#KhazanahIslamNusantara (1)

Umdatul Awam, Kitab Kuning Tentang Haji Karya Syekh Nawawi Banten

gomuslim.co.id– Tradisi mengkaji kitab kuning di pesantren telah berlangsung berabad-abad. Pada mulanya, kajian tentang fikih menjadi menu favorit di pesantren-pesantren. Namun demikian, belakangan kajian tentang hadis dan tafsir juga menjadi perhatian di pesantren-pesantren. Menurut Martin Van Bruinessen dalam Pesantren and Kitab Kuning: Maintenance and Continuation of a Tradition of Religious Learning, pengajaran kitab kuning di Indonesia merupakan pengaruh dari madrasah-madrasah di Timur Tengah atau India. Menurutnya, sebelum Islam datang ke Indonesia, kitab-kitab kuning berbahasa Arab sudah lebih dulu diajarkan di Timur Tengah atau India.

Dalam penelitian lainnya yang berjudul Kitab Kuning: Books in Arabic Script Used in The Pesantren Milieu, Martin Van Bruinessen membuat prosentase terkait kitab kuning yang dikaji di pesantren. Kitab fikih menempati posisi pertama dalam jumlah prosentase tersebut, yaitu 20%, baik kitab fikih yang ditulis dalam bahasa Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan Indonesia. Sementara itu, kitab kuning dalam bidang tauhid menduduki prosentase 17%, bidang gramatika Arab 12%, dan sisanya masing-masing ditempati kitab kuning bidang hadis, tasawuf, etika, hizib, dan sejarah.

Menurut Martin Van Bruinessen, salah satu ulama Nusantara yang karyanya banyak dikaji di pesantren adalah Syekh Nawawi Banten. Berbagai disiplin keilmuan kitab-kitab karya Syekh Nawawi diajarkan di pesantren. Dalam bidang fikih misalnya, Nihayatuz Zain, Tausyih ‘ala Ibni Qasim, Kasyifatus Saja, Sulamul Munajat, dan Riyadhul Badi’ah merupakan kitab-kitab yang menjadi bagian dari kurikulum pesantren.

Sementara itu, kitab Fathul Majid, Syarah Tijan ad-Darari, Nuruz Zhalam, dan Qathrul Gaits menjadi salah satu pilihan para kiai dalam pengajaran bidang tauhid. Dalam bidang tasawuf, Kifayatul Atqiya, Nashaihul ‘Ibad, Muraqil ‘Ubudiyyah, dan Bahjatul Wasail merupakan karya Syekh Nawawi yang tak luput dari perhatian para santri di pesantren. Satu-satunya kitab tafsir karya Syekh Nawawi yang kerap dikaji di pesantren adalah Marah Labid li Kasyfi Ma’anil Quranil Majid.

Dari sekian banyak kitab yang disebutkan di atas, ternyata ada karya Syekh Nawawi tentang fikih haji yang masih luput dari perhatian kalangan pesantren. Kitab tersebut bernama ‘Umdatul ‘Awwam fi Syarh Faidhil Malikil ‘Allam fi Manasikil Hajji wal ‘Umrah. Sejauh pantauan gomuslim, kitab ini belum pernah dicetak oleh penerbit manapun, baik dalam maupun luar negeri. Satu-satunya peneliti yang sudah melakukan penelitian filologi atas naskah ‘Umdatul ‘Awwam adalah Nurfika Arofah, mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2015). Namun sayang, penelitian filologi yang dilakukan Nurfika Arofah ini tidak terlalu banyak menguak konteks historis kitab ‘Umdatul ‘Awwam.  

Faidhul Malikil ‘Allam, Irsyadul Anam, dan ‘Umdatul ‘Awwam

Kitab Faidhul Malikil ‘Allam merupakan karya Syekh Muhammad Shalih bin Ibrahim ar-Rais az-Zamzami az-Zubairi. Kitab Faidhul Malikil ‘Allam masih berbentuk manuskrip dan tersimpan di Perpustakaan Universitas King Saud. Kitab yang terdiri dari 16 halaman ini menjelaskan mengenai pokok-pokok dasar manasik haji dan umrah. Biasanya, setiap penulis kitab kuning mencantumkan kapan karyanya selesai ditulis. Dalam mansukrip Faidhul Malikil ‘Allam ini tidak ada informasi yang jelas kapan kitab tersebut selesai ditulis. Menariknya, manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Universitas King Saud ini terdapat makna gandul berbahasa Jawa. Makna gandul adalah tradisi para santri dalam menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab.

Sementara itu, tidak banyak referensi yang menguak sosok ulama yang wafat di Mekah pada tahun 1240 H/1825 M ini. Namun demikian, az-Zarkali dalam al-A’lam menyebutkan bahwa ulama yang lahir pada 1188 H/1774 M merupakan ulama yang bermazhab fikih syafi’i. Nisbat ar-Rais az-Zamzami az-Zubairi yang melekat pada Syekh Muhammad Shalih memiliki latar belakang historis yang cukup panjang.

Seperti dilansir situs Arab Alnilin, julukan az-Zamzami merujuk pada sejarah keluarga Syekh Muhammad Shalih yang merupakan pengelola dan pendistribusi air zamzam untuk masyarakat Mekah dan jemaah haji pada waktu itu. Kakek moyang dari sosok  Syekh Muhammad Shalih yang pertama kali dipercaya menampuk jabatan pengelola zamzam adalah Ali bin Muhammad bin Daud al-Baidhawi. Jabatan tersebut mulai diemban oleh Ali bin Muhammad bin Daud al-Baidhawi sejak 730 H/1329 M. Julukan ar-Rais merujuk tugas lain yang diembankan oleh penguasa Mekah pada keluarga Syekh Muhammad Shalih sebagai pemimpin para muazin pada saat itu. Sementara itu, gelar az-Zubairi yang menempel pada Syekh Muhammad Shalih ini karena konon ia merupakan keturunan sahabat Abdullah bin Zubair.

Mansukrip Faidhul Malikil ‘Allam yang tipis setebal 16 halaman itu pertamakali dikomentari (di-syarahi) oleh Syekh Yusuf al-Batthah dengan karyanya Irsyadul Anam ila Syarhi Faidh al-Malik al-‘Allam. Kitab setebal 48 halaman ini sudah pernah dicetak oleh Penerbit al-Maimaniyyah, Mesir. Kitab ini dicetak 65 tahun setelah Syekh Yusuf al-Batthah selesai menulis karyanya tersebut. Syekh Yusuf al-Batthah selesai menulis Irsyadul Anam pada hari Selasa, Jumadil Akhir 1244 H/1828 M. Sementara itu, kitab ini dicetak pada Dzulqaidah 1309 H/Mei 1892 M.

Menurut az-Zarkali dalam al-A’lam, Syekh Yusuf al-Batthah merupakan keturunan Nabi dari jalur sayyidina Husein. Ulama yang menekuni ilmu sejarah, matematik, dan faraid ini, pergi merantau dari Yaman menuju ke Mekah. Tidak diketahui secara pasti kapan Syekh Yusuf al-Batthah dilahirkan. Namun demikian, az-Zarkali menyebutkan bahwa Syekh Yusuf al-Batthah wafat pada 1246 H/1830 M.  

Setelah Syekh Yusuf al-Batthah, barulah 66 tahun kemudian Syekh Nawawi menulis syarah kitab Faidh al-Malik al-‘Allam. Syekh Nawawi menulis kitab ‘Umdatul ‘Awwam fi Syarh Faidhil Malikil ‘Allam fi Manasikil Hajji wal ‘Umrah. Saat Syekh Muhammad bin Shalih wafat, usia Syekh Nawawi masih 10 tahun. Saat itu Syekh Nawawi masih berada di tanah kelahirannya, Banten. Karena hidup dalam lingkungan berpengetahuan agama, sejak usia lima tahun Syekh Nawawi sudah dibiasakan oleh orangtunya belajar ilmu-ilmu keislaman.

Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyakBaru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu. Saat Syekh Yusuf al-Batthah wafat, usia Syekh Nawawi sudah mencapai 16 tahun dan sudah menetap di Mekah selama setahun. Saat selesai menulis kitab syarah ‘Umdatul Awwam ini, usia Syekh Nawawi diperkirakan masih 29 tahun. Hal ini karena kitab ‘Umdatul Awwam selesai pada bulan 24 Syawwal 1284 H/ 18 Februari 1868 M.  

Berhaji Ulang Menurut Syekh Nawawi dalam ‘Umdatul Awwam

Kewajiban menunaikan haji bagi umat Muslim yang mampu hanya berlaku sekali dalam seumur hidup. Sementara itu, ibadah haji yang kedua, ketiga, dan seterusnya merupakan ibadah sunah. Namun demikian, untuk konteks saat ini, berhaji lebih dari satu kali agaknya sulit untuk dilakukan, karena harus memenuhi persyaratan ketat yang ditetapkan Kementerian Agama Republik Indonesia. Terlepas dari itu semua, salah satu keterangan tambahan yang dianggap suplemen dari keterangan inti (far’un) yang ditulis Syekh Nawawi dalam ‘Umdatul Awwam adalah mengenai berhaji ulang.

Syekh Nawawi pada masa itu berpendapat bahwa haji untuk kedua dan ketiga kali itu lebih utama daripada menghajikan orang lain. Syekh Nawawi merujuk pada makna tekstual hadis, “Orang yang berhaji untuk pertama kali maka dia telah menunaikan kewajibannya. Orang yang berhaji untuk kedua kalinya itu sama saja bagaikan dia sedang menghutangi Tuhannya. Sementara itu, orang yang berhaji untuk ketiga kalinya maka Allah akan mengharamkan rambut dan kulitnya dari api neraka.” Menurut Syekh Nawawi, melakukan kesunahan lain seperti menghajikan orangtua atau saudara sebaiknya dikerjakan setelah orang tersebut melakukan haji sebanyak tiga kali.

Pendapat ini tentu bertentangan dengan realitas saat ini untuk umat Muslim di Indonesia pada umumnya. Pertama, ibadah haji merupakan ibadah individual yang pahalanya hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan saja. Hal ini berbeda dengan ibadah sosial, seperti mewakafkan tanah untuk pendidikan, menyantuni yatim-piatu dan orang jompo, yang pahalanya dapat dirasakan bukan saja untuk yang bersangkutan, tetapi juga orang lain. Hal inilah yang berulang kali disuarakan oleh Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub dalam beberapa karyanya tentang haji. Kedua, persyaratan untuk melakukan haji berulang kali untuk konteks saat ini membutuhkan waktu yang lama dan persyaratan yang ketat. Ketiga, menurut Lembaga Fatwa Mesir, hadis yang disebutkan Syekh Nawawi bukanlah hadis sahih. (ihs/dbs/foto ilustrasi: NU Online)

Sumber :

- Van Bruinessen, Martin, 1990, Kitab Kuning: Books in Arabic Script Used in The Pesantren Milieu, Belanda: Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde.

- Van Bruinessen, Martin, 1994, Pesantren and Kitab Kuning: Maintenance and Continuation of a Tradition of Religious Learning, Berne: The University of Berne Institute of Ethnology.

- Shalih, Muhammad, manuskrip Faidhul Malikil ‘Allam, Mekah: Perpustakaan Universitas King Saud.

- Al-Battah, Yusuf, 1892, Irsyadul Anam ila Syarhi Faidh al-Malik al-‘Allam, Mesir: Penerbit al-Maimaniyyah.

- Nawawi, Muhammad, manuskrip ‘Umdatul ‘Awwam, Mekah: Perpustakaan Universitas King Saud.

- Situs online Alnilin.

- Situs Thesaurus of Indonesian Islamic Mansucripts, Pusat Pengkajian Islam Dan Masyarakat (PPIM) Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top