#AlqurandanSains (5)

Alquran Ungkap Fakta Sidik Jari Sebagai Tanda Pengenal Unik Manusia

gomuslim.co.id- Jika kita mengkaji isi kandungan Alquran, maka akan semakin banyak terungkap kebenaran. Alquran memang tidak menjelaskan secara rinci tentang fakta-fakta ilmiah atau fenomena alam, tetapi di dalamnya disebutkan tanda-tanda agar manusia bisa meneliti lebih dalam. Salah satu hal yang menarik adalah tentang sidik jari manusia.

Pada abad modern ini, penggunaan sidik jari sudah sangat lazim dilakukan. Seorang pegawai negeri sipil (PNS) misalnya, sebagai bukti kehadiran kerja, mereka harus menempelkan jari tangannya melalui sistem fingerprint. Bahkan, untuk keamanan smartphone setiap orang juga sudah bisa menggunakan sidik jari.

Mengapa demikian? karena sidik jari setiap manusia berbeda-beda. Termasuk bagi mereka yang terlahir kembar identik, pasti memiliki pola sidik jari yang khas, unik dan berbeda satu sama lain. Maka tidaklah heran jika sidik jadi menjadi tanda pengenal manusia untuk membedakan seseorang dengan orang lainnya.

Tentang Sidik Jari

Coba kita perhatikan dengan teliti ujung jemari tangan kita. Di sana kita akan melihat tiga jenis garis, yaitu garis melengkung, garis melingkar dan garis meliuk-liuk atau garis kompleks karena terdiri dari beragam bentuk garis.

Dari garis-garis tersebut akan terbentuk suatu pola yang unik dan khusus di setiap jari manusia, mencerminkan identitas diri dan kepribadian masing-masing orang. Bentuk sidik jari tetap dan tidak akan berubah sepanjang pemiliknya masih hidup.

Bentuk sidik jari (fingerprint) dikelompokan menjadi tiga kategori yakni whorls, loop, dan arch. Semua orang memiliki pola guratan sidik jari berdasarkan ke dalam tiga kelompok tersebut.

Whorls lazimnya berbentuk spiral atau memutar. Pola guratan ini dapat dilihat dengan jelas disebabkan bentuknya yang menonjol dan kontras. Sedangkan arch memiliki bentuk pola agak datar. Arch juga mempunyai bentuk pola garis-garis yang umumnya agak menonjol (bergelombang ke atas).

Sedangkan pola sidik jari yang terakhir, loop, memiliki bentuk yang hampir mirip dengan spiral namun tidak melingkar secara utuh. Website Softpedia menyebutkan, ada bentuk yang secara general hampir mirip antara satu orang dan orang lainnya, namun bentuk rinciannya dapat dipastikan berbeda.

Faktor lingkungan juga turut berpengaruh dalam memberi bentuk pola pada sidik jari seseorang. Faktor lingkungan yang dimaksud antara lain, posisi janin di dalam rahim dan kepadatan cairan ketuban yang mengelilinginya.

Penemuan Sidik Jari dan Hadirnya Ilmu Daktiloskopi

Sidik jari berperan penting dalam proses mengidentifikasi data diri seseorang. Saking pentingnya, ada ilmu khusus untuk memperlajari tentang sidik jari dengan bernama Daktiloskopi.

Keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19 M. Pertama kali yang memperkenalkan sidik jari ini adalah Johann Christoph Andreas Mayer (1747-1801) pada tahun 1788, seorang ahli anatomi Jerman. Pernyataan ini diteruskan oleh Sir William James Herschel pada tahun 1858. Namun keduanya hanya membahas tentang keunikan sidik jari dan tidak mengkaji sidik jari sebagai identitas.

Kajian bahwa sidik jari bisa dijadikan untuk mengidentifikasi seseorang dilakukan oleh Sir Francis Golt pada tahun 1880. Menurutnya, setiap sidik jari manusia berbeda dan tidak ada yang sama. Setelah kajiannya, teknologi di dunia mengalami perkembangan termasuk teknologi untuk mengkaji sidik jari.

Akhirnya sekitar tahun 1960-an muncullah berbagai alat teknologi sidik jari dengan sistem analisa elektronik. Alat ini digunakan pertama kali oleh Federal Bureau Investigation (FBI) di Amerika Serikat. FBI menggunakannya untuk proses identifikasi kasus-kasus yang mereka kerjakan. Dengan alat ini FBI dengan mudah menemukan data diri seseorang, bahkan bisa untuk menemukan pelaku kejahatan.

Setelah itu, sidik jari tidak saja digunakan sebagai alat untuk mengungkap kriminalitas, tapi juga mulai memasuki ranah yang lain, seperti untuk mesin absensi, teknologi akses kontrol pintu, finger print data secure, aplikasi retail, sistem payment dan masih banyak lagi. Seiring dengan itu, muncullah disiplin ilmu yang mempelajari sidik jari, yaitu Daktiloskopi.

Daktiloskopi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dactylos yang berarti jari jemari atau garis jari, dan scopein yang artinya mengamati atau meneliti. Kemudian dari pengertian itu timbul istilah dalam bahasa Inggris, dactyloscopy yang kita kenal menjadi ilmu sidik jari.

Sifat dan Karakteristik Sidik Jari

Ada beberapa sifat dan karakteristik dari sidik jari. Pertama, parennial nature, yaitu adanya guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada manusia yang bersifat seumur hidup. Karena itu, pola sidik jari relatif mudah diklasifikasikan. Dalam sidik jari, ada pola-pola yang dapat diklasifikasikan sehingga untuk berbagai keperluan, misalnya pengukuran, mudah dilakukan.

Kedua, immutability, yang berarti bahwa sidik jari seseorang tak akan pernah berubah. Sidik jari bersifat permanen, tidak pernah berubah sepanjang hayat. Sejak lahir, dewasa, hingga akhir hayat, pola sidik jari seseorang bersifat tetap kecuali sebuah kondisi yaitu terjadi kecelakaan yang serius sehingga mengubah pola sidik jari yang ada.  Hal ini berbeda dengan anggota tubuh lain yang senantiasa berubah, seperti bentuk wajah yang berubah seiring usia.

Ketiga, individuality, yang berarti keunikan sidik jari merupakan originalitas pemiliknya yang tak mungkin sama dengan siapapun di muka bumi ini sekali pun pada seorang yang kembar identik. Dengan kata lain, sidik jari bersifat spesifik untuk setiap orang.

Kemungkinan pola sidik jari sama adalah 1:64.000.000.000, jadi tentunya hampir mustahil ditemukan pola sidik jari sama antara dua orang. Pola sidik jari di setiap tangan seseorang juga akan berbeda-beda. Pola sidik jari di ibu jari akan berbeda dengan pola sidik jari di telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking.

Dengan tiga sifat dan karakter di atas, maka pantas jika sidik jari dijadikan sebagai alat pembeda identitas. Dan selama ini, cara ini sangat ampuh dalam mengungkap berbagai kriminalitas di berbagai belahan dunia dan berbagai kebutuhan lainnya.

Harun Yahya menyebutkan, sistem pengkodean dalam sidik jari dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang umum digunakan saat ini. Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus.

Sidik Jadi dalam Alquran

Jauh sebelum penggunaan sidik jari ini dilakukan, Alquran yang turun pada abad ke-7 Masehi lebih dulu menjelaskan bahwa sidik jari merupakan bagian penting sebagai tanda pengenal seseorang. Hal ini tertuang dalam dalam surat Al-Qiyamah ayat 3-4:

"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna."

Ayat tersebut menyebutkan begitu mudahnya bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya. Pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus pun ditekankan dalam ayat ini.

Ayat ini sekaligus menjadi bukti kebenaran Alquran mencakup ilmu pengetahuan sepanjang masa. Alquran adalah bukti tertulis otentik yang bisa dijadikan sebagai rujukan ilmiah dalam mengupas masalah teknologi di zaman sekarang. Semoga bisa menambah keimanan kita semua. Aamiin.

Wallahua’lam bishawab

Sumber : Harun Yahya, ‘Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah’, Tafsir Ilmi 'Penciptaan Manusia dalam perspektif Alquran dan Sains', Infoyunik

 


Back to Top