#IndahnyaIslam (11)

Tampilkan Wajah Muslim Friendly, Begini Perkembangan Islam di Negeri Sakura

gomuslim.co.id- Jepang merupakan salah satu negara termaju di kawasan Asia. Hampir semua alat transportasi di sejumlah negara merupakan produk dari negara berjuluk Negeri Sakura ini. Begitupun dengan teknologi, Jepang dikenal sebagai negara yang paling banyak melahirkan produk-produk canggih.

Namun begitu, siapa yang menyangka bahwa Islam pun bersemai di negara kepulauan Asia Timur ini. Meski populasi muslim masih menjadi golongan minoritas, tetapi geliat dakwah di Jepang terus bergema hingga sekarang. 

Sejarah Islam Di Jepang

Masuknya Islam ke Jepang sebenarnya sudah cukup lama. Salah satu sumber menyebut sekitar tahun 1877 hampir bersamaan dengan kahadiran agama Nasrani dari barat ke negara tersebut. Lebih tepatnya ketika kekhalifahan Turki Utsmani (Kekaisaran Ottoman) masih ada.

Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Turki di era 1876-1909, mengutus laksamana Uthman Pasha untuk melakukan kunjungan resmi ke Jepang pada tahun 1890. Setelah Uthman Pasha selesai mengadakan pertemuan dengan Kaisar Jepang, dia dan enam ratus anak buahnya bersiap untuk pulang, meskipun saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Belum jauh kapal Al Togrul berlayar, badai besar menghantamnya sehingga menyebabkan lebih dari 550 awak kapal meninggal termasuk sang kapten.

Pihak Jepang pun mengirim dua kapal untuk membawa para korban yang selamat untuk pulang ke Istanbul. Seorang wartawan muda Jepang yang bernama Shotaro Noda (ada yang menyebutnya Torajiro Yamada) juga ikut dalam perjalanan itu. Dia adalah orang yang telah mengumpulkan uang sumbangan dari warga Jepang untuk diberikan kepada keluarga korban yang meninggal.

Setelah sampai di Istanbul dan menyerahkan uang sumbangan, Shotaro sempat bertemu langsung dengan Sultan Abdul Hamid yang kemudian memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang ke para pejabatnya. Tanpa berpikir panjang, Shotaro pun setuju. Selama tinggal di Istanbul, dia berkenalan dengan Abdullah Guillaume, seorang muslim yang berasal dari Liverpool, Inggris. Dia-lah orang yang memperkenalkan Shotaro kepada Islam.

Akhirnya Shotaro-pun memeluk agama Islam dan memilih untuk diberi nama Abdul Halim Noda (ada yang menyebutnya Abdul Khalil), yang diyakini dunia sebagai orang Jepang pertama yang beragama Islam. Pada tahun 1953, muncul sebuah organisasi Islam pertama di Jepang yaitu Japan Muslim Asociation (JMA). Saat itu, organisasi ini dibawah pimpinan Shadiq Imaizumi dengan jumlah anggota 65 orang.

Masa keemasan Islam di Jepang

Setelah Perang Dunia II, perkembangan Islam di Jepang mencapai masa keemasan karena saat itu banyak tentara yang bertugas di negara lain yang memeluk Islam dan kemudian mendirikan organisasi serta menyebarkan agama Islam ke masyarakat luas. Kemudian saat terjadi krisis minyak tahun 1973, karena perhatian Jepang beralih ke negara penghasil minyak yang sebagian besar adalah negara Arab.

Perkembangan Islam di Jepang juga menunjukkan kenaikan setelah peristiwa 11 September 2001, serta setelah perang teluk yang berakhir dengan dikuasainya Irak oleh pasukan Amerika. Saat inilah perkembangan Islam mencapai puncaknya karena hampir tiap hari masjid tidak pernah sepi dari kunjungan orang Jepang yaitu sekitar 50 orang perhari yang ingin berpindah memeluk agama Islam.

Sedangkan menurut data dari Lembaga Kaum Muslimin (LKM) yang berada di Jepang, Tokyo tengah merintis pendirian sekolah Islam pertama di Jepang. Menurut Dr Zakaria Ziyad di negara ini sekitar 10 orang perhari masuk agama Islam.

Populasi Muslim di Jepang

Jepang adalah negara sekuler yang tetap menjamin kebebasan beragama warganya. Jadi keberadaan Islam di Jepang dapat dikatakan terjamin.

Kebanyakan dari umat Muslim yang ada di Jepang adalah para pendatang dengan profesi yang beragam, umumnya pelajar, pekerja bisnis, tenaga kerja magang, serta staff kedutaan beserta keluarganya. Mereka tinggal dan tersebar di berbagai tempat namum umumnya di kota besar seperti Tokyo, Nagoya, Osaka, Hiroshima, Kobe, Hamamatsu atau Hokkaido.

Komposisi terbesar dari penduduk muslim di Jepang adalah warga Indonesia sekitar 20.000. Angka ini sepertinya masuk akal karena berdasarkan dari kedutaan besar Jepang di Jakarta menyebutkan bahwa jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang 23.890 per Desember 2004.

Sekarang ini di Jepang tercatat sekitar 100 ribu Muslim hidup di negara itu yang 90 persennya adalah para pendatang dari Indonesia, Pakistan, Iran dan Bangladesh. Sementara 10 persen sisanya adalah warga pribumi. 

Namun demikian, tidak ada sensus yang bisa dilihat tentang bilangan orang Jepang Muslim di Jepang. Sebagian orang menyatakan bahwa bilangannya hanya dalam beberapa ratus.  

Sensus, angket atau pertanyaan tentang agama yang dilakukan oleh badan resmi negara dipastikan tidak akan pernah ada. Jadi jawaban pasti dari jumlah penduduk muslim di Jepang tidak akan pernah bisa didapatkan. Namun menurut perkiraan atau klaim yang dibuat oleh Islamic Center di negara tersebut menyebutkan angka sebesar 70.000 sampai 200.000 orang.

Masjid di Jepang

Masjid pertama di Jepang adalah masjid Kobe yang dibangun tahun 1935. Masjid Tokyo di bangun pada tahun 1938 dan pada tahun 1990 mengalami renovasi. Masjid memiliki peran besar dalam kehidupan umat Muslim Jepang, mengingat masjid telah memudahkan mereka dalam melaksanakan tugas-tugas agama mereka.

Lembaga-lembaga Islam di Jepang pun dibentuk dengan tujuan perluasan kerjasama di antara warga Muslim Jepang dan juga pengadaan buku-buku agama dan kebudayaan Islam untuk warga Muslim negara ini.

Japan Travel Guide for Muslim Visitor yang disusun Japan Tourism Agency dan Japan National Tourism Organization menyebutkan, tak kurang dari 60 masjid dan tempat ibadah sudah berdiri di seluruh Jepang. Yang paling terkenal Masjid Jamii Tokyo dan Masjid Kobe. Kemudian, ada pula Masjid Sapporo di Hokkaido, Masjid Sendai di Miyagi, Masjid Nagoya di Aichi, Osaka Ibaraki Mosque di Osaka, dan Masjid Fukuoka di Fukuoka.

Masjid di negara ini memiliki beberapa fungsi, selain untuk shalat berjamaah, juga menjadi tempat untuk aktivitas keagamaan, sosial, pertemuan dan bahkan tempat untuk membahas perekonomian. Hanya saja, di negara ini kumandang azan belum diperbolehkan oleh pemerintah karena diangap mengangu kenyamanan dan menimbulkan kebisingan, maka azan hanya dukumandangan dalam ruangan masjid atau mushola saja.

Islam Kini di Jepang

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang terus berbenah menjadi negara yang ramah terhadap wisatawan muslim. Bandara-bandara internasional di Jepang sudah menyediakan fasilitas dan ruang ibadah. Hal ini seiring dengan kenaikan tajam pengunjung dari dunia Islam menyusul kelonggaran dari pemerintah Jepang tentang peraturan untuk mengeluarkan visa pada Juli 2013.

Kota Kyoto juga berencana menjadi kota yang ramah terhadap muslim. Pasca pembebasan visa pada Juli 2013, jumlah pengunjung muslim asal Malaysia ke Jepang meningkat dan mendorong pemerintahan di Kyoto mencari cara untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kyoto memiliki kelompok studi di bawah Asosiasi Muslim Kyoto. Asosiasi yang berdiri sejak tahun 1987 ini mengusahakan agar muslim dapat mengunjungi masjid dan beribadah di dalamnya, menyediakan ruangan dengan petunjuk arah kiblat, juga memberikan informasi terkait tempat-tempat makan halal yang di Kyoto.

Pemerintah juga mulai menyediakan tempat ibadah untuk Muslim di stasiun, bandara, dan ruang-ruang publik. Aspek kenyamanan para wisatawan Muslim menjadi prioritas utama pemerintah. (dbs)

Sumber: Islam in Japan: It's past, present and future. Islamic Centre Japan, 1980.

missionislam.com, islamcenter.or.jp, www.jepang.net/2012/08/sejarah-islam-di-jepang.html

 


Back to Top