#KhazanahIslamNusantara (9)

Berdakwah dengan Toleransi ala Sunan Kudus

gomuslim.co.id- Sunan Kudus merupakan salah satu dari wali Sembilan atau walisongo yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Nama kecil dari sunan kudus adalah sayyid Jaffar Shadiq Azmatkhan. Ia putra dari pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka.

Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul.

Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali – yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha.

Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tablighnya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”.

 Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Kiprah Dakwah Sunan Kudus

Kiprah dakwah dari Sunan kudus di Pulau Jawa bermula saat Sunan Kudus pergi menuju kota Kudus. Kondisi kota Kudus saat itu bahwasanya sudah ada yang pernah mendakwahkan Islam, yakni Kyai Telingsin, Sehingga sebagian masyarakatnya juga sudah ada yang mengenal Islam.

Sunan Kudus masuk ke kota Kudus bersama dengan santri-santrinya yang mana santri-santrinya ini adalah mantan prajurit perangnya ketika memimpin perang terdahulu. Setelah sampai di Kudus, Sunan beserta dengan santri-santrinya membangun sebuah masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama.

Masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus adalah Masjid Menara Kudus yang masih berdiri hingga kini. Masjid Menara Kudus didirikan pada tahun 1456 Hijriyah yang bertepatan dengan 1549 Masehi.

Terlebih, strategi dakwah yang dilakukan Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam di Kudus yakni dapat dilihat dari caranya yang berusaha mengajarkan toleransi beragama kepada umat hindu dan Buddha yang berada di Kudus. Pada Umat Hindu, bentuk toleransi itu dapat dilihat dari sikap Sunan Kudus yang menghormati sapi yang disucikan oleh umat hindu. Pada hari Qurban, Sunan Kudus tidak menyembelih sapi dan hanya menyembelih kerbau.

Hal itu yang membuat umat hindu kemudian tertarik untuk masuk ke agama Islam. Ketika Sunan Kudus berhasil membujuk umat hindu memeluk agama Islam, selanjutnya Sunan Kudus juga bermaksud membujuk umat Buddha untuk memeluk agama Islam, adapun strategi yang dilakukan oleh Sunan Kudus yakni membuat padasan wudhu (tempat berwudhu), dengan pancuran yang berjumlah delapan buah. Pada masing-masing pancuran, diberi sebuah arca yang diletakkan di atas padasan tersebut.

 Hal yang dilakukan Sunan Kudus tersebut berhasil menarik simpati umat Buddha. Adapun maksud Sunan Kudus membuat padasan wudhu dengan pancuran yang berjumlah delapan buah disebabkan karena Sunan Kudus mengetahui delapan ajaran yang diajarkan dalam agama Buddha.

Delapan ajaran tersebut dikenal dengan nama Asta Sanghika Marga. Isi ajaran Asta Sanghika Marga adalah “seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar dan menghayati agama dengan benar”. Usaha ini membuat hasil yang tidak percuma, banyak Umat Buddha berbondong-bondong ke masjid dan memeluk agama Islam setelah Sunan Kudus menjelaskan bagaimana agama Islam yang sebenarnya.

Selain itu, dalam hal adat istiadat, Sunan Kudus tidak langsung menentang masyarakat yang sering menabur bunga di perempatan jalan dan disamping jalan, menaruh sesajen di kuburan, dan adat lain yang bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau tidak langsung menentang adat itu, tetapi beliau mengarahkan adat tersebut sesuai ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan mengarahkan fungsi sesajen yang berupa makanan lebih baik diberikan kepada orang yang kelaparan atau butuh makan. Sunan Kudus juga mengajarkan bahwa meminta pertolongan bukan kepada ruh nenek moyang tetapi harus kepada Allah SWT.

Keteladanan dari Sunan Kudus

Keteladanan yang dapat kita ambil dari kisah Sunan Kudus adalah metode dakwahnya dengan mengadopsi kultur (budaya) hindu-buddha dan mengarahkannya agar sesuai dengan ajaran Islam merupakan metode yang strategis mengingat Kota Kudus memiliki masyarakat yang taat dalam ajarannya saat itu. Sunan Kudus tidak memaksa masyarakat agar menerima islam, namun Sunan Kudus membuat masyarakat akhirnya mau menerima Islam dengan sendirinya tanpa ada unsur paksaan.

Bagi masyarakat yang ingin melihat jejak sejarah dari Sunan Kudus dapat mengunjungi Menara Kudus. Menara Kudus adalah contoh tercantik dari keberhasilan dakwah kultural Islam. Dengan demikian, Menara Kudus bisa dijadikan counter discourse atas gerakan dakwah politik

Sumber :

Arif, Syaiful. 2014. Strategi Dakwah Sunan Kudus. Jurnal ADDIN Vol. 8 No. 2, Agustus 2014.

Arshadi. 2006. Warisan Walisongo. Bogor : Lorong Semesta.

Wahid, Abdurrahman. 2001. Menggerakkan Tradisi. Yogyakarta : LKiS.

M. Faizi. Kisah Teladan Wali Songo : Sembilan Wali Penyebar Islam di Jawa. Tera Insani. Yogyakarta

 

Fitri Hardianti

Mahasiswi Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung

Alumni Lembaga Studi Mahasiswa Islam (LSMI) Al-Madani Universitas Riau

 

 


Back to Top