#KhazanahIslamNusantara (7)

Begini Kiprah Dakwah Sunan Gunung Jati, Sang Wali dari Tanah Cirebon

gomuslim.co.id- Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah salah satu dari penyiar agama islam di tanah Jawa bersama kesembilan wali yang dikenal dengan nama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan cucu dari penguasa Tanah Sunda, Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Sunan Gunung Jati diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Sangat unik melihat kenyataan bahwa Sunan Gunung Jati adalah penyiar agama Islam yang terkemuka, karena Kakeknya Prabu Siliwangi adalah Raja dari kerajaan bercorak Hindu-Budha di Jawa Barat.

Menurut buku Sejarah Cirebon yang ditulis Pangeran Suleman Sulendraningrat, Sunan Gunung Jati adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad S.A.W. Sementara itu menurut J.L.A. Brandes yang mendasarkan studinya pada Babad Cirebon menyatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah orang Indonesia asli, putra dari Lara Santang, Putri Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati dikatakan orang Indonesia asli, yaitu merupakan putra dari Syarifah Muda’im atau Nyimas Lara Santang yang kemudian menikah dengan penguasa Mesir keturunan ke-22 Nabi Muhammad S.A.W.

Diceritakan bahwa saat itu ibu dari Sunan Gunung Jati yakni Nyimas Lara Santang diperintahkan oleh gurunya Syekh Datuk Kahfi untuk menunaikan ibadah haji. Selama menunaikan haji ia tinggal di rumah Syekh Bayanullah sambil mempelajari ilmu agama Islam, seorang saudara muda dari Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati. Sesampainya di Mekah, Nyimas Lara Santang juga berguru pada Guru Besar Islam, Syekh Abdul Jadid, yang kemudian mendapat gelar haji pula darinya. Pada saat ibadah haji, Nyimas Lara Santang dipertemukan dengan jodohnya, Raja Mesir ayahanda Sunan Gunung Jati yakni yarif Abdillah.

Nyimas Lara Santang mendapat jodoh Maulana Sultan Makhmud alias Syarif Abdillah, seorang putra dari Nurul Alim, dari Bangsa Hasyim, berasal dari Bani Ismail, yang pada masanya memerintah di Ibu Kota Ismailiyah atau Negeri Mesir. Untuk lebih mudah diterima dikalangan lingkungan Arab, Syarif Abdillah mengganti nama Nyimas Lara Santang dengan nama Syarifah Muda’im. Pernikahan Syarif Abdillah dan Syarifah Muda’im dikaruniai dua anak yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kemudian menjadi pemuka Islam di Cirebon, Sunan Gunung Jati yang kemudian menjadi Sultan pertama di Kesultanan Cirebon.

Cirebon baru menjadi kerajaan yang berdaulat dan tidak lagi berada dibawah kekuasaan manapun, ketika Sunan Gunung Jati berkuasa dan melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Setelah merdeka, Cirebon menjadi salah satu poros penyebaran Islam di Tanah Jawa. Sunan Gunung Jati sebagai Raja juga berperan menjadi pemuka agama Islam dan menjadi salah satu dari Walisongo. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk fokus menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perkembangan Islam di Pulau Jawa

Sunan Gunung Jati mendapatkan amanah untuk menyebarkan Islam di daerah Cirebon. Di Cirebon, Sunan Gunung Jati berkembang menjadi sosok mubaligh islam terpandang. Sunan Gunung Jati kemudian mendirikan Kesultanan Cirebon dan menjadi Sultan pertama, sebagai pendiri dinasti dan melepaskan diri dari pengaruh Pajajaran.

Di bawah kekuasaannya, Cirebon menjelma menjadi kerajaan Islam yang besar, pengaruh Islam bisa berkembang hingga hampir keseluruh Jawa Barat dan Sunda Kelapa. Perannya sebagai salah satu dari Walisongo juga mempermudah sosialisasi Islam di seluruh Jawa bersama para Wali Lainnya. Selain berperan sebagai mubaligh di wilayah Cirebon untuk mengembangkan Islam ke seluruh Jawa Barat, Sunan Gunung Jati juga berperan memegang kekuasaan Cirebon diistana Pakungwati, Negara Caruban. Sunan Gunung Jati mendapat gelar sebagai Wali Kutub (pemimpin para wali) setelah ada kesepakatan diantara dewan walisongo. Penobatan wali kutub Sunan Gunung Jati ini merupakan hal yang sudah lama direncanakan para mubaligh Islam.

Strategi perluasan Islam oleh para mubaligh yang kebanyakan keturunan nabi Muhammad S.A.W. ini di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Karena itu, para tokoh penyebar Islam ini menghendaki pengangkatan Sunan Gunung Jati sebagai wali kutub dari daerah masrik atau timur yang berkedudukan di Cirebon. Pengangkatan Sunan Gunung Jati dilakukan setelah wafatnya wali kutub dari daerah magrib/barat Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Dalam berdakwah, Sunan Gunung Jati menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Selain itu, selama masa pemerintahannya banyak dari program-program pemerintahannya yang berhasil, diantaranya prestasi dalam bidang militer, hal ini ditunjukkannya dengan kemenangan melawan portugis kala itu.

Selain itu keberhasilannya dalam bidang agama, bisa dilihat dari keberhasilannya sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dan intens untuk mengembangkan agama Islam ke segenap penjuru tatar Sunda. Dalam bidang ekonomi, Sunan Gunung Jati berhasil memajukan bidang ekonomi perdagangan dengan negeri-negeri Campa, Malaka, Cina dan Arab. Dalam bidang sosial, Sunan Gunung Jati juga berhasil membangun karakter masyarakatnya untuk lebih mandiri.

Dalam bidang pendidikan, guru memiliki otoritas penuh sebagai seorang pengajar. Akses penggunaan naskah-naskah sebagai sarana bahan ajar menjadi lebih mudah. Dengan keberhasilan pemerintahan yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati menyebabkan banyak diantara masyarakat-masyarakat tersebut yang pada akhirnya memeluk agama Islam.

Contoh Keteladanan dari Sunan Gunung Jati

Sebagai seorang mubaligh Islam sekaligus pemimpin kesultanan Cirebon, banyak hal-hal yang dapat kita teladani dari sosok Sunan Gunung Jati, di antaranya, keberhasilannya sebagai seorang pemimpin yang ditunjukkannya dengan sejumlah program-program pemerintahannya yang berhasil baik di bidang ekonomi, agama, pendidikan bahkan pandai dalam mengatur strategi dalam militer.

Selain itu, sebagai wali kutub (pemimpin para wali), Sunan Gunung Jati telah memberikan banyak pengaruh di Pulau Jawa dalam menyebarkan agama Islam. Hendaknya, sebagai seorang pemimpin kita benar-benar menjalankan amanah dari kepemimpinan yang diamanahkan kepada kita, karena setiap pemimpin itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Apabila kita tidak mumpuni menjadi seorang pemimpin, hendaklah tidak serta merta memaksakan diri kita untuk mengambil amanah tersebut, namun ada baiknya mempertimbangkan kemampuan kita terlebih dahulu.

Sumber :

Bochari, Sanggupri dan Wiwi Kuswiah. 2001. Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Jakarta: CV. Suko Rejo Bersinar.

Daliman, A. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di
Indonesia.
Yogyakarta: Ombak.

Wijaya Samsudin, Linda. 2017. Peran Sunan Gunung Jati Dalam Islamisasi di Cirebon. Intitut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon.

 Rokhmutiana Hardhi, Titan. 2014. Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Proses Islamisasi di Kesultanan Cirebon Tahun 1479-1568. Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Penulis:

Fitri Hardianti

Mahasiswi Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung

Alumni Lembaga Studi Mahasiswa Islam (LSMI) Al-Madani Universitas Riau

 


Back to Top