Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (20)

Zakariyya Ar-Razi, Dokter Muslim Penemu Obat Penyakit Cacar dan Darah Tinggi

gomuslim.co.id- Umat Islam patut berbangga karena punya banyak panutan dari ilmuwan-ilmuwan muslim masa lampau yang punya karya besar sepanjang sejarah. Di bidang ilmu kedokteran misalnya, kita mengenal sosok Ibu Sina (Avisena), Ibnu Rusydi (Averoes), Ibnu Thufail dan masih banyak lagi. Ada lagi nama ilmuwan muslim yang cukup tersohor di bidang medis. Dia adalah Zakariyya ar-Razi atau ar-Razi.

Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakariyya ar-Razi, di dunia Barat ia cukup dikenal dengan nama Razhes. Ia merupakan ilmuwan muslim pertama yang menulis tentang medis. Lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 M, ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran.

Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq (809-877M) di Baghdad. Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tetapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30, ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.

Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu'tashim.

Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Ketika itu, Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn Azad menjadi Gubernur Rayy, dari tahun 290-296 H/902-908 M, atas nama kemenakannya Ahmad bin Islam ibn Ahmad. Bahkan kepada Manshur bin Ishaq ibn Ahmad, ia persembahkan karyanya “al-Thib al-Manshuri”.

Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.

Ar-Razi merupakan saintis pertama yang berhasil mengklasifikasikan berbagai macam zat kimia ke dalam tiga bagian yakni: mineral-mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan. Pengelompokan ini didasarkan pada asumsi bahwa hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan juga mengandung dan tersusun unsur-unsur kimia. Untuk ini bandingkan misalnya dengan klasifikasi versi Jabir ibnu Hayyan yang membaginya menjadi tubuh, nyawa, dan akal.

Menurut konsepsi ar-Razi di atas, golongan logam dibagi lagi menjadi : jiwa, tubuh, batu, vitriol, borax, dan garam. Benda-benda yang mudah menguap (volatile) dan yang sulit menguap (non volatile) pun dipisahkannya. Yang volatile masuk ke dalam golongan tubuh, sedang yang non volatile masuk ke dalam golongan jiwa atau spirit. Spirit d sini meliputi Sulphur (S), Mercury (Hg), Arsenic (As), dan Samiac (batu bara, ragi, dan zat lemak).

Ia termasuk salah seorang yang terampil melakukan proses-proses kimia seperti misalnya distuasi, kristalisasi, sublimasi, kalsinasi, sintesa-sintesa serta berbagai macam analisis lainnya. Begitu pula proses-proses khusus untuk keperluan penimbangan.

Bahkan, dialah dokter pertama yang menerapkan ilmu Kimia dalam bidang kedokteran, sampai-sampai disebut bahwa ia pernah mengobati penyakit seseorang melalui reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh pasien. Ia pulalah dokter pertama yang menyatakan bahwa kondisi jasmani itu banyak terpengaruh oleh kesetabilan jiwa, yang merupakan cirri teori ilmu kedokteran modern. Ia pula yang menemukan sejenis minyak cologne yang disarikan dari sejenis tumbuh-tumbuhan.

Selain itu ar-Razi juga banyak menulis buku tentang materi, ruang, nutrisi, waktu, gerak, dan optic, iklim serta alkemi. Dalam lapangan kimia, salah satu karyanya yang berjudul Al-Kimy merupakan buku acuan penting dalam ilmu kimia.

Karya-karyanya

Selama hidupnya ar-Razi telah banyak mengarang karya-karya ilmiah. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Comprehensive Book yang mencakup semua pengetahuan medis Timur Tengah, India, dan Yunani.

Selain itu, ar-Razi juga mengarang buku-buku ilmiah yang jumlahnya tak kurang dari 200 buah. Salah satu di antaranya adalah Al-Hawi (bukan menyeluruh) yang terdiri dari 20 jilid. Karya ini lebih dianggap sebagai buku induk dalam bidang ilmu kedokteran. Agaknya Al-Hawi lah yang merupakan karyanya yang terbesar dan luas sesuai dengan namanya. Buku in dianggap pula sebagai intisari ilmu-ilmu Yunani, Syariah, dan Arab. Dan lagi, apa yang dituliskan di dalamnya adalah hasil rangkuman ilmu-ilmu kedokteran yang telah ia baca, ia catat, lalu kemudian ia uji keabsahan dan kebenarannya lewat eksperimen.

Kurang lebih setengah abad setelah wafatnya, buku tersebut baru dijumpai dua jilid dan jauh sesudahnya baru ditemukan dalam berbagai museum di Eropa. Istana-istana Kristen Eropa ketika itu mempunyai perhatian besar akan buku tersebut dan merasakan betapa pentingnya buku tersebut untuk para tabib yang ditugaskan untuk menjaga kesehatan keluarga raja-raja. Bahkan, Raja Charies (dari Anyou, saudara dari St. Louis pejuang perang salib), Raja Salih dan Raja Napels, memerintahkan agar Al-Hawi diterjemahkan ke dalam bahasa latin, bahasa resmi ilmu pengetahuan Eropa waktu itu sampai abad keempat belas.

Penerjemahan dilaksanakan oleh seorang doktor Sicilia, Feray Ibnu Salim bersama dengan Gir Farragut. Salinannya dibubuhi nama-nama yang sesuai dengan keagungan buku ini, yakni Continens. Di Eropa terkenal dengan Continent, yakni buku yang dapat dipakai untuk seluruh benua. Dari salinan inilah orang Eropa mengetahui kebesaran dan keagungan dokter Muslim ar-Razi.

Dalam satu penemuan monumental dari ar-Razi yang banyak digunakan dalam dunia kedokteran adalah Air Raksa (Hg). Padahal di Eropa, Hg atau Mercury tersebut baru dikenal pada masa (Zar Rusia Alexei Mikhailovitsy (1629-1676 M) yang memerintah pada tahun 1645-1676 M.

Buku lain karangannya adalah sebuah ensiklopedi kedokeran yang terdiri dari 10 jilid lebih. Jilid ke-9 buku ini, bersama dengan Al-Qonun Fi At-Thib karya Ibnu Sina, hingga abad ke-16 M, masih tetap merupakan dasar dari keajian-kajian tentang kedokteran di Universitas-universitas di Eropa. Di samping itu, ia pulalah orang pertama yang mencurahkan segenap pemikirannya untuk mendiagnosa penyakit cacar, serta menulis buku mengenai penyakit anak-anak. Ia pula orang yang telah menggunakan injeksi urediral (saluran kencing dan sperma).

Penyakit Cacar dan Darah Tinggi

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Dalam salah satu karyanya, ar-Razi memberikan informasi yang amat menarik perhatian para peneliti, yaitu tentang small-pox (penyakit cacar). Untuk jasa ini, ia dianggap sebagai sarjana yang mula-mula meneliti penyakit tersebut. Ia membedakan penyakit ini menjadi cacar air (variola) dan cacar merah (vougella).

Seton (tumpal muka) merupakan pula hasil penemuan ar-Razi. Buku Al-Asrar (Rahasia-rahasia), adalah salah satu karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12 M. buku ini sampai abad ke-19 M, menurut Dr. Gustave Le Bon dalam salah satu karangannya, masih tetap menjadi buku pegangan praktikum kedokteran.

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Ar-Razi pula yang pertama kali melakukan pengobatan khas dengan pemanasan syaraf, serta merupakan sarjana kedokteran yang menganggap penting pengobatan kepala pening. Ia juga diduga sebagai yang pertama kali mendiagnosa tekanan darah tinggi (hypertensi), sedang terhadap berbagai macam penyakit yang perlu perangsangan syaraf. Dia mengemukakan pengobatan yang mirip dengan cara akupuntur yang sekarang telah amat populer, dengan cara penusukan noktah-noktah tertentu pada tubuh dengan besi-besi pipih runcing yang telah dipanaskan dengan minyak mawar atau minyak cendana.

Bahkan tentang salah satu system pengobatan tercanggih ar-Razi kala itu, Doktor Winston pernah berkomentar, “ar-Razi mengobati penyakit kronis dengan cara seperti yang kita terapkan dewasa ini, dan ia juga telah melakukan penjahitan pada luka-luka yang terbuka”.

Dalam buku ini, ar-Razi memaparkan pula berbagai macam luka serta penggunaan kayu pengapit dan penyangga (spalk) untuk keperluan patah tulang. Lebih lagi, ia menguraikan tentang sakit periut yang disebut batr (potong) dan fatq (koyak). Ia tidak menggolongkan penyakit tersebut sebagai koyak (rupture, infisyaman) melainkan sebagai akibat memuainya pembuluh darah kelambung dan khasyii’ahnya.

Ar-Razi wafat pada tahun 313 H/925. Selama hidupnya ia dikenal sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. (njs)

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top