#IndahnyaIslam (18)

Menelisik Perkembangan Islam di Negeri Gajah Putih

gomuslim.co.id- Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara mayoritas muslim besar di kawasan Asia Tenggara. Namun begitu, di negara ASEAN lain yang minoritas, Islam mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Salah satunya di Negara Thailand.

Di Negeri Gajah Putih ini, kita dapat menjumpai banyak penduduk muslim di beberapa provinsi wilayah selatan seperti Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla. Konon, wilayah tersebut dahulunya masuk wilayah kerajaan Pattani Raya pada abad ke-12, sebelum kerajaan Sukhotai berdiri.

Bahkan, di ibukota Thailand, Bangkok, pemeluk agama Islam saat ini menjadi yang terbesar kedua setelah agama Budha. Perhatian pemerintah setempat terhadap muslim cukup baik dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terbukti dengan bergeliatnya pengembangan wisata halal di Thailand.

Sejarah Masuknya Islam di Thailand

Kedatangan Islam di negeri muangthai telah terasa pada masa kerajaan sukhathai di abad ke-13, yang merupakan buah dari hubungan dagang yang dibangun oleh para saudagar muslim. Hal ini bermula pada dua orang bersaudara dari Persia, yaitu Syeikh Ahmad dan Muhammad Syaid yang juga disebut Khaek Chao Sen, menetap di kerajaan tersebut yang terus melakukan perdagangan sekaligus menyebarkan agama Islam.

Sebelum berdirinya kerajaan Ayyuthaya sebagai pengganti kerajaan Shukhotai setelah yang terakhir ini runtih pada abad ke-14, Islam telah memiliki kekuatan politik yang sangat besar. Perdagangan merupakan perintis proses islamisasi dan perkembangan politik kerajaan-kerajaan maritim diwilayah kepulauan di abad ke-15, 16 dan 17. Perdagangan juga pulalah yang merupakan faktor dominan yang mendekatkan Islam dengan kerajaan Ayuthaya.

Ada pula yang menyebutkan Islam masuk ke Thailand sejak pertengahan abad ke-19. Proses masuknya Islam di Thailand dimulai sejak kerajaan Siam mengakuisi kerajaan Pattani Raya (Pattani Darussalam). Pattani berasal dari kata Al-Fattani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik karena di tempat itulah banyak lahir ulama dan cendekiawan muslim terkenal.

Perkembangan Islam di Thailand semakin pesat saat beberapa pekerja muslim dari Malaysia dan Indonesia masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19. Saat itu mereka membantu kerajaan Thailand membangun beberapa kanal dan sistem perairan di Krung Theyp Mahanakhon (Bangkok).

Beberapa keluarga muslim bahkan mampu menggalang dana dan mendirikan masjid sebagai sarana ibadah, sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1949 oleh warga Indonesia dan komunitas muslim asli Thailand. Tanah wakaf masjid ini adalah milik almarhum Haji Saleh, seorang warga Indonesia yang bekerja di Bangkok.

Populasi Muslim di Thailand

Menurut sensus penduduk pada tahun 2000, mayoritas warga Negara Thailand beragama Budha (94,6%), kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik. Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar 7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat.

Secara garis besar, masyarakat muslim Thailand dibedakan menjadi dua, masyarakat muslim imigran (pendatang) yang berlokasi di kota Bangkok dan Chiang Mai (Thailand tengah dan utara), dan masyarakat muslim penduduk asli, yang berada di Pattani (Thailand selatan).

Sementara, berdasarkan penelitian yang ada, umat Islam di Thailand umumnya terdiri atas dua kelompok etnis. Etnis pertama adalah warga Muslim dari etnis Melayu. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Sehari-hari mereka berbahasa Yawi, bahasa asli yang mirip dengan bahasa Melayu.

Muslim di selatan Thailand sangat kental dengan budaya Melayu. Selain karena faktor geografis, juga karena rumpun Melayu yang paling menonjol dalam perjalanan panjang sejarah Muslim Thailand sejak abad ke-13.

Etnis lainnya adalah Muslim Thai keturunan Burma yang merupakan penduduk asli Thailand dan Burma. Mereka umumnya memeluk agama Islam karena hubungan perkawinan. Biasanya dari sisi ekonomi, Muslim Thai lebih mapan. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan utara dan tengah negeri yang secara geografis terletak di wilayah Asia Tenggara ini.

Masjid di Thailand

Menurut Kantor Statistik Nasional Thailand pada tahun 2007, negara ini memiliki 3.494 masjid, dengan jumlah terbesar (636) di provinsi Pattani. Menurut Departemen Agama (RAD), 99 persen dari masjid yang berhubungan dengan Sunni cabang Islam dengan 1 persen sisanya Syiah.

Salah satu masjid yang terkenal adalah masjid Jawa. Masjid ini didirikan oleh komunitas warga muslim Indonesia di Thailand. Sesuai namanya, pendiri masjid ini adalah warga Indonesia suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun demikian, keturunan dari para pendiri masjid ini tetap berbicara dalam bahasa Thai dan Inggris saat menceritakan tentang asal mula berdirinya Masjid Jawa ini.

Masjid Indonesia dan Masjid Jawa hanyalah sebagian dari puluhan masjid lain yang tersebar di seluruh penjuru Bangkok. Pemerintah juga membolehkan warga muslim Thailand menyelenggarakan pendidikan Islam. Kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh umat Islam untuk mengembangkan pendidikan Islam di sana. Proses pendidikan Islam di Thailand sudah mengalami perkembangan dan kemajuan.

Hal itu bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh beberapa lembaga Islam, seperti pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu, TPA/TKA dan kajian mingguan mahasiswa. Masyarakat dan pelajar muslim Indonesia juga mengadakan silaturrahim bulanan dalam forum pengajian NgajiKhun, yang dilaksanakan di berbagai wilayah di Thailand.

Pemerintah Thailand juga membantu penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Thai, serta membolehkan warga muslim mendirikan masjid dan sekolah muslim. Kurang lebih tercatat lebih dari 2000 masjid dan 200 sekolah muslim di Thailand. Umat Islam di Thailand bebas mengadakan pendidikan dan acara-acara keagamaan.

Dukungan Kerajaan Thailand terhadap Islam

Kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam para penduduknya. Tanggungjawab urusan mengenai agama Islam di Thailand diemban oleh seorang mufti yang mendapat gelar Syaikhul Islam (Chularajmontree).

Mufti ini berada di bawah kementerian dalam negeri dan juga kementerian pendidikan dan bertanggungjawab kepada raja. Mufti bertugas untuk mengatur kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan muslim, seperti penentuan awal dan akhir bulan hijriyah.

Mufti membawahi dewan propinsial Islam yang beranggotakan 26 orang dari tiap propinsi. Dan dewan tersebut membawahi sekitar 3494 masjid yang ada di Thailand. Pusat dari kegiatan tersebut berada di Bangkok, yaitu Islamic Center yang terletak di daerah Ramkhamhaeng. Selain itu, di setiap Universitas biasanya terdapat Muslim Student Club. Biasanya kelompok tersebut mendapat tempat khusus yang juga dapat digunakan untuk melaksanakan shalat.

Makanan Halal

Makanan halal merupakan hal yang mudah didapatkan di Thailand. Apalagi saat ini pemerintah setempat gencar melakukan promosi wisata halal kepada turis muslim mancanegara. Di beberapa pasar pun biasanya ada penjual daging halal yang disembelih secara syar’i.

Kemudian, jika ingin makan di warung halal, cukup mencari masjid yang terdekat. Biasanya di dekat masjid ada perkampungan muslim dan juga penjual makanan halal. Di mall-mall sekalipun biasanya ada rumah makan halal.

Salah satu hal yang membuat muslim di Thailand merasa aman akan ketersediaan makanan halal adalah adanya badan sertifikasi halal yang sangat kuat. Dengan mengakses www.halal.or.th, kita sudah dapat menemukan list produk dan restoran halal yang ada di Thailand.

Bahkan produk-produk kemasan yang ada di supermarket pun sudah banyak yang bersertifikat halal yang dikeluarkan oleh badan tersebut. Sehingga muslim di Thailand dapat dengan leluasa memilih mana yang bisa dimakan dan tidak.

Sumber: muslimdigest, wartasejarah, halalscience, Ensiklopedi Islam jilid 5 (Hasan Muarif)

 


Back to Top