Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (18)

Imam Al-Ghazali, Teolog dan Filsuf Muslim Peraih Gelar Hujjatul Islam

gomuslim.co.id- Tokoh yang satu ini merupakan seorang teolog, filsuf, dan sufi terbesar dalam Islam. Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Daya ingatnya yang kuat dan bijak berhujjah sampai akhirnya mendapat julukan Hujjatul Islam (Pembela Islam). Ia dikenal sebagai Algazel di dunia Barat pada abad Pertengahan.

Imam al-Ghazali lahir pada 450 H/1058 M di Kota Gazalah, dekat Tus, Khurazan, negeri Iran Utara. Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir.

Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.”

Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.

Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya.

Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Namun, ayahnya ini mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh.

Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum dia memulai pengembaraan, dia telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami.

Sejak kecil dia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara', zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.

Pendidikan

Saat di tingkat dasar, ia mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membuatnya menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih.

Imam al-Ghazali pertama kali mendalami ilmu fikih. Selanjutnya, ia pun mempelajari filsafat dan kalam. Setelah menjadi sarjana, al-Ghazali diangkat menjadi guru besar hukum di Madrasah Nizamiyah di Baghdad oleh Perdana Menteri Sultan Maliksyah (1072-1092 M) penguasa Dinasti Saljuk saat itu.

Selain mengajar di Madrasah, ia juga berhasil menulis sejumlah karya yang membuatnya semakin terkenal, yaitu Maqasid al-Falasifah (Maksud Para Filsuf) dan Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para Filsuf).

Dalam kedua karya tulis yang disebutkan diatas, al-Ghazali mengkritik pandangan para filsuf. Sebagaimana dijelaskan dalam bukut Tahafut al-Falasifah, ia mengatakan bahwa ada tiga pendapat para filsuf yang menurutnya menyebabkan kekafiran, yaitu ala mini adalah qadim sehingga tidak bermula. Kedua, Tuhan dianggap tidak mengetahui bagian-bagian terkecil dalam kejadian di alam ini. Ketiga, tidak ada kebangkitan dalam wujud jasmani pada hari kiamat kelak.

Dia adalah sosok seorang yang sangat penting dalam Islam, khususnya perannya dalam hal mengukuhkan ajaran keagamaan kepada umatnya. Jasa yang penting misalnya dalam hal mendamaikan antara ajaran tasawuf dan syariat sehingga dapat diterima oleh sebagian besar umat Islam. Demikian juga jasanya dalam mengembangkan serta menyebarkan aliran Asy’ariyah.

Pada tahun 1095 M, al-Ghazali memutuskan pergi meninggalkan Baghdad dan memilih hidup mengembara dari tempat satu ke tempat lain. Ia mulai pergi ke Damaskus, Hebron, dan Yerussalem. Dari sana kemudian menuju Makkah dan Madinah. Selama sepuluh tahun, al-Ghazali menjalani hidup zuhud hingga ia kembali ke Nizabur dan mengajar di Madrasah itu dan memilih pergi ke Tus. Di sana ia mendirikan halaqah dan menjadi pengasuhnya hingga meninggal dunia pada tahun 1111 M.

Karya-karyanya

Imam al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang mempunyai segudang karya. Baik ilmu tasawuf, filsafat maupun ilmu keislaman lainya. Beberapa karyanya seperti Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) karyanya yang paling terkenal. Lalu Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan), Misykah al-Anwar (The Niche of Lights).

Di bidang filsafat, ia juga telah membuat karya berjudul Tahafut al-Falasifah. Buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence). Selain itu, ada pula kitab Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul, Mi`yar al-Ilm, Al-Qistas al-Mustaqim, Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq dan masih banyak lagi.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya

Menjelang wafat, Imam al-Ghazali pernah berwasiat yang ia buat dalam sebuah tulisan. Isinya sebagai berikut:

Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati menangis untukku dan berduka bagiku. Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku. Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku. Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging. Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.

Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi. Dibentuk oleh debu yang menjadi singgasanaku. Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya. Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkarku. Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sebagai kenangan

Segala puji hanya bagi Allah yang telah membebaskan aku dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi. Hingga hari ini, aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu. Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan. Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas.

Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku. Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah. Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih. Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku. Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan.

Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal. Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi. Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan. Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini.

Di kehidupan ini, kita diberikan tidur. Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang. Janganlah takut ketika mati itu mendekat. Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini. Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu. Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.

Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi. Karena aku tahu kau dan aku adalah sama. Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya. Badan badan yang berasal sama. Baik atapun jahat, semua adalah milik kita. Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan. Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya. (njs)

 Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top