#IndahnyaIslam (20)

Menelisik Perkembangan Dakwah Islam di Denmark 

gomuslim.co.id- Membahas perkembangan Islam di Benua Eropa memang selalu menarik. Ada banyak hal yang bisa kita ambil hikmah dari perjuangan umat Islam dalam mensyiarkan Islam di Benua Biru tersebut. Mereka tanpa lelah mendakwahkan Islam ditengah arus Islamophobia yang terus melanda. Salah satunya seperti di Negara Denmark.

Di Denmark, Islam memang agama yang minoritas. Beberapa sumber menyebutkan hanya ada 2 sampai 5 persen penduduk muslim di negara tersebut. Hinaan, cacian sampai penistaan terhadap Islam pun kerap terjadi di kalangan masyarakat di sana. Namun begitu, Islam justru semakin berkembang karena banyak masyarakat yang penasaran dengan Islam.

Sejarah Masuknya Islam di Denmark

Belum ada data yang  begitu lengkap mengenai kapan dan bagaimana Islam pertama kali masuk ke negara ini. Meski demikian, perkembangan Islam di Denmark sendiri tidak lepas dari sejarah Denmark. Sekitar 1536 Denmark menetapkan UU yang memberi kebebasan bagi warganya untuk memeluk agama yang mereka yakini.

Adanya UU tersebut membuat banyak masyarakat yang pindah dari Katolik-Roma ke Protestan Lutheran. Sampai-sampai, pada tahun 1849, Protestan telah menjadi agama resmi di Denmark.

Denmark dan Negara Eropa lainnya menjadi tempat datangnya para Imigran. Lama kelamaan kaum imigran ini mulai bertambah banyak dan bersamaan engan hal ini agama-agama minoritas pun mulai berkembang seperti Islam, Katolik, Hindu, Budha, Yahudi.

Islam menduduki urutan kedua setelah Katolik diantara agama minoritas tersebut. Saat itu diperkirakan penganut agama Islam sekita 100 ribu jiwa. Gelombang kedua imigran terjadi pada sekitar tahun 1980an. Mereka sebagian besar berasal dari Palestina, Iran, Irak, Somalia, Bosnia, dan Afganistan.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas imigrannya adalah kaum Muslim. Jadi Muslim Denmark berasal dari berbagai macam etnis.

Populasi Muslim di Denmark

Penduduk Islam di Denmark terdiri dari kira-kira 2 persen sampai 5 persen dari jumlah penduduk Denmark. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 260.000 Muslim di Denmark dan Islam adalah agama minoritas terbesar di Denmark yang berasal dari kalangan Sunni.

Awal kebangkitan Islam di Negara tersebut adalah pada tahun 1970-an Muslim tiba dari Turki, Pakistan, Maroko dan bekas Yugoslavia untuk bekerja. Selanjutnya, pada tahun 1980-an dan 90-an mayoritas pendatang Muslim merupakan pengungsi dan pencari suaka dari Iran, Irak, Somalia, dan Bosnia. Menurut Euro-Islam, diperkirakan etnis asli Denmark yang telah memeluk Islam mencapai 2.800 orang dan sekitar tujuh puluh orang etnis asli Denmark yang menjadi mualaf setiap tahun dan hali ini merupakan sebuah sinyal kebangkitan umat Islam di Denmark.

Pertumbuhan Mualaf di Ibukota

Secara nasional, Kopenhagen menjadi kawasan yang paling pesat dalam perkembangan Islam. Dalam sebuah studi Open Society Foundation juga mengungkapkan, integrasi Muslim sebagai kelompok minoritas lebih baik di Kota Kopenhagen dibanding secara nasional Denmark. Pada hal pencitraan media, misalnya.

Studi tersebut menyebutkan media nasional bersikap negatif pada Islam, namun media lokal Kopenhagen justru amat adil dalam mengabarkan Islam. Kopenhagen juga termasuk satu dari sebelas kota Eropa yang membentuk komunitas Muslim dengan hidup baik.

“Kota ini telah mengadopsi keragaman yang komprehensif serta kebijakan inklusi dalam menanggapi kebutuhan dan keprihatinan penduduknya, di samping undang-undang integrasi di tingkat nasional. Sementara, pelajaran penting yang dapat dipelajari dari Kopenhagen, ada ruang untuk belajar dari kota-kota Eropa lain dan melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengelola populasi yang semakin beragam,” tulis laporan hasil studi tersebut dalam web resmi Open Society Foundation.

Adapun jumlah Muslimin di Kopenhagen tak terdata jelas. Pasalnya, Denmark menerapkan aturan tak adanya legitimasi agama dalam identitas warga negara. Namun, berdasarkan PEW FORUM, jumlah Muslimin Denmark hanya sekitar 88 ribu jiwa.

Sedangkan, menurut Copenhagen Post yaitu 180 ribu Muslim tinggal di Denmark. Pun, berdasarkan data dari departemen imigrasi yang menyebutkan bahwa Muslimin di Denmark berkisar 175 ribu hingga 200 ribu jiwa atau sekitar 3,7 persen dari total penduduk. Sebagian besar jumlah tersebut merupakan imigran. Dan, hampir setengah di antaranya tinggal di Kopenhagen.

Muslimin di Kopenhagen dapat hidup dengan nyaman. Dakwah Islam menggeliat di kota metropolitan tersebut. Survei terakhir bahkan menyebutkan, setiap harinya terdapat tiga orang memeluk Islam. Hal tersebut berkat giatnya Muslimin Kopenhagen dalam berdakwah. Organisasi Islam pun banyak berdiri di sana menaungi Muslimin sebagai warga minoritas. Tak sedikit pula Muslimin yang berkecimpung di dunia politik menjadi pejabat pemerintahan.

Dalam hal pendidikan, Kopenhagen memberikan hak pendidikan agama dalam kurikulum sekolah. Bahkan, dari 15 sekolah Islam di Denmark, setengah di antaranya berada di Kopenhagen. Sekolah tersebut pun mendapat bantuan dana dari negara. Sekolah Islam terbesar, Sekolah Islam Privatskole, juga ada di kota terpadat Denmark tersebut. Berada di Distrik Norrebro, sekolah ini dapat menampung hingga 410 siswa.

Puasa dan Hari Raya

Muslimin Kopenhagen terkenal sangat bersemangat menjalankan ibadah. Dalam melaksanakan puasa Ramadhan, mereka mampu menjalankannya hingga 21 jam. Inilah waktu puasa terlama dibanding negara dunia lain. Lamanya siang hari tersebut disebabkan suhu tinggi yang terjadi di negara-negara Teluk hingga mencapai 50 derajat.

Sebenarnya, mereka mengetahui betul bahwa telah ada fatwa dari al-Azhar yang menyarankan negara dengan jam matahari yang lama dapat mengadopsi jam puasa negara tetangga. Namun, menurut Hussein Ghiwan dari Pusat Kebudayaan Islam Kopenhagen, Muslimin Kopenhagen sepakat untuk berpuasa dari terbit matahari hingga terbenamnya meski mengharuskan mereka berpuasa selama 21 jam.

Pada Idul Fitri beberapa tahun lalu, shalat Id yang digelar di Kopenhagen dikunjugi sekitar 25 ribu Muslimin. Angka ini sangat banyak, mengingat jumlah Muslimin Denmark yang sangat minim. Pasalnya, shalat Id tersebut juga dihadiri Muslimin dari Jerman, Swedia, dan Jyland.

Harapan Setitik Cahaya

Tidak selamanya kebijakan pemerintah Denmark yang diterapkan bagi kaum muslim semuanya bisa dikata bersifat negatif. Sebab, ada juga sebuah keputusan penting dibuat otoritas pendidikan Denmark yang ternyata menyetujui program pemberian pelajaran agama Islam, khususnya Alquran, pada tahun ajaran 2004/2005 di sekolah-sekolah menengah pertama yang ada di negara itu.

Keputusan pemerintah Denmark untuk memasukkan mata pelajaran Al-Quran dan bahasa Arab di sekolah-sekolah, mengikuti langkah yang sudah dijalankan oleh negara-negara Skandinavia. Swedia misalnya, sudah memasukkan mata pelajaran agama Islam di sekolah selama bertahun-tahun. Begitu juga halnya dengan Norwegia dan Finlandia, kaum orientalis di kedua negara itu ditugaskan untuk memberikan penjelasan tentang Islam dan budaya Arab

Dengan diterapkannya aturan itu, Denmark akan menjadi negara kedua di kawasan Skandinavia, setelah Swedia yang memberikan pelajaran al-Quran di sekolah. Adapun di Norwegia dan Finlandia, para siswa yang berminat juga diperbolehkan untuk mengikuti kelas sejarah dan peradaban Islam-Arab.

Ketika mengumumkan kebijakan tersebut tanggal 19 September 2004, Ulla Toernaes, juru bicara Departemen Pendidikan, mengharapkan agar pelajaran Alquran nantinya dapat membantu masyarakat Denmark lebih mengenal Islam.

Islam kini merupakan agama kedua terbesar di Denmark. Jumlah umat muslim diperkirakan mencapai 200 ribu jiwa dari total populasi sebesar 5,3 juta jiwa. Komunitas muslim yang berada di Eropa Barat segera “menyambut baik” inisiatif dari pemerintahan Denmark itu.

Sebelumnya, pemerintah Denmark menggulirkan rencana untuk memberikan program pendidikan tambahan berupa pelajaran bahasa Arab dan agama Islam di sekolah-sekolah negeri.

Warga muslim di negara-negara Eropa Barat menyambut baik kebijakan pemerintah Denmark, yang dinilai sebagai langkah yang tepat dalam komunitas yang multi etnis. Satu-satunya yang menentang kebijakan pemerintah Denmark adalah kelompok sayap kanan partai sosialis yang dikenal anti Islam.

Ketika 'gelagat' bakal disahkannya keputusan pengajaran Islam di sekolah mulai terbaca, koran-koran anti-Islam sudah mulai membuat tulisan miring. Belum lama ini, dua orang politisi Denmark mengaku terganggu dengan sebuah tulisan yang menyoroti masalah seputar proses integrasi umat muslim yang tengah berlangsung di negara mereka.

Fakta di lapangan menunjukkan, jumlah umat Islam di Denmark makin meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa makin banyak orang Swedia yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam. Pemberian pengajaran Alquran di sekolah, sekaligus sebagai niat baik dari pemerintah Denmark untuk mengakomodasi komunitas muslim di negara itu. (njs/dbs)

Sumber:

Islam Digest, mozaik Islam, Academia 


Back to Top