#KhazanahIslamNusantara (10)

Menelisik Jejak Dakwah Sang Wali dari Gunung Muria

gomuslim.co.id- Wali songo yang satu ini memiliki nama yakni Sunan Muria, ia juga memiliki nama panggilan lainnya yakni Raden Umar Syahid. Sunan Muria merupakan anak dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Ibu dari Sunan Muria, Dewi Saroh memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Giri sekaligus anak dari Syekh Maulana Ishak.

Nama dari Sunan Muria sendiri diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Sunan Muria mempunyai peran penting dalam proses penyebaran islam di sekitar gunung muria. Dalam menyebarkan agama islam, Sunan Muria melakukannya dengan cara yang halus seperti yang dilakukan oleh ayahanda beliau Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Kiprah Dakwah Sunan Muria dalam Perkembangan Islam di Pulau Jawa

Semasa berdakwah, Sunan Muria lebih memilih tinggal di daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota. Tempat tinggal beliau terletak di salah satu puncak Gunung Muria yang bernama Colo. Di sana, Sunan Muria banyak berinteraksi dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Sunan muria menyebarkan agama islam kepada para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Metode yang digunakan beliau dalam menyebarkan agama islam yakni dengan tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Beliau juga yang telah menciptakan berbagai tembang jawa, yang mana salah satu hasil dakwah beliau melalui media seni adalah tembang Sinom dan Kinanti. Tempat dakwah yang mulanya berada di sekitar gunung muria, kemudian  diperluas meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria.

Lewat tembang-tembang itulah ia mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam. Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ''menghanyutkan diri'' dalam masyarakat. Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. 

Tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Dengan gayanya yang moderat, mengikuti Sunan Kalijaga, menyelusup lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya.  Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau salawat. Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar 750 meter.

Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat.

Keteladanan Sunan Muria

Keteladanan yang dapat kita ambil dari kisah Sunan Muria adalah sikapnya yang mudah berbaur dengan masyarakat dan keinginannya yang kuat dalam menyebarkan Islam di tempat-tempat yang terpencil sudah selayaknya dijadikan contoh di dalam kehidupan kita. Dalam menyebarkan Islam ataupun memsosialisasikan kabijakan-kebijakan yang sifatnya umum sepatutnya harus menjangkau semua elemen masyarakat, tidak  hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.

Kita ketahui saat ini faktanya, ketika dibuat suatu kebijakan baru bagi masyarakat nyatanya hanya orang-orang di kalangan tertentu saja yang mengetahui perihal kebijakan tersebut, sementara sebagian lainnya mengaku tidak tau menau bahkan belum sama sekali tersentuh sosialisasinya. Seharusnya hal ini tidak terjadi, karena seharusnya kebijakan yang semestinya dibuat untuk masyarakat harus diketahui oleh semua lapisan masyarakat tidak hanya masyarakat tertentu saja.

Adapun, jejak sejarah dari Sunan Muria yang dapat dikunjungi yakni berupa Makam Sunan Muria. Makam Sunan Muria (Syekh R. Umar Said, salah satu dari Walisanga/Wali Sembilan) menyatu dengan Masjid Sunan Muria yang terletak di salah satu puncak Gunung Muria.

Makam Sunan Muria dapat dicapai dengan berjalan kaki melewati sekitar 700 tangga dari pintu gerbang di dekat lokasi parkir mobil atau bus. Makam Sunan Muria adalah salah satu tujuan wisata ziarah di Kota Kudus, selain Makam Sunan Kudus di Masjid Menara Kudus. Makam Sunan Muria sangat ramai dikunjungi peziarah yang berasal dari berbagai daerah, terutama pada saat Upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap tanggal 15 Muharam.

 

Sumber :

Umar Hasyim. 1983. Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda. Kudus: Menara Kudus.

Purwadi & Enis Niken. 2007. Dakwah Wali Songo Penyebar Islam Berbasis Kultural di Jawa. Yogyakarta: Panji Pustaka.

Bintoro, Bimo. 2007. Potensi Makam Sunan Muria Sebagai Tempat Tujuan Wisata Ziarah di Kota Kudus. Universitas Sebelas Maret.

M. Faizi. Kisah Teladan Wali Songo: Sembilan Wali Penyebar Islam di Jawa. Tera Insani. Yogyakarta

   

Fitri Hardianti

Mahasiswi Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung

Alumni Lembaga Studi Mahasiswa Islam (LSMI) Al-Madani Universitas Riau

 

 


Back to Top