#IndahnyaIslam (19)

Telusur Perkembangan Islam di Bosnia dan Herzegovina

gomuslim.co.id- Islam di sejumlah negara Eropa memang dikenal sebagai minoritas, kecuali di Turki dan Albania. Namun, selain kedua negara tersebut, umat Islam mayoritas juga bisa kita temukan di negara Bosnia dan Herzegovina.

Negara yang terbentuk dari pecahan Republik Federasi Sosialis Yugoslavia ini memiliki sejarah Islam yang cukup panjang. Masa-masa kelam pernah terjadi di negara kecil Semenanjung Balkan, Eropa bagian  Tenggara ini. Meski begitu, Islam terus tumbuh dan mengalami perkembangan.

Sejarah Masuknya Islam ke Bosnia-Herzegovina

Luas wilayah Bosnia-Herzegovina sebenarnya hanya 51.233 km persegi (sedikit lebih luas dari Propinsi Jawa Timur).  Islam  masuk  ke  kawasan  Balkan  (termasuk  Bosnia)  sekitar  tahun  1389, ketika wilayah Balkan ada di bawah kekuasaan Turki Utsmani antara abad XII hingga akhir abad XIX.

Islam pertama kali diperkenalkan di Balkan oleh Sultan Mehmed Sang Penakluk dari Kekaisaran Ottoman pada pertengahan abad 15. Sebagian besar Bosnia berhasil dikuasai Ottoman pada 1463. Sedangkan Herzegovina berhasil ditaklukkan pada 1480an.

Satu abad kemudian banyak suku Slavic memeluk Islam di bawah kepemimpinan Ottoman. Pada awal 1600an, diperkirakan dua pertiga dari populasi Bosnia adalah Muslim. Bosnia dan Herzegovina tetap menjadi  provinsi di Kekaisaran Ottoman dan memperoleh otonomi setelah pemberontakan Bosnia pada 1831. Setelah 1878, muncul Kongres Berlin di bawah kendali sementara Austria-Hongaria.

Pada 1908, Austria-Hungaria secara resmi menganeksasi wilayah itu. Bosnia dan Albania, adalah satu-satunya bagian dari Kekaisaran Ottoman di Balkan di mana sejumlah besar orang masuk Islam, dan tinggal di sana setelah kemerdekaan.

Bosnia dan Herzegovina pada 1992-1995 merupakan masa kelam bagi Muslim. Mereka mengalami pembersihan etnis yang dilakukan Serbia dan Kroasia. Di seluruh Bosnia, masjid secara sistematis dihancurkan oleh angkatan bersenjata Serbia dan Kroasia.

Di antara kerugian yang paling penting adalah dua masjid di Banja Luka, yakni Masjid Arnaudija dan Ferhadija yang berada dalam daftar monumen budaya dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) PBB.

Populasi Muslim di Bosnia-Herzegovina

Islam merupakan agama mayoritas di Bosnia. Sebagian besar Muslim di Bosnia berpaham Sunni. Pada tahun Juli 2009 populasi total penduduk Bosnia Herzegovina sebesar 4,6 juta. Jumlah Populasi Muslim terdapat sekitar 2,07 juta (45%). Sedangkan lainya Serbia Ortodoks 36%, Katolik Roma 15%, dan kelompok lainnya 4% (termasuk Yahudi dan Protestan.

Dari segi etnis yang mendiami daerah ini diperkirakan pada tahun 2000 yaitu Bosniak 48 % (90% penganut Islam), Serbia 37,1% (sekitar 99% pengikut gereja Ortodoks Serbia), Kroasia 14,3% (sekitar 88% pengikut Katolik), dan lainya 0,6%. Kaum Muslim banyak terdapat di daerah  Sarajevo, Tuzla, Banja Luka.

Secara umum, umat Islam adalah kelompok dominan di sebagian besar pusat kota dikembangkan negara. Kelompok minoritas kecil lainnya yang merupakan Muslim selain orang asli Bosnia di Bosnia dan Herzegovina adalah orang Albania, orang Rom, dan orang Turki.

Bosnia Herzegovina kini masih dalam tahap penyembuhan dari perang antar etnis berdarah 1992-1995. Sekitar 250 ribu orang terbunuh akibat konflik antara Muslim Bosnia, Kroasia, dan Serbia. Hampir 8.000 Muslim terbunuh oleh Serbia di Srebrenica kekerasan terburuk di Eropa terhitung sejak Perang Dunia ke-II.

Banyak Muslim mengungsi, sebagaimana komunitas lain. Pasukan perdamaian tetap ditempatkan di negara tersebut, yang bertugas cukup lama menjaga perbatasan barat dari komunitas Islam di Eropa.

Kebebasan Beragama dan Pendidikan Islam

Meski mayoritas muslim, namun Konstitusi Negara Bosnia-Herzegovina menjamin hak-hak kebebasan beragama bagi masyarakatnya. Dulu, melihat simbol agama merupakan hal langka di jalanan. Sekarang, sebagian besar perempuan Bosnia mengenakan hijab. Bahkan, Wali Kota Visoko, Amra Babic adalah seorang muslimah yang mengenakan hijab.

Ia adalah wali kota satu-satunya yang mengenakan hijab di seluruh Eropa. Usai perang, banyak Muslim Bosnia yang menerapkan nilai-nilai Islam secara moderat. Sayangnya, masih terdapat diskriminasi dalam dunia kerja bagi muslimah yang mengenakan jilbab. Kebanyakan Muslim Bosnia mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari Eropa.

Sejak awal, Islam di Bosnia adalah Islam yang institusional memiliki ulama dan sekolah agama. Pada 1600, sebanyak dua per tiga penduduk Bosnia adalah Muslim. Mereka mendapat otonomi setelah pemberontakan Bosnia pada 1831.

Setelah Kongres Berlin, kekuasaan Ottoman di kawasan ini berakhir pada 1878 dan beralih di bawah Kekaisaran Austria-Hongaria, umat Islam membantu dalam membangun pusat Insitusi Islam Mashikha Islamiyya.

Selain itu, umat Islam saat itu juga membangun kembali sekolah agama dan fakultas Islam dengan menerapkan disiplin ilmu tradisional dan ilmu pengetahuan modern. Ketika itu ulama Bosnia juga telah mempraktikkan tasawuf dasar. Umat Islam telah lama belajar dengan buku-buku yang ditulis oleh ulama dan memiliki masjid sebagai pusat belajar.

Kebangkitan Islam di Bosnia

Tragedi pembersihan etnis yang dilakukan Serbia dan Krosia terhadap muslim Bosnia menyimpan luka mendalam. Namun, setelah itu upaya-upaya perbaikan terus dilakukan pemerintah dan negara-negara Islam pendukung. Masjid-masjid yang hancur pun kembali dibangun.

Arab Saudi membangun masjid terbesar, yakni King Fahd Mosque pada 2000 dan Islamic Center di Ibukota Sarajevo. Arab Saudi juga membantu membiayai pembangunan perpustakaan universitas. Negara-negara, seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab memberi bantuan dan investasi.

Selain itu, untuk memulihkan kondisi ekonomi, Bosnia masih harus mengandalkan bantuan luar negeri. Antara lain dari Bank Pembangunan Islam (IDB) yang pada September 2000 mendirikan Bank Internasional Bosnia.

Bank tersebut dibentuk dengan modal dasar sebesar 300 juta dolar AS dengan modal disetor sebesar 60 juta dolar AS. Modal tersebut antara lain berasal dari IDB serta bank Islam lainnya sebagai pendiri seperti Bank Islam Abu Dhabi, Bank Islam Dubai, Bank Islam Bahrain serta dari investor swasta muslim lainnya.

Tantangan Ke depan

Muslim di Bosnia Herzegovina memang belum bisa lepas dari marginalisasi. Namun masyarakat muslim mulai berubah menatap kedepan. Walaupun tidak di pungkiri pertentangan antar agama masih terjadi. Keberagamaan mulai meningkat di Bosnia, khususnya di Sarajevo.

Pemimpin ulama Muslim Bosnia, Mustafa Cheric menyerukan diterapkannnya hukum syariah (hukum keluarga) di Bosnia. Mustafa Hadidich mengatakan Muslim Bosnia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi jembatan antara Timur dan Barat, perantara Islam menuju Eropa. Karena di Sarajevo ada masjid berdampingan dengan gereja dan sinagog.

Sumber:

Nurcholis Majid. Ensiklopedi Islam. PT Ichtiar Van Hoeve. Jakarta. 2005.

Abdul Halim. Negeri-Negeri Muslim Yang Terjajah.Bogor. 2004.

Islam Digest


Back to Top