Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (16)

Al Jahiz, Ahli Biologi Pencetus Konsep Evolusi dan Pengeksplorasi Ilmu-Ilmu Baru

gomuslim.co.id- Ilmuwan Muslim yang satu ini adalah seorang yang ahli di bidang biologi, zoologi dan kedokteran hewan. Ia juga dikenal sebagai salah satu penulis prosa dan sastra yang sangat terkenal dalam sejarah sastra Arab. Nama lengkapnya Abu Uthman Amir bin Bahr (Ibnu Mahbub) al-Fuqayun al-Basri al-Jahiz.

Ia memiliki banyak keistimewaan, sangat cerdas, berotak cemerlang, serta sangat baik dan fasih dalam mengucapkan lafadz Arab yang menjadi musykilah bagi sastra Arab di zamannya. Panggilan al-Jahiz sendiri artinya mata bundar seperti ikan karena memang ia memiliki sejenis cacar kornea mata terbelalak.

Al-Jahiz lahir di Basra, Irak sekitar tahun 159-160 H/ 776 M. Sebuah lingkungan keluarga mawali dari Banu Kinana, asa Abyssina (Ethiopia). Ia terlahir dari keluarga yang sederhana sehingga ia harus ikut berjualan ikan bersama ibunya di Kanal Basra. Masa kanak-kanaknya sebagian besar dituntaskan di tanah kelahiran, kendati kemudian hari ia lebih kerap bermukim di Baghdad dan Samarra.

Terobosan-terobosan pemikiran orisinilnya membuatnya merajai belantara kecendekiawanan di masa hidupnya di abad ke-8. Dalam kapasitasnya sebagai pakar biologi misalnya, ia berhasil menciptakan teori-teori embrionik sehingga ia dinilai sebagai salah seorang pencetus konsep evolusi organik dalam karya tulis setebal 350 halaman.

Meski hidup sederhana dan terbatas, al-Jahiz selalu bersemangat dalam belajar. Ia tumbuh menjadi seorang humoris dan penuh rasa ingin tahu. Sebagai Muslim, dia gemar melewatkan waktu di Masjid Besar Basra. Di sana, dia belajar dari para ulama, membahas beragam pertanyaan dan tak jarang berdebat.

Bahkan, dia pun tak sungkan untuk bertemu dan belajar dari penyair-penyair terkenal masa lalu, seperti Al- Asma'i, Abu Zayd, dan Abu Ubuyda. Hasilnya, kemampuan bahasanya meningkat pesat. Dalam waktu singkat, al-Jahiz mahir berbahasa Arab. Kemampuan itu mendukungnya belajar lebih banyak.

Haus akan ilmu pengetahuan, al-Jahiz berkelana ke berbagai daerah, seperti Damaskus, Beirut, Samara, dan Baghdad. Ia lalu memutuskan untuk menetap dan belajar. Ia hidup dari menulis. Diperkirakan, ia telah menulis 200 karya meski kini tersisa 30 saja.

Esai mengenai kekhalifahan yang ia tulis menjadi tiket emas masuk ke lingkungan kalangan atas. Esai itu juga menyita perhatian Khalifah Al-Ma'mun, khalifah ke-7 Dinasti Abbasiyah. Ia banyak berhubungan dengan tokoh politik terkemuka, termasuk menjadi orang kepercayaan Hakim Agung Ahmad bin Abi Du'ad.

Meski banyak membaca Ariestoteles dan banyak karya klasik Yunani Kuno, Al Jahiz punya gaya sendiri dalam menulis. Ia gemar menyematkan humor. Al Jahiz menganggap humor bukan hanya sebagai alat untuk menghibur, melainkan juga sarana untuk menyebarkan gagasan seluas mungkin.

Kitab Al Hayawan

Karya Al Jahiz yang paling berpengaruh adalah Kitab Al Hayawan (Kitab Hewan-hewan). Kitab itu ibarat sebuah ensiklopedia, memuat sekitar 350 spesies hewan yang terbagi dalam tujuh volume, serta dilengkapi dengan gambar-gambar dan penjelasan yang detail.

Kitab ini merupakan buku pertama yang mengungkap berbagai aspek biologi dan zoologi hewan, seperti klasifikasi binatang, rantai makanan, seleksi alam, dan evolusi. Al Jahiz setidaknya sudah menulis dengan jelas bagaimana hewan yang lebih besar bisa menakuti hewan yang lebih kecil ukurannya.

"Hyena bisa menakuti rubah atau binatang yang lebih kecil ukurannya. Semua hewan kecil akan memakan hewan yang lebih kecil darinya dan hewan yang lebih besar tidak bisa memakan yang lebih besar. Ini adalah hukum eksistensi," tulisnya dalam kitab tersebut. 

Karya itu bahkan mendeskripsikan mimikri, cara komunikasi, serta tingkat kecerdasan serangga, dan hewan lainnya. Al Jahiz menjelaskan dengan detail perilaku semut dalam bekerja sama, bagaimana mereka menyimpan gandum di sarang dan menjaga agar tak busuk saat hujan.

Al Hayawan memuat tiga hal penting dalam evolusi yang juga dituliskan oleh Charles Darwin dalam Thye Origin of Species. Menurut Al Jahiz, hewan-hewan berjuang untuk tetap bertahan hidup, bertransformasi menjadi spesies, dan mengatasi faktor-faktor lingkungan.

Al Jahiz percaya bahwa satu spesies bisa mengalami transformasi secara jangka panjang sehingga memunculkan spesies baru. "Orang berkata beragam tentang eksistensi hewan berkaki empat. Beberapa menerima perubahan dan melahirkan eksistensi anjing, serigala, rubah, dan kerabatnya. Keluarga itu berasal dari orang makhluk yang sama," demikian ditulisnya.

Kitab Al-Hayawan yang berpengaruh menjadi acuan bagi para pakar hewan dan pemikir evolusi di Eropa. Miguel Asín Palacios, seorang ilmuwan dan pendeta Katolik, mengatakan, karya Al Jahiz sangat berarti bagi perkembangan sains, terutama zoologi.

Selain kitab Al Hayawan, al-Jahiz juga menulis kitab al-Bukhala (Kitab Misers atau Keserakahan dan Ketamakan). Kumpulan cerita tentang serakah. Humoris dan menyindir, itu adalah contoh terbaik dari gaya prosa Al-Jahiz '.

Kitab ini mencerminkan penelitian mendalam dari seorang manusia psikolog. Jahiz menertawakan guru-guru sekolah, pengemis, penyanyi dan ahli-ahli Taurat untuk perilaku serakah mereka. Banyak cerita dari buku ini yang terus dicetak ulang dalam majalah di seluruh dunia yang berbahasa Arab. Buku ini dianggap sebagai salah satu karya terbaik Al Jahiz.

Lalu ada kitab al-Bayan wa al-Tabyin (Buku Kefasihan dan Penjelasan). Buku ini adalah salah satu karya terakhirnya, di mana ia mendekati berbagai mata pelajaran, seperti pengalaman luar biasa, pidato retoris, pemimpin sektarian, pangeran, serta memberikan perlakuan sinis dan gila dari orang bodoh.

Hal ini juga melahirkan sebuah buku di mana ia menyatukan keterampilan dan kefasihan bahasanya, seni keheningan dan seni puisi. Buku ini dianggap salah satu karya teori sastra dan kritik sastra bahasa Arab paling awal dalam.

Kemudian kitab al Jawari wal Moufakharat Ghilman (Kitab puji-pujian dari selir dan kasim), Mufakharat Risalat al-sudan 'ala al-bidan (Keunggulan Si Hitam dari Si Putih). Selain itu, ia juga menulis karya paling awal pada psikologi sosial dan psikologi hewan. Ia menulis sejumlah karya berurusan dengan organisasi sosial dari semut dan dengan binatang komunikasi dan psikologi.

Wafatnya Al Jahiz

Al-Jahiz kembali ke Basra setelah menghabiskan lebih dari lima puluh tahun di Baghdad. Menjelang akhir hidupnya, Al Jahiz menderita kelumpuhan total pada satu sisi tubuhnya (hemiplegia). Ia memutuskan pensiun dan kembali ke tempat kelahirannya, Basra. Pada bulan Desember 868 saat usianya 93 tahun, ia meninggal dunia. Diduga, ia meninggal dunia karena cedera akibat tertindih rak bukunya.

Al Jahiz memberi gambaran tentang kejayaan peradaban Islam pada abad ke-9 sampai abad ke-11. Saat itu, Baghdad dan sekitarnya menjadi jantung dunia. Masyarakat Muslim dikenal punya semangat belajar tinggi dan terbuka. Selain Al Jahiz, ilmuwan lain macam Ibn Sina juga berkontribusi besar. (njs)

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama 

-Gulf News, Muslim Heritage, Aramcoworls, Ankara University


Back to Top