#IndahnyaIslam (14)

Telusur Jejak Perkembangan Islam di Negeri Kincir Angin

gomuslim.co.id- Masyarakat Indonesia umumnya pasti kenal dengan negara Belanda. Hal ini karena Indonesia mempunyai catatan sejarah sangat panjang dengan negara berjuluk Negeri Kincir Angin tersebut. Namun siapa sangka, ternyata di negara yang berbatasan dengan Belgia ini, Islam berkembang cukup baik.

Meski tergolong minoritas, populasi muslim di Belanda terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Dakwah Islam pun semakin gencar meski serangan isu Islamofobia kian kencang di Negeri yang juga disebut negeri Bunga Tulip ini.

Sejarah Islam di Belanda

Dalam berbagai catatan, Islam pertama kali masuk ke Belanda terjadi sekitar pertengahan abad ke-20. Ketika itu, terjadi gelombang migrasi yang melibatkan kaum muslim ke negeri Belanda. Beberapa diantaranya datang dari Indonesia sebagai negara jajahan Belanda saat itu.

Mereka berasal dari tentara Maluku dari Hindia Belanda yang berjumlah sekitar seribu orang, yang sebagian kecil orang beragama Islam. Pada awalnya mereka tinggal di penginapan kamp sementara di negara tersebut, tapi setelah beberapa tahun mereka pindah ke rumah-rumah yang lebih permanen dan menetap di sana.

Populasi muslim juga datang dari Suriname, yang juga merupakan jajahan Belanda. Sejak sekitar pertengahan tahun 1960-an terjadi migrasi tenaga kerja dari negara tersebut, yang jumlahnya mencapai 5.500 orang pada tahun 1970. Jumlah ini terus mengalami kenaikan yang puncaknya pada 1975, mencapai 36.000 orang. Hal ini dikaitkan dengan kemerdekaan Suriname pada saat itu.

Selain itu, Islam sangat banyak berdatangan dari Turki dan Maroko, ketika pada 1964 yang dimaksudkan untuk meningkatkan tenaga kerja, Belanda membuat perjanjian bilateral dengan negara-negara Eropa termasuk Turki. Hal ini membuat orang muslim di Belanda semakin bertambah, yang setelahnya Perjanjian tersebut juga banyak diikuti oleh orang-orang non-Eropa seperti Maroko, Afganistan pada tahun 1969.

Bahkan perjanjian bilateral telah ditandatangani oleh pemerintah Belanda dengan Turki tahun 1964, Maroko 1969, dan Tunisia 1970. Arus migrasi dari ketiga negara ini baru berhenti tahun 1974. Kebijaksanaan tersebut tidak menjamin berkurangnya jumlah kedatangan imigran dari luar Belanda. Adanya kebijakan lain yang membolehkan berkumpulnya keluarga, memungkinkan bertambahnya terus jumlah imigran.

Populasi Muslim di Belanda

Berdasarkan statistik tahun 1971, ada sekitar 43 ribu laki-laki muslim dari Turki dan Afrika utara dan perempuannya 5 ribu jiwa. Tahun 1982, terdapat sebanyak 148 ribu orang Turki dan 93 ribu orang Maroko di Belanda. Angka itu meningkat menjadi 176 ribu dan 139 ribu tahun 1989.

Secara keseluruhan, jumlah kaum imigran muslim di negara kerajaan ini telah mencapai 337.900 orang pada tahun 1986. Sementara angka pertambahannya sekitar 5 ribu orang per tahun. Di tahun 1989, jumlah tersebut meningkat pesat hingga 405 ribu orang.

Tercatat pula, adanya warga asli Belanda yang beralih ke agama Islam dan jumlahnya diperkirakan sebanyak tiga ribu orang. Apalagi setelah peristiwa 11 September, jumlahnya semakin meningkat pesat. Imigran muslim yang lain berasal dari India, Pakistan, Yugoslavia, dan negara-negara Arab.

Sementara berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat Islam dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi ketiga (3,7 persen), setelah Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan (22 persen).

Pada akhir tahun 2004, perkiraan jumlah umat Islam di Belanda meningkat sekitar 944.000 Muslim, dan 6.000 diantaranya adalah warga asli Belanda. Hingga pada awal tahun 2010, umat Islam murni dari bangsa Belanda sendiri sudah mencapai angka kurang lebih 12.000 dari jumlah penduduknya yang ada sekitar 15 jutaan lebih.

Hingga saat ini terdapat sekitar 860 ribu muslim yang tinggal di negara kincir angin itu. Dan baru-baru ini didapat berita bahwa agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh penduduk Amsterdam, yaitu 13 persen, disusul oleh Protestan.

Masjid di Belanda

Jumlah Masjid di Belanda sebenarnya cukup banyak. Tercatat sekitar 300 masjid yang ada di negara tersebut. Sebagian lain menyebutkan Setidaknya ada 400-500 tempat ibadah Muslim di Belanda. Dari jumlah tersebut, hampir setengahnya masjid Turki dan sekitar 90 masjid Maroko.

Di Rotterdam misalnya, umat muslim dengan mudah menemukan masjid yang banyak tersebar di seluruh penjuru kota. Namun, banyak masjid yang tidak tampak sebagai masjid, karena bangunannya tampak seperti apartemen yang menyatu dengan rumah-rumah, apartemen, atau kantor di sekelilingnya.

Hanya satu dua masjid saja yang tampak sebagai masjid, seperti adanya menara dan kubah khas masjid. Pendatang baru mungkin akan kesulitan mencari lokasi-lokasi masjid tersebut, meskipun sebenarnya ada dimana-mana.

Masjid-masjid tersebut dikelola oleh warga keturunan Turki, Maroko, Pakistan, Somalia, Boznia atau Indonesia. Uniknya, sebagian masjid di Rotterdam dulunya adalah bangunan bekas gereja yang kemudian beralih fungsi menjadi masjid. Karena itu, banyak bangunan masjid di Rotterdam dari luar tampak seperti bangunan gereja, gedung, atau rumah biasa.

Kebebasan beragama dijamin oleh undang-undang Belanda. Pemerintah Belanda tetap mendukung penuh perkembangan kalangan umat Islam, termasuk pula organisasi keagamaan, lembaga dan kegiatannya dalam rangka kebijakan sosial, budaya, dan pendidikan.

Organisasi Islam di Belanda

Umat Islam di negara Belanda menikmati kehidupan yang sangat dinamis. Selain ditunjang semakin banyaknya populasiya yang semakin banyak, pemerintah Belanda juga memberikan kebebasan beragama. Kegiatan spirotual Islam pun bertumbuh kembang. Tak terkecuali roda organisasi keagamaan yang ada.

Sebagian besar organisasi Islam di Belanda didirikan berdasarkan garis etnis kaumnya. Dari sekian banyak, organisasi muslim Turki-lah yang paling berkembang. Misalnya adalah Turks-Islamtische Culturele Federatie (TIFC) atau federasi kebudayaan Islam Turki yang berdiri tahun 1979, telah dapat menaungi sekitar 78 asosiasi dan organisasi pada tahun 80-an.

TIFC juga erat menjalin hubungan dengan Diyanet yang mengirim sejumlah imam masjid untuk bekerja di Belanda. Adapun komunitas muslim Maroko yang mendirikan organisasi muslim Maroko diantaranya yakni, Amicales des ouvries et commercants (kekawanan buruh dan pedagang), komite para pekerja Maroko di Belanda (Organisaties in Nederland) dan Unie van Marokkaanese Moslim (persatuan organisasi muslim Maroko di Belanda).

Ada sejumlah kecil pengikut tarekat Darqawiyah dan Alawiyah pada komunitas Maroko. Di samping itu, gerakan Tablig yang berpusat di Perancis pun aktif menjalankan syiar dakwah di masjid-masjid komunitas Maroko.

Pada bagian lain, komunitas muslim asal Suriname tergabung dalam organisasi Stichting Weljizn voor Moslims in Nederland (yayasan untuk kesejahteraan kaum muslim di Belanda). Bentuk organisasi ini hampir mirip dengan model organisasi Islam di Asia Selatan. Pusatnya di Masjid Thaibah, Amsterdam dan memayungi sekitar 10 masjid di kota-kota besar.

Satu organisasi lain muslim Suriname lain adalah Jama’at Ahle Soenat Nederland (jamaah ahli sunnah Belanda). Akan tetapi hambatan kerap muncul, begitu pula dalam upaya pengembangan organisasi keagamaan di Belanda ini. Kendala terutama adalah perbedaan di internal umat sendiri. Upaya penyatuan organisasi muslim yang ada kemudian dilaksanakan. Bermula dengan didirikannya Stichting Moslimorganisaties in Nederland atau yayasan organisasi muslim di Belanda. Pada tahun 1980.

Selanjutnya juga berdiri Islamitische Omroepsichting (yayasan penyiaran Islam) yang bertujuan untuk mewujudkan harapan kaum muslim Belanda agar dapat memproduksi siaran agama di media elektronik. Nantinya, siaran tersebut juga diharapkan dapat mewakili komunitas Turki maupun Maroko.

Kiprah anggota federasi yang dibentuk oleh muslim asli Belanda pun terus berlanjut. Mereka memprakarsai berdirinya Moslim Informatie Centrum (pusat informasi muslim) berkantor pusat di Den Haag. Kegiatan organisasi ini antara lain menerbitkan majalah Qiblah.

Pada pekembangan berikutnya, pusat informasi tersebut lebih banyak bergerak ke bidang syiar terutama untuk menjelaskan kepentingan dan harapan komunitas muslim kepada para pejabat pemerintah. Mereka tetap memegang prinsip bahwa kaum Muslim Belanda merupakan bagian integral masyarakat Belanda secara keseluruhan.

Selain itu, ada pula Nederlendse Islamitische Parlement (NIP), yang merupakan organisasi Islam Belanda yang bergerak dalam bidang penggalangan dan penyatuan organisasi-organisasi Islam di Belanda. Kemudian ada juga Federasi Organisatie Muslim Nederland (FOMN). Federasi ini berfungsi untuk mewakili kepentingan umat Islam dalam hubungannya dengan pihak Pemerintahan Belanda.

Sedangkan organisasi yang resmi diakui ada dua yaitu CMO memiliki pengikut lebih dari 500.000, dan CGI memiliki pengikut dari 115.000. Keduanya menerima dana publik dan mengadakan pertemuan secara teratur dengan pejabat pemerintah di mengenai integrasi Muslim di masyarakat Belanda. (njs/dbs)

Sumber:

Kettani, M. Ali., Minoritas muslim di Dunia dewasa ini, (Jakarta: rajawali Press 2005)

suduthistorian


Back to Top