Komunitas Pejuang Subuh

@PejuangSubuh Bidik Anak Muda Sholat Berjamaah

Sholat Shubuh Berjama’ah Seramai Sholat Jumat. Itulah yang menjadi motto dari sebuah perkumpulan muslim dan muslimah dari berbagai kalangan ini. Mereka bersinergi untuk saling memotivasi, mengingatkan, dan melakukan kegiatan bersama untuk berdakwah melalui seruan sholah subuh berjamaah di Masjid. Kendati, sholat Subuh adalah salah satu sholat yang sulit dilakukan beberapa orang yang susah bangun pagi. Karenanya, kehadiran komunitas ini mendapat banyak sambutan positif oleh masyarakat di Indonesia. Padahal, pembentukan komunitas ini hanya berawal dari sebuah akun  di media sosial, tapi bisa menggerakaan banyak orang untuk berdakwah bersama.

Adalah @PejuangSubuh, sebuah akun twitter yang pertama kali menyisipkan provokasi tentang gerakan sholat subuh berjamaah di Masjid. Mereka ingin, anak-anak muda juga aktif sholat lima waktu di Masjid, khususnya untuk sholat subuh. Karena, lebih sering sholat Subuh di Masjid hanya berisi jamaah yang sudah tua. Intinya, mereka mau mengajak masyarakat muslim Indonesia untuk bersama menjadikan sholat subuh seramai Sholat Jumat berjamaah. Selain itu, komunitas Pejuang Subuh juga bertujuan ingin membangunkan ikhwan dan akhwat untuk melaksanakan shalat subuh, mencetak mujahid dan mujahiddah subuh, memelihara dan menjaga semangat mujahid dan mujahiddah untuk umat

Akun @pejuangsubuh digerakkan tiga sekawan, yaitu Arisakti Prihatwono, Hadi E. Halim, dan Iman Rivani. Tiga anak muda itu punya obsesi yang sama, yaitu ingin membuat salat Subuh seramai salat Jumat.Ide awalnya datang dari Hadi E. Halim yang akrab disapa Didot. Dia mengaku sering keheranan karena jamaah salat Subuh selalu hanya diisi bapak-bapak yang sudah lanjut usia dan sangat jarang anggota jamaah salat Subuh yang masih muda.

Didot mengatakan awalnya dia  gemas dan malu melihat jamaah Subuh di masjid diisi orang  tua semua. Akhirnya, dia  mengajak  Iman untuk bantu membangunkannya untuk Salat Subuh on time di masjid.

Dibantu Iman Rivani, pada pertengahan 2012, pria kelahiran 1 Februari 1978 itu pun berhasil menjalankan salat Subuh berjamaah di masjid selama 40 hari berturut-turut tanpa putus. Didot merasa termotivasi untuk rajin salat Subuh tepat waktu setelah membaca buku How To Master Your Habits karya Ustad Felix Siauw.

”Awalnya memang susah, tapi habis baca bukunya Ustad Felix Siauw, jadi paham saja kalau susah bangun itu cuma soal kebiasaan saja,” katanya.

Begitu juga dengan Iman. Sebelumnya ia merasa terpaksa Sholat Subuh berjamaah, karena sellau diteror abahnya ikut ke masjid bersama. Tapi, akhirnya dia sadar, dengan Sholat Subuh dia bisa memiliki semnagat hidup dan jadwal menjadi teratur. Setelah berhasil menjadi mujahid subuh, Iman pun mulai membantu Didot untuk menjalankan amalan yang sama. Kemudian, keduanya mengajak rekan mereka, Arisakti Prihatwono atau yang akrab dipanggil Rico, untuk ikut menjalankan ibadah yang sama.

”Nah, setelah kami bertiga bisa salat Subuh berjamaah secara konsisten, baru tercetus ide untuk membikin akun yang tujuannya menyemangati dan membantu anak-anak muda untuk bisa salat Subuh berjamaah di masjid,” jelas Iman.

Ketika ditanya alasan membuat akun di twitter, Didot mengatakan  anak muda zaman sekarang sangat dekat dengan media sosial. Karena itu, mereka lalu meluncurkan akun @pejuangsubuh pada 1 Agustus 2012. Mereka rutin mem-posting kegiatan salat Subuh berjamaah mereka pada waktu subuh. Tujuannya, menyemangati serta memotivasi anak-anak muda muslim lainnya untuk tidak melewatkan salat Subuh. Tak disangka, ternyata responsnya luar biasa. Sejak 2012 hingga sekarang, jumlah follower akun @pejuangsubuh sudah mencapai 183.000 orang.

Rico melanjutkan, bisa dibilang akun @pejuangsubuh adalah akun yang paling ramai pada waktu subuh. Bahkan, selalu menjadi trending topic. Orang-orang yang menjalankan salat Subuh saling melaporkan kegiatan sholat subuh mereka  melalui Twitter.

”Mereka pas subuhan mention ke kita, nanti kita retweet. Sepertinya kalau jam subuh, tweet-tweet kita yang paling ditunggu orang,” kata Rico.

Rico memaparkan, para Pejuang Subuh yang sudah berhasil menjadi mujahid subuh punya tugas sukarela untuk membantu membangunkan teman-temannya untuk salat Subuh. Biasanya satu orang melakukan mentoring terhadap lima orang atau lebih. Menurut pria asal Semarang tersebut, tidak sedikit follower akun @pejuangsubuh yang minta dibangunkan saat subuh. Metode untuk membangun habit salat Subuh tersebut beberapa macam.

”Ada yang minta dibangunkan selama tujuh hari berturut-turut melalui sambungan telepon. Ada yang lebih dari itu, tapi rata-rata tujuh hari sudah terbiasa. Kalau waktunya, biasanya kita missed call beberapa kali pada pukul 04.15. Jadi, mereka bisa siap-siap berwudu dan sebagainya,” jelasnya.

Rico melanjutkan, ketika mendapat missed call dari para mujahid subuh, orang yang dibangunkan tidak perlu mengangkat. Cukup di-reject. ’’Setidaknya kami tahu dia sudah bangun. Kalau diangkat  nanti kena pulsa,’’ lanjutnya.

Kebiasaan saling membangunkan saat subuh dan melaporkan kegiatan di waktu subuh pada akun @pejuangsubuh lama-lama terus berkembang. Jumlah anggota Pejuang Subuh pun terus bertambah. Akhirnya, bermunculan para Pejuang Subuh di berbagai kota.

Menurut Rico, saat ini sudah ada Pejuang Subuh Jakarta, Bandung, Tangerang, Depok, Bekasi, Medan, Surabaya, Pekalongan, dan Cirebon. Mereka juga kerap mengadakan acara, mulai dari Sholat Subuh Akbar berjamaah, seminar Islam, sampai main futsal bersama dalam acara ‘Safari Subuh dan Futsal’.

Menerbitkan Buku dan Meluncurkan Aplikasi

2014 lalu, perkembangan komunitas ini disambut baik dengan peluncuran sebuah buku antologi kisah Pejuang Subuh. Buku itu memuat kumpulan kisah nyata orang-orang yang istiqomah berjuang mengerjakan shalat Subuh berjamaah dan memperoleh keajaiban. Buku yang diluncurkan oleh komunitas Pejuang Subuh diharapkan bisa memotivasi umat Islam lainnya untuk terbiasa shalat Subuh. Para pemilik kisah nyata itu sendiri yang menuliskan cerita mereka. Buku yang diterbitkan Wahyu Qalbu ini bisa didapatkan di berbagai toko buku di Indonesia. Pejuang Subuh menyadari, pembiasaan ini bukanlah hal mudah. Di tengah jalan, pasti ada saja halangan. alhasil, Komunitas ini dijadikan wadah untuk saling menguatkan shalat Subuh berjamaah. Didot dan teman-teman butuh waktu  setahun mengumpulkan kisah-kisah itu.

Selain itu, awal Bulan Maret 2016 ini, Komunitas Pejuang Subuh meluncurkan sebuah aplikasi online bersama Pejuang Subuh Chating (PS Chatting). Sebagaimana di-launching pada akun twitter resmi mereka, aplikasi ini adalah wadah messaging di mana para anggota Pejuang Subuh bisa bebas mengobrol, saling tukar gambar, video, dan dokumen lainnya. PS Chatting juga bisa didownload di Playstore android, sehingga bisa digunkaan masyarakat umum yang bukan anggota Pejuang Subuh. Salah satu kelebihannya adalah bisa sync ke semua perangkat yang digunakan pada desktop, tablet, atau ponsel anda. Selain aman dan cepat, PS Chatting juga dilengkapi dengan cloud penyimpanan, sehingga riwayat pesan dan data dokumen tidak hilang.  

Terkait informasi  keanggotaan dan acara-acara yang dilakukan Pejuang Subuh di beberapa kota di Indonesia, anda bisa follow Twitter di @PejuangSubuh, Instagram di @pejuangsubuhid, dan website resmi di www.pejuangsubuh.org.(fau/dbs)

 

 


Back to Top