#KhazanahIslamNusantara (8)

Sunan Drajat, Penyebar Islam dengan Aksi Sosial untuk Masyarakat Lamongan

gomuslim.co.id- Salah satu wali yang terkenal pada masa perkembangan Islam di Pulau Jawa adalah Sunan Drajat. Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat adalah putra bungsu Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Ayah dari Sunan Drajat bernama Raden Rahmat yang terkenal dengan Sunan Ampel, salah seorang Walisongo yang memiliki wilayah dakwah di daerah Ampel Denta, Surabaya.

 Sementara itu, ibu dari Sunan Drajat bernama Nyai Ageng Gede Manila atau Candrawati, putri Arya Teja IV, seorang adipati Tuban yang masih mempunyai hubungan nasab dengan Ronggolawe. Semasa muda, Sunan Drajat terkenal dengan sebutan Raden Qasim, Qosim, atau Kasim.

Selain itu, masih banyak nama lain yang disandangnya, antara lain Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat (Tim Peneliti dan Penyusunan Sejarah Sunan Drajat 1998). Raden Qosim adalah Adik Nyai Patimah, Nyai Wilis, Nyaitaluki dan Raden Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang) (Syamsuddin 2016:216).

 Dengan demikian berarti garis nasab Sunan Drajat sama dengan Sunan Bonang yang berasal dari Sunan Ampel yakni berdarah Champa-Samarkand-Jawa karena Sunan Ampel adalah putra Ibrahim Asmarakandi (Sunyoto 2016:304).

Dalam memperdalam ilmu agama, Sunan Drajat belajar kepada ayahnya Sunan Ampel kemudian ke Cirebon untuk berguru pada Sunan Gunung Jati. Menurut tradisi yang berkembang, ada kecenderungan seorang kiai akan menyuruh anaknya untuk mengaji kepada kiai lain yang dipercaya memiliki ilmu lebih
tinggi, baik itu dahulunya adalah kawan mengaji maupun mantan santrinya.

Tradisi itu tampaknya juga berlaku pada diri Sunan Drajat saat masih remaja. Seperti diketahui umum bahwa Sunan Ampel adalah guru semua para wali, termasuk Syarif Hidayatullah yang merupakan santri di Ampel Denta Surabaya yang setelah lulus memperoleh tugas mengembangkan agama Islam di Cirebon. Selama belajar di Cirebon, beliau banyak dikenal dengan sebutan Syekh Syarifuddin dan bergelar Pangeran Drajat. Selama di Cirebon Sunan Drajat diminta membantu tugas dakwah oleh Sunan Gunung Jati kepada masyarakat Cirebon, agaknya tidak ada kesulitan karena bahasa yang dipakai oleh masyarakat di sana adalah bahasa Jawa Cirebon.

Pangeran Drajat muncul Drajatnya menjadi anggota Walisongo melalui musyawarah para wali di Balai Sidang Para Wali di kompleks Keraton Pakungwati setelah Syeh Siti Jenar dihukum pancung. Sunan Drajat kemudian menikah dengan putri Sunan Gunung Jati yang bernama Dewi Sufiyah yang dikaruniai tiga putra dan putri yaitu Pangeran Trenggana, Pangeran Sandi dan Dewi Wuryan. Selain menikah dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat juga menikah dengan Nyai Kemuning dan nyai Retna Ayu Candra.

Kiprah dakwah Sunan Drajat dalam Perkembangan Islam di Pulau Jawa

Dakwah yang dilakukan oleh Raden Qosim atau Sunan Drajat pada mulanya dilakukan atas petuah Sunan Ampel yaitu berdakwah ke pesisir pantai Gresik, hingga akhirnya menetap di wilayah Drajat Lamongan.

Untuk menempati wilayah tersebut, Raden Qosim dengan diantar oleh Sunan Bonang menghadap Sultan Demak untuk meminta izin bertempat tinggal di kawasan itu. Sultan Demak I tidak hanya mengizinkan untuk bertempat tinggal, melainkan memberikannya. Keputusan pemberian tanah perdikan ditetapkan empat tahun kemudian, yaitu pada tahun Jawa 1486. Sunan Drajat dikenal sebagai penyebar Islam yang berjiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin serta lebih mengutakan kesejahteraan sosial masyarakat.

Setelah memberikan perhatian penuh terhadap kondisi masyarakat, barulah Sunan Drajat memberikan pemahaman tentang Islam. Ajarannya lebih menekankan pada empati dan etos kerja berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial dan gotong royong.

Cara Berdakwah ala Sunan Drajat

Sunan Drajat banyak menggunakan ajaran yang luhur dan tradisi lokal untuk menyiarkan agama Islam. Salah satu buktinya adalah adanya artefak yang bertuliskan ajaran catur piwulang di kompleks makam Sunan Drajat. Artefak tersebut mengajarkan tentang cara hidup bersama sebagai makhluk social yaitu saling menghargai dan membantu sesama. Selain itu, Sunan Drajat juga memiliki keahlian dalam bidan seni lainnya, hal ini dibuktikan dengan adanya seperangkat gamelan, yang diberi nama : ‘Singo Mengkok’.

Sebagimana Sunan Bonang, Sunan Drajat juga dididik di lingkungan Jawa karena keluarga ibunya berasal dari keluarga bupati. Hal tersebut berdampak pada pengetahuannya tentang budaya jawa, ilmu, bahasa, sastra dan agama lebih dominan bercorak jawa. Seperti Sunan Bonang juga, Sunan Drajat dikenal pandai mengubah berbagai tembang jawa. Sejumlah tembang macapat langgam pangkur diketahui telah diubah oleh Sunan Drajat. Peninggalan beliau hingga saat ini tersimpan rapi di museum khusus Sunan Drajat di wilayah lamongan.

Sumber :

Muzakki, Ahmad Wafi. Humanisme Religious Sunan Drajat Sebagai Nilai Sejarah dan Kearifan Lokal. Prosiding Seminar Pendidikan Nasional.

Sunyoto, Agus. 2016. Atlas Wali Songo. Jakarta: Pustaka Iman.   

Syamsuddin, Zainal Abidin B. 2016. Fakta Baru Walisongo: Telaah Kritis Ajaran, Dakwah Dan Sejarah Walisongo. Jakarta: Pustaka Imam Bonjol.

Penulis: 

Fitri Hardianti

Mahasiswi Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung

Alumni Lembaga Studi Mahasiswa Islam (LSMI) Al-Madani Universitas Riau

 

 

 


Back to Top