#KhazanahIslamNusantara (6)

Sunan Kalijaga, Wali Songo Pertama yang Memperingati ‘Gerebek Maulid Nabi Muhammad SAW’

gomuslim.co.id- Sejarah mengenai Sunan Kalijaga ada tiga versi yaitu: Arab, China dan Jawa. Berdasarkan versi jawa, Sunan Kalijaga adalah putra seorang adipati Tuban, Jawa Timur dan ibunya bernama Dewi Retno Dumilah. Namun versi lain mengatakan ibunya Dewi Nawang Arum (putri Ki Ageng Tarub). Kedudukan adipati di zaman dahulu berbeda dengan jabatan bupati di zaman sekarang. Kekuasaan adipati itu sama dengan raja, tetapi di bawah kekuasaan Maharaja.

Kadipaten Tuban waktu itu di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, Tumenggung Wilatika (Raden sahur) atau Arya Teja IV versi lain dalam babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sadik, dijuluki “ Arya ing Tuban”.

Sedangkan cerita yang berasal dari Arab menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan yang berasal dari keluarga Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan silsilah bermula dari keurunan Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad SAW) yang mempunyai putra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Madhra’uf, berputra Hasanudin hingga berputra Abdur Rakhim (Aria Teja, Bupati Tuban), berputra Tumenggung Wilwatikta dan berakhir pada Raden Sahid (Sunan Kalijaga).

 Sunan Kalijaga diperkirakan lahir di Tuban pada tahun 1430-an. Tentang digunakannya nama Kali Jaga sendiri dikaitkan dengan awal perjalanannya menjadi murid Sunan Bonang, yang mengantarkan Raden Sahid yaitu selama beberapa tahun menjadi penjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan di tepi sungai atau telaga di lereng gunung Surowiti (sekarang Desa Surowiti Kecamatan Penceng Kabupaten Gresik Jawa Timur) yang kemudian di tempat itu meninggalkan sebuah patilasan.  

Sunan Kalijaga diceritakan sebagai seorang pemuda yang sudah
sangat kritis terhadap kemiskinan di sekitarnya dalam kekuasaan Majapahit, sehingga disebutnya sebagai "maling budiman", yakni merampok orang kaya yang korup, dengan cara membajak di dalam hutan dan hasilnya dibagikan kepada orang miskin.     

Kiprah Dakwah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga merupakan ulama termuda yang diangkat menjadi wali, tetapi memiliki ilmu paling tinggi dan paling lama pula menjalankan dakwahnya. Pola dakwah yang dikembangkannya mirip dengan guru sekaligus sahabatnya, Sunan Bonang. Kedua wali ini cenderung menganut faham sufistik berbasis salaf, bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Sunan Kalijaga memiliki kesenian dan kebudayaan sebagai sarana yang efektif untuk berdakwah.

Berbeda dengan Sunan Bonang dan Sunan Giri dalam mengembangkan agama Islam, Sunan Kalijaga tidak membangun sebuah perguruan di tempat tinggalnya. Namun Sunan Kalijaga selalu mengembara di seluruh penjuru Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan sampai daerah Cirebon. Di tempat-tempat tertentu sunan Kalijaga mendidik kader pengembang umat yang tangguh. Hingga perguruan Sunan Kalijaga tersebar di banyak tempat, di antara perguruan murid Sunan Kalijaga yang sampai sekarang masih terlihat adalah perguruan yang diasuh oleh Ki Ageng Pandanaran di Tembayat, Klaten.

Sunan Kalijaga termasuk wali yang akomodatif terhadap unsur budaya Jawa. Terbukti Sunan Kalijga tidak menegur secara keras terhadap Sultan Hadiwijaya di Pajang dan Pemanahan di Mataram, yang mengubah kebijakan raja-raja Demak. Raja-raja Demak sangat keras terhadap paham yang melenceng dari hukum dan syariat Islam, sementara Pajang dan Mataram justru bersifat akomodatif. Sunan Kalijaga mempunyai kemampuan itu karena beliau adalah wali dan penasehat politik yang dituakan.

 Dalam kisah kewalian, Sunan Kalijaga dikenal sebagai pencipta “baju takwa”, tembang-tembang Jawa, seni memperingati Maulid Nabi yang lebih dikenal dengan sebutan Gerebek Maulud. Upacara Sekaten (Syahadatain, pengucapan dua kalimah syahadat) yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang Jawa masuk Islam. itu juga merupakan ciptaanya.

Sunan Kalijaga adalah seorang dalang Wayang Purwa, yang terkenal sebagai dalang wayang kulit yang sangat menarik. Bila Sunan Kalijaga pentas di suatu desa, penonton berbondong-bondong memadati halaman. Pentas wayang Sunan Kalijaga adalah dalam rangka mendakwahkan Islam.

Sunan Kalijaga tidak pernah menarik bayaran materi. Sebagai bayarannya Sunan Kalijaga mengajak kepada seluruh hadirin untuk bersyahadat mengucapkan sumpah pengakuaan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mengakui bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Sunan Kalijaga mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mengurangi perbuatan syirik dan setia kepada ajaran Islam.

Lewat sarana itulah, Sunan kalijaga berhasil meratakan Islam di seluruh bumi Jawa. Dalam dakwah lain juga tampak sikap Sunan Kalijaga yang baik dalam penciptaan, seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, termasuk juga kesenian wayang. Bahkan terhadap kesenian wayang ini Sunan Kalijaga dipandang sebagai tokoh yang telah menghasilkan kreasi baru, yaitu dengan adanya wayang kulit dengan segala perangkat gamelannya.

Wayang sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga dalam kesempatan dakwahnya di berbagai daerah, dan ternyata wayang ini merupakan media yag epektif dapat mendekatkan dan menarik simpati rakyat terhadap agama. Kemampuan Sunan Kalijaga dalam mendalang (memainkan wayang) begitu memikat, sehingga terkenal berbagai nama samaran baginya di berbagai daearah.

Jika Sunan Kalijaga mendalang di daerah Pajajaran dikenal dengan nama Ki Dalang Sidabrangti, bila Sunan Kalijaga mendalang di Tegal dikenal dengan nama Ki Dalang Bengkok, dan bila Sunan Kalijaga mendalang di daerah Purbalingga terkenal dengan nama Ki Dalang Kumendung.

Belajar Keteladanan dari Jejak Sejarah Sunan

Keteladanan yang dapat kita ambil dari kisah Sunan Kalijaga adalah hendaknya dalam mengajarkan hal-hal yang baik kepada orang lain bukan dengan cara memaksakan kehendak kita kepada orang tersebut.

Bagi yang ingin melihat jejak sejarah dari Sunan Kalijaga dapat mengunjungi makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga masih di dalam kota demak kira-kira berjarak 3km dari masjid Agung Demak. Seperti makam wali umumnya makam Sunan Kalijaga berada di dalam bangunan cungkup berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir. Tiap tahun tanggal 10 Dzulhijah diadakan ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran dari Masjid Agung Demak ke makam Kadilangu.

Sumber :

Hafidz et al., 2015. Peranana Sunan Kalijaga dalam Islamisasi di Jawa Tahun 1470 1580. Artikel Ilmiah Mahasiswa Universitas Jember.

 Anwarsyam. Biografi Sunan Kalijaga.

Wahyudi, Agus. 2007. Makrifat Jawa: Makna Hidup Sejati Syekh Siti Jenar  dan

Walisongo. Pustaka Marwa : Yogyakarta.

M. Faizi. Kisah Teladan Wali Songo : Sembilan Wali Penyebar Islam di Jawa. Tera

Insani. Yogyakarta.

 

Penulis :

Fitri Hardianti

Mahasiswi Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung

Alumni Lembaga Studi Mahasiswa Islam (LSMI) Al-Madani Universitas Riau


Back to Top