Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (19)

Ibnu Bajjah, Filsuf Muslim dari Andalusia yang Ahli Musik dan Ilmu Eksakta

gomuslim.co.id- Ilmuwan yang satu ini adalah seorang yang ahli filsafat, astronomi, eksakta, musi dan sastra dari Andalusia. Namanya Abu Bakr Muhammad ibn Yahya al-Sai’gh at-Tujibi as-Sarakusti. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Ibnu Bajjah atau Ibnu Saligh. Sementara di Barat dan Latin, ia dikenal sebagai Avemvace, Avenpacem juga Aben pace.

Namanya menjadi bermacam-macam disebabkan kekurang-telitian beberapa penulis dalam menyalinnya ke dalam bahasa Latin. Penyebab lain adalah sebagian Orientalis dalam melatinkan nama-nama, khususnya nama para ahli ilmu berbangsa Arab.

Ia berasal dari keluarga al-Tujib. Ia lahir di Saragossa Andalusia (Spanyol) pada tahun 1095 M atau abad ke-5 H. Ia wafat tahun 533 H / 1138 M. Tidak banyak yang diketahui bagaimana masa mudanya, dan siapa saja guru yang berjasa dalam membentuk sosok Ibnu Bajjah sehingga menjadi seorang filsuf handal. Tapi menurut berbagai sumber, ia merampungkan jenjang akademisnya di Saragosa, sebab ketika ia pergi ke Granada, ia telah menjadi seorang sarjana bahasa dan sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan.

Ibnu Bajjah terkenal sebagai salah seorang filsuf muslim Arab terbesar dari Spanyol. Para ahli sejarah memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan mampu dalam berbagai ilmu.

Bahkan Ibnu Khaldun menyejajarkan namanya dengan Ibnu Rusyd (Averous) di Barat, serta al-Farabi (Farabius) dan Ibnu Sina (Avicenna) di Timur. Namun demikian, menurut Ibnu Khaldun, ia tercatat sebagai salah seorang ahli eksakta, musikus, composer lagu-lagu pop dan penyair.

Ia adalah orang yang bersama dengan Ibnu Thufayl (Abubacer) melontarakan kritik-kritiknya terhadap pendapat-pendapat Ptolemaios. Dengan berdasarkan pada kosmologi Aristoteles, ia menetapkan suatu system yang didasarkan semata-mata hanya pada siklus eksentrik. Al-Biruni atau Alpetragius adalah salah seorang muridnya yang kemudian hari terkenal dengan teori gerak spiral nya.

Pada tahun 503 H/1110 M, ketika Saragosa jatuh ke tangan Almoravid, Ibnu Bajjah yang diperkirakan masih berumur 20 tahun menjabat sebagai wazir pada Gubernur Berber, Abu Bakr bin Ibrahim as-Sahrawi, yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Tifalwit. Sumber lain menyebutkan bahwa ia menjabat sebagai wazir pada kesultanan Furcia. Selama menjabat sebagai wazir, Ibnu Bajjah melaksanakan tugas misi kedutaan ke Imad ad-Dawla, penguasa Saragosa sebelum Ibnu Tifalwit yang tetap mempertahankan kemerdekaannya di Ruta (Rueda de Talon).

Ibnu Bajjah pernah dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa bulan karena dituduh sebagai pengkhianat. Pada saat pembebasannya, ia tidak kembali lagi ke Saragosa melainkan ke Valencia. Waktu itu mendengaar kabar Ibnu Tifalwit telah meninggal pada tahun 510 H/1117 M. tak lama kemudian orang-orang Kristen menyerbu dan berhasil menaklukan Saragosa. Kejadian ini terjadi pada bulan Ramadhan 512 H/Desember 1118 M.

Setelah itu Ibnu Bajjah pun bersiap-siap kembali ke Spanyol Barat (Seville). Tapi ketika melewati Shatiba Shativa, menurut Ibnu Khaqanm ia dijebloskan lagi ke penjara oleh Almoravid Ibrahim bin Yusuf bin Tashutin. Setelah bebas, atas banttuan kakek Ibnu Rusyd, ia diperkirakan kembali ke Seville.

Tetapi sumber lain menyebutkan ketika penaklukan terjadi Ibnu Bajjah ke Seville lebuh dahulu, lalu Jativa. Di sini ia betobat kembali ke Islam yang sebenar-benarnya. Dari kota ini ia kembali ke Fez dan meninggal di sana pada bulan Ramadhan 533 H/Mei 1139 M. konon disebabkan ia memakan buah-buahan beracun yang diberikan oleh pelayan Abu al-Ala bin Zuhr, ayah dari Ibnu Zuhr (Avenzoar) yang terkenal itu.

Ibnu Bajjah juga pernah ke Granada dan Wahran (Oran) dan berada di Seville pada tahunn 530 H/1135 M bersama seorang rekannya, Abu al-Hasan Ali bin Abdul Aziz bin al-Imam.

Ibnu Abi Ushaybi’ah, seorang ahli sejarah muslim, banyak mencatat karya-karya ilmiah Ibnu Bajjah yang sebagian sampai sekarang masih tersimpan dan terpelihara dengan baik. Dan ia, menurut sebagian pengamat, banyak terpengaruh oleh pikiran-pikiran al-Farabi. Sedang pemikirannya sendiri di kemudian hari berpengaruh besar terhadap tokoh Ibnu Rusyd. Catatan lengkap tentang hidup dan kehidupannya, masih dapat dijumpai dalam buku Ibnu Khallikan, Biographical Dictionary jilid III terbitan 1842 M. begitu pula dalam biografi karangan Ibnu Abi Ushaybi’ah yang diterjemahkan dalam bahasa Prancis oleh De Gayangs.

Karya-karyanya

Kontribusi Ibnu Bajjah pada filsafat, tulis Ibnu al-Imam sungguh sangat mencengangan. Kontribusi itu mencakup sebuah parafrase tentang fisika Aristoteles (Paraphase of Aristotle Physics), pokok-pokok pikirian al-Farabi dalam logika, makalah politik berjudul The Conduct of The Solitary (Arab: Tadbir al-Muthawahhid), dan Epistle on The Conjuction.

Beberapa karya Ibnu Bajjah adalah Filsafat al-Wada’, berisi tentang ilmu pengobatan. Tardiyyan, berisi tentang syair pujian. Kitab an-Nafs, berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab. Tadbir al-Mutawahhid, rezim satu orang. Risalah-risalah Ibnu Bajjah yang berisi tentang penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.

Meskipun singkat dan sering kurang tuntas, semua tulisan Ibnu Bajjah tersebut menyajikan wawasan filosofis yang membuat disanjung di satu kawasan, namun dicaci di kawasan lain. Sejak semula Ibnu Bajjah memang menempatkan dirinya di tengah-tengah arus utama tradisi Neoplatonik Peripatetik yang mula-mula diperkenalkan ke alam pikiran Islam oleh al-Farabi. Hal ini tampak bahwa Ibnu Bajjah mempunyai perhatian yang besar terhadap isu-isu etika dan politik, sebagaimana al-Farabi. Tidak seperti Ibnu Sina yang cenderung mengesampingkan kedua hal tersebut.

Karya tulisnya relatif sedikit yang terdiri dari beberapa risalah tentang logika, risalah tentang jiwa, risalah tentang ittishal (hubungan akal manusia dengan Akal aktif), risalah al-Wada yang berisi uraian tentang Penggerak Pertama dan tujuan sebenarnya bagi wujud manusia dan alam, serta beberapa risalah tentang astronomi dan kedokteran, risalah Tadbir al-Mutawahhid, dan beberapa risalah yang berisi ulasan terhadap sejumlah buku-buku filosof Yunani.  

Ajaran Filsafat Ibnu Bajjah

Manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan akal fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuasaan insaniah, bila ia telah bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Masyarakat bisa melumpuhkan daya kemampuan berpikir perseorangan dan menghalanginya untuk mencapai kesempurnaan.

Pengetahuan yang didapatkan lewat akal, akan membangun kepribadian seseorang. Akal mendapatkan obyek-obyek pengetahuan yang disebut hal-hal yang dapat diserap dari unsur imajinatif, dan memberikan sejumlah obyek pengetahuan lain kepada unsur imajinatif. Hal yang paling mencengangkan pada unsur imajinatif adalah keterhubungan dengan wahyu dan ramalan.

Ibnu Bajjah juga menandaskan bahwa Tuhan memanifestasikan pengetahuan dan perbuatan kepada makhluk-makhlukNya. Metode yang diajukan Ibnu Bajjah adalah perpaduan perasaan dan akal. Dalam masalah pengetahuan fakta, ia mempergunakan metode rasional-empiris, tetapi mengenai kebenaran akan keberadaan Tuhan ia mempergunakan filsafat. Kebenaran itu sendiri dapat diperoleh manusia apabila manusia menyendiri (uzlah).

Menurut Ibnu Bajjah akal memiliki dua fungsi yaitu memberikan imaji obyek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan memiliki obyek yang dibuat di luar ruh dengan menggerakkan organ-organ tubuh. (njs)

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top