasa. Bahkan, sebagian besar waktunya pun lebih banyak ia gunakan untuk mengkaji ilmu dan mengajarkan kepada murid-muridnya.

Ia juga dikenal gigih dalam mengajak orang lain untuk menuntut ilmu, mengadakan eksperimen, dan menjunjung tinggi akal. Sebaliknya ia menghimbau agar khurafat dan sebagainya dimusnahkan.

Karya-Karyanya

Al Farabi adalah seorang penulis yang produktif. Banyak buku yang ia tulis, namun  sebagian besar telah hilang dan tidak bisa ditemukan sampai sekarang. Di antara karya-karya tulis Al Farabi adalah sebagai berikut, Al Musiqi Al Kabir (buku ini memaparkan prinsip dasar musik, teori dan praktiknya), Ihsha’u Al Iqa, Kalam Fi Al Musiqi, Ihsha’u Al Ulum Wa At Ta’rif Bi Aghradhiha (Statistik Ilmu dan Intisari Buku Metafisika), Ara’ Ahlu Al Madinah Al Fadhilah, Jawami As-Siyasah, dan Nushus Al Hukmi.

Al-Farabi wafat di Damaskus pada tahun 339 H / 950 M. Jasadnya dimakamkan di Bab as-Saghir, berdekatan dengan makam Mu’awiyah, pendiri dinasti Ummayyah. Meski sudah tiada, karya-karyanya tetap abadi dan bermanfaat bagi sejarah peradaban manusia. (njs)

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama 


Back to Top